
Pilihan mana yang harus dia putuskan?
Kini beban di pikiran bertolak belakang pada hatinya. Memikirkan ulang tentang nasehat ustadz Musta atau amarah Rambe seolah mengingat semua kebaikan Murga padanya di tahun ini dan sebelumnya hanya sia-sia. Keinginan Murga adalah pria itu bahagia di sela urusan dua dunia yang berbeda.
“Sandika, jangan dengarkan ucapan Rambe. Cepat pergi!” gema suara Murga yang tidak terlihat olehnya.
Sandika masih duduk bersandar di salah satu pohon dekat Telaga. Kabut menyebar di kegelapan malam. Hati teguh tidak tega meninggalkan wanita yang dia cintai demi menikahi wanita lain. Suara gemercik air terdengar suara orang sedang mandi. Dia menyorot senter ke Telaga, sosok makhluk menampakkan wujudnya menatap tajam. Dia keluar dari dalam terbang, tubuh mengerikan mendekatinya. Gerakan yang cepat, dia mengeluarkan kuku tajam memangsa Sandika membawanya terbang ke salah satu pohon terbesar.
Dia pun mengucapkan ayat kursi, tubuhnya di banting ke dari ketinggian di tangkap Murga menghilang terbang menjauh darinya. Bersama angin mereka bersama saling menatap berpelukan erat. Wajah pucat yang dia rindukan sedikit terobati.
“Aku mencintai mu.”
Kalimat yang di tunggu Murga. Sosok itu mengangguk, dia menunjukkan rasa cinta melebihi Sandika dengan mengikhlaskan nya bahagia tanpa memaksa mereka bersatu di dalam cinta terlarang. Murga tidak mau Sandika menjadi manusia yang sesat.
“Aku selalu berharap kebahagiaan mu. Sandika, kembali lah ke dunia kita masing-masing.”
“kini kau selalu menolak mengacuhkan ku.”
“Tidak, kita dua tempat yang hidup berbeda. Sandika, aku mengetahui keinginan manusia itu, sosok yang memasang paku, aku sudah melupakan semua masalah yang terjadi. Menikahlah dengan wanita itu.”
“Tidak Murga.."
“Aku tetap hidup di hati mu dan selamanya milik mu. Aku pernah berharap lebih hingga suatu hal menyadarkan ku. Engkau harus bahagia dan terlepas dari kutukan Telaga Berkabut. Kalau kau mencintai ku maka turuti lah semua permintaan ku.”
Suara pekikan Rambe terdengar memanggil Murga. Sandika di bawa pergi terbang sampai di depan halaman pak Kadi. Tidak ada kata perpisahan karena keduanya yakin akan bertemu kembali walau dengan kehidupan yang telah mereka pilih.
Keesokan harinya Sandika dan para anggotanya bersiap pulang. Bu Ima menghidangkan sarapan lagi di meja makan. Makanan ciri khas kampung itu banyak di campur bumbu lengkuas beraroma harum. Bi Ima juga membawakan mereka oleh-oleh beberapa botol minuman segar gula aren juga berbagai macam hasil panen dan perkebunan.
“Terimakasih telah menerima kami disini pak, bu.”
__ADS_1
“Sama-sama nak, semoga kamu tetap ingat bapak dan ibu.”
“Ya bu, oh ya saya menunggu kabar keputusan pak Kadi hingga lusa.”
......................
Di tengah perjalanan pulang, Sandika menetap kan permintaan dari Murga. Dia harus mengabulkan permintaan Warid agar arwahnya tenang. Memikirkan nasib anak angkatnya gadis kecil bernama Ceri.”
Menikah dengan orang yang tidak dia cinta, memikirkan keselamatan dan nasib anak angkatnya di dalam amanah yang harus di jalankan. Pada hari itu pula Sandika pergi ke rumah Rina untuk menyampaikan maksud tujuannya. Sebelum tiba, dia berhenti di salah satu toko roti untuk di bawa ke rumah Rina.
Di ruang tamu, Sandika menghadap ke dua orang tua wanita itu. Ayah kandungnya pak Supar dan ibu tirinya Minah. Dia menyodorkan oleh-oleh yang di belinya tadi, perlahan mengatakan ingin meminta ijin untuk menikahi Rina. Mereka baru saja berduka mengalami musibah, sesuai adat yang berlaku bahwa kita tidak boleh melangsungkan acara pernikahan di tahun yang sama sebuah kematian musibah di tempat yang sama di rumah itu.
“Kalau begitu saya akan menunggu jawabannya di tahun depan om.”
“Bagaimana dengan keputusan mu Rina?”
......................
Natih tersenyum lebar mendengar kabar bahagia Sandika akan mempersunting anaknya. Dia langsung menanyakan hari baik pada salah satu dukun untuk hari baik mereka melangsungkan acara pernikahan. Wanita berhati dingin itu tidak memikirkan si calon besan baru saja mengalami musibah, dia berniat menelepon memberitahu hal-hal apa saja yang perlu di bawa Sandika. Natih tidak akan melepaskan kesempatan emas mendengar calon menantu seorang pengusaha yang kaya raya.
Wanita yang sudah tidak sabar menerima harta berlimpah, menimbun harta sebanyak-banyaknya. Dia mengatakan bahwa Sandika harus membawa dua ribu gram emas, dua ratus puluh ekor kerbau dan seratus ekor kambing tambah Uang seserahan secara khusus senilai dua miliyar rupiah.
“Sudah di catat kan semuanya, ibu tutup telponannya ya. Ahahah” ucap Natih.
Membayangkan tumpahan uang tanpa harus bekerja luntang lantung membiasakan dirinya menghalalkan segala cara termaksud menjadi seorang kata pelakor. Rina dan Cerry masih menginap di rumah ayahnya. Dia sedikit risih melihat ibu tiri Minah menekuk wajah tidak memperdulikan kedatangannya.
“Apakah kau merestui pernikahan mereka?” tanya Minah kesal sambil menutup membanting jendela dengan keras.
“Rina sudah dewasa, dia dapat menentukan jalan hidupnya sendiri. Aku tidak bisa terlalu keras dengannya. Aku tidak mau di hantui sosok penghuni Telaga berkabut” jawab Supar.
__ADS_1
💀
💀
💀
Sosok asing pengganggu perbatasan
Melambaikan tangan, meminta tumpangan, menebar senyuman menggoda pada salah satu tukang becak sepeda angin yang melintas. Pria itu berhenti memberikan Lina tumpangan, dia tertawa kegirangan, pada malam yang dingin bertemu dengan penumpang cantik.
“Mau kemana non?”
“Ke jalan gang sebelah dekat pohon kantil pak.”
Oyok mengayuh sepeda becak gerakan tubuh mendekat ke wanita itu sambil mencium aroma tubuhnya yang khas. Wangi bunga semerbak, dia mengusap rambut panjangnya dari belakang. Wanita itu menoleh hanya tersenyum. Di depan sana, dia di tawari masuk ke dalam sebuah rumah yang mewah. Bangunan berasitektur ciri khas bangunan klasik. Dia membuka gerbang besar, tangan Oyok di tarik masuk ke dalam rumah. Di depan pintu dia sudah di sambut pria tua melotot memperlihatkan wajah mengerikan hingga dia pingsan.
“Bocah selemah ini, apa bisa aku jadikan tempat tinggal badan halus ku?” ucap sosok ki Gendeng.
“Kita coba saja Ki.”
Oyok berbaring di sebelah jasad Ki Gendeng, tubuh keduanya tanpa pakaian hanya di tutupi selembar kain kafan. Sepeninggal ki Gendeng, dia menghipnotis menggunakan ilmu hitamnya menundukkan dua manusia sebagai pembantunya di dunia. Mayat yang sudah tertanam di bongkar, di tempatkan di sebuah kotak peti mati kemudian setiap hari di siram dengan air mantra dan bunga.
Mereka mulai menjalankan ritual penukaran jiwa. Sosok ki Gendeng mengucapkan mantra, saat ritual sudah hampir selesai mata si pemuda itu terbuka tersadar menyadari tubuhnya sudah berada di dalam badan pria asing.
“Hei kembalikan tubuh ku!” jeritnya.
Suaranya tidak terdengar oleh siapapun. Dia berada di tubuh mayat yang sudah lama meninggal sedangkan tubuhnya sendiri berdiri tersenyum melihat sosok yang dia tempati. Ritual terakhir adalah menanam kembali jasad di bantu dua pria pembantu ki Gendeng.
“Tidak! Aku belum mau mati!” teriak Oyok.
__ADS_1