Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Tipuan Rambe


__ADS_3

Semula Beben berpikir bahwa Sandika berubah drastis setelah kehidupannya yang kaya raya. Dia membalas kejahilan sahabatnya itu, wajahnya berpura-pura di tekuk lalu membuang pandangan ke arah lain. Sandika tersenyum mengetahui sifat lama Beben yang tidak pernah berubah. Dia menyodorkan sebuah kotak berwarna orange, mendorong lebih dekat ke hadapannya.


“Apa ini?” Tanya Beben.


“Untuk mu si sahabat lama ku. Buka lah isinya.”


Dia terkejut melihat isinya, sebuah jam tangan bemerek dan sebuah cincin perak. Dia memasang di pergelangan tangan dan jarinya. Lingkar cincin yang pas, warna jam terlihat mewah di tangannya yang berkulit sawo matang.


“Kamu suka nggak Ben?”


“Suka banget, thank’s bro.”


Sepanjang hari mereka membicarakan kehidupan dan hal-hal sederhana lainnya. Pembicaraan keduanya terputus ketika membahas para sahabatnya yang telah pergi. Mengenang Herman, Arya dan Gama, terutama sosok yang selalu membawa kunang-kunang membantunya melewati gelapnya hutan.


“San, aku dengar kau ada rencana datang ke tempat itu lagi.”


Surat kabar berisi berita pembangunan masjid, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan dan renovasi rumah warga. Pengusaha muda Sandika membangun semua itu secara Cuma-Cuma tanpa memungut pajak dan biaya serta membuka lowongan pekerjaan secara besar-besaran disana. Proyek pembangunan yang di rencanakan berlangsung di selesaikan kira-kira dalam jangka waktu satu tahun.


“Ya engkau benar Ben, aku sudah merencanakan jauh hari untuk kesejahteraaan perkampungan itu.”


“Lalu bagaimana dengan hutan dan Telaga Berkabut? Sebaiknya tempat itu di jadikan objek wisata.”


“Tidak Ben, tempat itu harus tetap seperti sedia kala. Aku tidak mau merusak kelestariannya” ucap Sandika.


...----------------...


Lina yang mengetahui semua rencana anak angkat Harun, dia tidak senang dengan semua kesuksesan dan kelancaran perusahaan serta bisnis yang di pimpin dalam pengelolaan meningkat oleh Sandika. Dia mencari cara untuk menghancurkan semua usahanya itu. Dendam berkarat di masa lalu masih tersemat bahkan semua hal yang menyangkut Harun dan keluarganya harus dia hancurkan.

__ADS_1


“Erik! Cepat jalan kan rencana ku!” teriak Tina di dalam panggilan telepon.


“Baik Nyonya.”


Rencana awal merusak pembangunan, Lina mengirim dua puluh preman untuk menghalangi para pekerja yang mengangkut bahan dan membawa alat berat saat menuju perjalanan kesana. Memberi palang di perbatasan perkampungan.


Para pekerja itu di hajar habis-habisan, kendaraan dan semua barang di rusak sampai akan di bakar. Suara sirine polisi yang datang mengagetkan para preman yang masih sibuk melakukan tugas criminal mereka.


“Ayo cepat kita pergi!” teriak ketua geng preman tersebut.


Aksi kejar-kejaran di lintas umum, para preman itu berhasil lolos saat mengalihkan kendaraan mereka ke sisi jalan yang padat akan lalu lintas para pengendara.


...----------------...


Dunia kelam Paijo dalam tipuan Rambe.


Pernah suatu hari ada tiga perampok yang masuk ke dalamnya. Keesokan harinya para perampok meninggal dengan tubuh membiru seperti di lilit ular. Banyak yang mengatakan Paijo menggunakan pesugihan sehingga setiap tahun anggota keluarga atau para pekerjanyaa di jadikan tumbal dan meninggal dengan keadaaan yang sama.


Tanah kuburan Eni masih merah, dia sudah mempersunting salah satu gadis kampung yang usianya tiga puluh tahun lebih muda dari dia. Seiring berjalan waktu, dia memilik tiga orang anak tapi setiap tahun anaknya satu-persatu meninggal terlihat kematian yang sama seperti di patuk dan di lilit ular.


“Siapa lagi yang akan menjadi tumbal berikutnya?” bisik-bisik para warga.


Para perkerja di rumahnya mendapatkan bayaran yang mahal. Walau mereka mengetahui akan berakhir tragis atau di jadikan tumbal oleh sang majikan. Ekonomi yang sempit di tambah harus menafkahi anak istri, para pekerja di rumah Paijo pasrah akan nasib mereka.


Besok malam tepat di akhir tahun, tumbal berikutnya yang di pilih adalah Cantika. Istri muda Paijo yang sangat dia cintai. Dia menolak memberikan persembahan itu, meminta menggantinya dengan para pekerja yang berada di dalam rumahnya.


Paijo duduk di ruangan rahasianya, dia tidak henti memohon kepada siluman hantu agar membatalkan niat mengambil nyawa Cantika.

__ADS_1


“Paijo, aku memberikan mu banyak kekayaan emas dan berlian tanpa menghitung jumlahnya. Kenapa sekarang kau mengabaikan permintaan ku?”


“Kanjeng ratu, ku mohon jangan ambil Cantika. Dia sedang mengandung anak ku.”


“Paijo! Kalau begitu anak mu sebagai penggantinya. Ahahah!”


“Tidak! Ratu!”


Paijo tidak mau kehilangan istrinya, dia lebih mengikhlaskan bayi yang berada di dalam kandungan Cantika. Tepat di malam yang bercuaca buruk, Cantika mulai merasakan kontraksi, air ketubabannya pecah. Cantika menangis memanggil Paijo, pria itu tampak panik berlari mengangkatnya masuk ke dalam mobil.


“Lama sekali kau menyetir mobilnya!” bentak Paijo pada supirnya.


“Maaf tuan, hujannya sangat deras membuat mengganggu pandangan” jawabnya.


Di depan ruangan operasi, Paijo mondar-mandir menunggu sambil mengusap kepalanya sendiri. Dia ingat terahir kali akan permintaan sosok penguasa yang menginginan istrinya. Sudah dua jam berlalu tapi suara tangisan bayinya belum terdengar juga.


“Apakah bayi itu yang di ambil oleh si kanjeng ratu?” gumam Paijo.


Dokter keluar ruangan, dia menghampiri Paijo terlihat raut wajahnya yang serius menatapnya.


“Bapak harus mengikhlaskan kepergian anak dan istri bapak. Awalnya kelahiran bayi laki-laki bapak tidak bisa tertolong, dia meninggal karena terlalu banyak terminum air ketuban di samping kondisi kelainan pada jantungnya. Sedangkan istri bapak kondisinya sangat lemas sehingga meskipun operasi cesar berjalan dengan lancer tapi nyawanya tidak bisa di selamatkan.”


Mendengar perkataan dokter tersebut, Paijo memukul kepalanya sendiri. Dia menangis lalu berlari menuju ke ruangan Cantika. Dia membuka kain hijau yang menutupi, wajahnya seharusnya pucat. Tapi Nampak membiru, pada bagian leher seperti habis di lilit ular.


“Ini pasti campur tangan kanjeng ratu! Maafkan aku Cantikan, aku telah menjadikan mu tumbal walau dari awal aku sudah menolaknya. Sekarang anak ke empat kita juga ikut tiada” batin Paijo.


Kanjeng ratu siluman ular yang geger di bicarakan warga itu adalah sosok hantu Rambe yang menipu pandangan manusia di balik sosoknya yang lain. Dia akan terus mengincar hawa murni, darah daging manusia di samping membalaskan dendamnya.

__ADS_1


Rambe membisikkan kata-kata setan untuk menyesatkan warga kampung. Berpikir akan di di habisi oleh si kanjeng ratu yang dia puja. Paijo yang sudah gelap mata memutuskan untuk meneruskan pesugihan dan memperbanyak mempersunting wanita yang mirip dengan Cantika untuk di jadikan calon tumbal berikutnya.


__ADS_2