Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Ghaib


__ADS_3

Penumbra tidak terlihat sama di dunia lain yang sekarang di pijak oleh para manusia melewati perpindahan dimensi ghaib. Walau terlihat sama tapi tidak di rasakan lagi nafas segar bahkan kehangatan sang surya.


Di hutan belantara, Arya masih merasa hidup setelah terjatuh dari jurang dan terbentur batu besar. Dia tidak sadar bahwa sudah tidak merasakan sakit lagi pada lukanya.


Berjalan menuju Telaga Berkabut, memasang wajah ketakutan melirik kanan dan kiri. Dia membasuh wajah lalu minum sedikit air menghilangkan dahaganya. Dari dasar air banyak yang mengintai kedatangannya itu.


“Arya! Arya!” panggilan suara asing di telinganya.


Dia secepatnya berlari meninggalkan Telaga, sosok berbaju hitam tertawa cekikan terbang mengikutinya. Arya terus berlari sampai dia tersandung batu melihat banyaknya kuburan yang berjejer di depannya. Dia menjerit ketakutan, kuburan yang mengeluarkan asap itu mengeluarkan tangan dari dalam kubur.


“Arghh!” jeritnya berlari ke sisi garis hutan terlarang.


Dia berhenti melihat Gama sedang bersama wanita lain, dari balik pohon mengamati keduanya sedang saling menatap dan tersenyum. Arya mengatur nafasnya yang masih tersengal-sengal, memperhatikan lagi sosok wanita itu berubah menyeramkan tersenyum mengusap wajah Gama.


Mereka saling bergandengan tangan, berjalan meninggalkan tempat itu. Arya membuntuti dari belakang, dia menahan suaranya yang hampir berteriak memanggil nama Gama.


Berhenti di tepi Telaga Berkabut, mata Arya melotot melihat kelakuan Gama bersama sosok wanita menyeramkan itu masuk ke dalam Telaga sambil melakukan hal yang senonoh.


“Aku tidak menyangka si Gama melakukan hal seperti itu!” gumam Arya.


Dia berbalik perlahan meninggalkan tempat itu. Suara aneh menggema di depannya telah berdiri Gama yang hanya memakai celana boxer menatapnya. Tubuhnya penuh lendir, wajah pucat bergerak mendekatinya.


“Gama! Kau kah itu?” ucapnya bernada bergetar.


“Ya, tolong aku Arya! Aku baru saja di serang makhluk halus.”


“Bukan kah kau tadi di Telaga Berkabut?”


“Arya! Argghh!” penampakan sosok hantu berteriak di telinganya.


“Ahhh! Hantu! Ayo kita lari Gam!”


Langit berubah menjadi gelap, bayangan malam membentang jalan hutan dengan cahaya redup di selimuti asap dan kabut putih. Arya melihat sosok pria pembawa cangkul duduk di dekat akar raksasa berlumut. Perlahan Arya memberanikan diri berdiri jarak satu meter di dekatnya. Di punggungnya masih tetap sama, banyak belatung dan cacing yang menggeliat menebar bau busuk.

__ADS_1


“Kali ini aku harus berani” batin Arya.


Dia membalikkan tubuh melihat Arya dengan tatapan menantang. Dia mengangkat cangkulnya seolah akan membunuh dirinya. Sempat dia berpikir si pria misterius itu akan mengayunkan cangkul. Tangan Arya bersiap menutup kepalanya, dia melirik pria tadi tiba-tiba menghilang.


“Arya!” samar-samar suara Sandika terdengar dari kejauhan.


Dia berlari mencari sumber suara itu, keberadaan Sandika tepat di seberang Telaga Berkabut bersama cahaya kunang-kunang yang sangat terang mengitarinya. Arya melambaikan tangan menjawab panggilannya.


“San! Aku disini! Oy!” teriaknya.


Dia tidak melihat kehadirannya maupun suaranya yang sudah sangat keras. Arya berlari dalam sekejab Sandika tidak terlihat lagi.


Suasana alam yang berbeda di hutan misteri yang angker itu, orang-orang tidak sadar sedang berada di waktu kehidupan nyata dan tidak nyata mereka masing-masing. Selepas melihat Sandika, di pagi harinya Beben berdiri di depan tenda, dia melipat kedua tangannya di depan dada.


“Dari mana kau San?” tanya Beben menyelidik.


“Aku habis mencari udara segar, apakah Siti sudah siuman?”


Setelah melihat Sandika menuju tendanya, Beben menemui pak Babat yang terlihat sibuk menyalakan api. Dia memberitahu bahwa Sandika tadi malam sedang bersama seorang wanita berambut panjang yang memakai gaun selayar putih. Ekspresi terkejut mendengar perkataannya, dia mencengkram pundak Beben lalu berbisik.


“Bisa jadi manusia itu bukan lah manusia biasa. Cepat kau suruh dia menjauhinya.”


“Apakah dia salah satu penghuni di tempat ini pak?”


“Aku tidak bisa menduga lebih dalam. Pesan ku adalah jangan pernah mempercayai hal yang tampak indah di wilayah terkutuk ini, atau kalian akan mendapat bahaya.”


Mata bengkak Siti di dalam sadar dia membuka mata membayangkan Gama yang sudah melupakan janji padanya. Dia sudah tidak perduli lagi jika pria itu memang telah menghilang di hutan ataupun di Telaga Berkabut. Siti mengemasi barang-barangnya, dia keluar dari tenda meminta Sandika agar mengantarnya ke halte bus di pinggir hutan.


“Siti, apakah keputusan mu ini sudah bulat?” tanya Sandika.


“Ya, sejujurnya bukan kali kedua aku mendengar Gama bersama wanita lain. Pria buaya darat itu memang harus mendapatkan pelajaran. Seolah dia menyukai wanita lain yang berjenis manusia dan hantu!”


“Aahah! Siti! Kau lucu juga!” ujar Beben yang datang bersama pak Babat.

__ADS_1


“Sudah, sekarang kita antar Siti ke halte.


Setelah itu kita kembali lagi ke tenda.”


“San, menurut mu apakah kita tidak sekalian pulang saja?”


“Tolong! Tolong!” suara teriakan menggema di sekitar hutan.


Pak Babat dan lainnya berlari mencari suara tersebut. Siti meletakkan ranselnya dan ikut berlari dari belakang. Di perbatasan hutan terlihat lubang yang di dalamnya ada seorang pria minta tolong. Dia juga berteriak menyebutkan kata mayat. Pak Babat meminta Sandika mengambil tali di dalam tenda lalu menyuruh Beben menyalakan obor.


Pemandangan mengerikan saat api menyinari isi lubang. Ada pak Edi yang sudah lemas akibat terpatuk ular yang ada di dalamnya. Tidak hanya itu, mereka juga melihat mayat Bondan yang hampir membusuk.


“Cepat kita tolong pak Edi terlebih dahulu!” ucap pak Babat.


Saat berhasil mengangkat ke atas permukaan. Kaki kiri Edi di ikat sekencang-kencangnya dengan tali agar bisa ular tidak menyebar ke seluruh tubuhnya. Pak Babat menggores kakinya, darah hitam mengalir di tekan kuat hingga Edi melotot menjerit kesakitan.


“Tekan terus pada bagian ini, aku mau mengambil beberapa daun getah pengering luka.”


“Ya pak.."


Pak Babat sebagai orang yang di tua kan setelah mbah Baron yang mengetahui seluk beluk hutan hingga meminta ijin kepada penghuni hutan untuk mengambil beberapa helai daun. Sebelum memetik, dia memberikan sekuntum bunga kantil lalu mengucapkan terimakasih.


Kehidupan tumbuhan yang terikat kepemilikan makhluk halus di wilayah angker itu tidak bisa di pisahkan terhubung alam ghaib. Pak Babat menumbuk daun, dia meletakkan pada luka. Edi juga di minta menelan sisa dari tumbukan daun itu. Pak Babat memaksanya hingga menepuk kuat pundaknya agar semuanya tertelan.


“Jangan banyak bergerak!” kata pak Babat.


Beben sangat shock melihat mayat Bondan, pria itu bersembunyi di balik tubuh Sandika sampai menenggelamkan wajah di punggungnya.


“Hei Ben cepat kau bantu aku mengangkat mayat Bondan” ajak Sandika.


“Tidak! Aku tidak berani."


“Siti, kau jangan mendekati lubang itu. Kemungkinan masih ada ular di dalamnya. Biar bapak dan Sandika saja yang memeriksanya.”

__ADS_1


__ADS_2