
Sepeninggal Tio dengan keadaan gantung diri di samping siksaan yang mengerikan itu, satu persatu para pekerja angkat kaki tanpa meminta ijin dari Paijo. Beberapa di antara dari mereka bahkan ada yang mencuri barang berharga untuk ongkos pulang kampung. Disana yang tersisa tinggal si mbok, dia mengetahui segala seluk beluk mengenai rahasia rumah besar itu.
Bisik-bisik tetangga membicarakan rumah pesugihan geger sering terlihat penampakan makhluk halus di sekitarnya. Terakhir kali seorang wanita yang keluar seperti orang gila dari sana. Enam orang ibu-ibu sepulang berbelanja berhenti mengamati rumah besar itu. Tampak empat orang wanita berpakaian sangat seksi keluar rumah masuk ke salah satu mobil yang terparkir di depan rumah.
“Lihatlah, rumah itu sangat kotor. Rumah pesugihan di tambah perkumpulan rumah wanita bayar. Lama-lama kampung ini menjadi tercemar akibat ulah Paijo.”
“Ya, kita beritahu warga lainnya saja.”
“Kemana kita akan berbelanja?” tanya Leni.
“Ke Mall yang berada di pusat kota saja. Aku sudah tidak sabar menghabiskan semua uang ini. Ahahah” jawab Bunga.
“Kalau tujuan ku yang utama adalah berbelanja perhiasan sebanyak-banyaknya” kata Keke sambil melihat katalog perhiasan.
“Apa tidak sebaiknya kita mencari si Jesi? Dia menghilang selama berminggu-minggu lamanya. Walau bagaimanapun dia bersama kita ke rumah besar ini” ucap Floren.
“Aku malah bersyukur di antara kita berkurang satu dalam saingan mendapatkan posisi pertama di rumah itu” gumam Leni.
Tidak ada yang menjawab pertanyaan Floren, mereka hanya sibuk dengan urusan masing-masing. Ketika menyetir, pandangannya beralih melihat kerumunan para warga yang menatap rumah Paijo. Diantara orang-orang yang berdiri itu terlihat sosok aneh tertawa menyeringai melihatnya. Sejak saat itu suhu tubuh Floren panas dingin, sepanjang perjalanan dia selalu memegang kepalanya yang pusing.
Mereka menghabiskan tumpukan uang pemberian Paijo dan tumpukan lain yang tersimpan di dalam nakas. Kepuasan diantaranya sampai pada suatu malam Floren yang tidak bisa lagi menahan rasa pusing bercampur tubuh menggigil kedinginan berajalan sempoyongan mencari obat di kotak P3K.
Dokter yang dia panggil tidak kunjung datang, kotak P3K juga tidak dia temukan. Saat akan kembali ke kamar, dia mendengar suara ******* suara Paijo. Dia mencari sumber suara itu, tepat di lantai paling atas, kamar yang tidak boleh di jamah oleh siapapun tampak terang benderang dari sela bawah pintu.
Floren menempelkan telinga ke pintu, suara Paijo semakin jelas terdengar. Dia memegang batang pintu, mendorong perlahan mengintip siapa saja yang berada di dalamnya. Alangkah terkejutnya dia melihat paijo sedang bersenggama dengan sosok ular besar di atasnya.
“Arrgh! Arhh!! Mas Paijo!” suara teriakan Floren ketakutan.
__ADS_1
Dia di dorong oleh si mbok masuk ke dalam lalu mengunci pintu dari luar. Floren di santap habis oleh sosok Rambe, tidak ada Paijo di dalamnnya. Tipuan yang di lakukan Rambe mencari mangsa karena sudah sangat haus akan darah daging manusia.
“Wahai ratu ular, jangan makan aku atau menjadikan ku tumbal. Aku sudah menyiapkan makanan untuk mu” gumam si mbok.
Setiap hari dia ketakutan jika sewaktu-waktu akan menajdi tumbal berikutnya. Mala mini hampir saja nyawanya melayang jika tidak di gantikan oleh Floren. Walau harus menghadapi maut setiap hari, si mbok tidak ikut pergi dari rumah itu seperti para pekerja lainnya. Dia sudah berusia ujur dan tidak mempunyai sanak saudara atau tempat tinggal.
Suara klakson mobil parker di depan rumah, Paijo kembali dari tugas di luar kotanya. Ketika dia membuka pintu, rumah sepi dan sangat berantakan.
“Kemana perginya semua pekerja?” gumamnya.
“”Leni! Jesi! Keke! Floren! Bunga!” teriak Paijo memanggil mereka.
“Eh mas paijo!” ucap Keke.
“Mas kemana saja, kami rindu!” Bunga mengusap punggung dan dadanya.
“Sayang” suara serak Leni menggodanya.
“Tidak tau mas.”
Paijo tidak menyadari dua wanita itu sudah meninggal di bunuh oleh sosok Rambe. Dia asik bermain dengan ke tiga wanita itu hingga dia tertidur pulas. Dia berpikir setelah memenuhi syarat dari sosok si ratu ular maka semua urusan lancar tanpa ada gangguan. Tidak setelah dia menolak tumbal yang di inginkan pada waktu lalu.
“Paijo! Paijo! Beri aku tumbal dari salah satu wanita itu” gema suara yang tidak tidak terlihat oleh nya.
Mata Paijo melotot, dia berjalan menuju kamar rahasianya. Dia terkejut melihat ubin bersimbah darah, baju salah satu dari wanita itu juga berlumur darah.
“Milik siapa ini?” gumamnya.
__ADS_1
“Ratu ku, apa yang terjadi dengan pemilik baju ini?”
“Dia sudah lancang masuk ke kamar ku ini kau pasti tau akibatnya! Ahahahh”
Yang tersisa tinggal tiga wanita di dalam rumah itu, siapa yang akan menjadi tumbal selanjutnya?
Paijo menikahi ketiga wanita itu, meski pernikahan secara tertutup dia menyiapkan isi perabotan sangat mewah lengkap dengan segala kebutuhan mereka. Keesokan paginya Keke meninggal tepat setelah Paijo keluar dari kamarnya. Rongga mulut terbuka mengeluarkan ular kecil.
“Aku mendengar perkataan salah satu warga menyebutkan mas Paijo menggunakan pesugihan ratu ular” ucap Bunga.
“Jika memang dia menggunakan pesugihan, tinggal kita dua yang salah satunya akan menjadi calon berikutnya” kata Leni sambil mengetuk dagunya.
“Kita harus segera pergi dari rumah ini.”
“Sebelumnya kita harus mengambil semua uang pria tua itu.”
Rencana keduanya di jalankan pada malam hari, Tepat setelah melihat Paijo tertidur pulas. Leni meraih kunci dari balik bantalnya pria itu refleks mencengkram tangan Leni. Dia membanting tubuhnya di lantai, suara teriakan Leni terdengar Bunga. Wanita itu meraih ransel yang berisi tumpukan uang keluar rumah.
“Maafkan aku Leni, jika aku membantu mu maka sama saja aku akan di bunuh oleh mas Paijo” gumamnya.
“Tolong!”
Suara Leni terdengar keras sampai keluar rumah. Bunga melarikan diri ketakutan mencari arah jalan keluar dari perkampungan itu. Dia hanya berputar-putar di sekitar halaman rumah. Paijo menghajar Leni, wajahnya sudah rusak terkena pecahan vas bunga.
“Kau pikir bisa lepas dari ku setelah menikmati semua uang ku?” ucap Paijo.
Dia memasukkan Leni ke dalam ruang rahasia, suara ketakutan Leni melihat sosok menyeringai menancapkan taring ke lehernya dan mengambil organ tubuhnya. Paijo keluar rumah mengejar Bunga, dia menarik wanita itu, memasukkan ke kamar khususnya. Dua santapan segar dalam satu malam untuk makhluk yang dia puja.
__ADS_1
“Terimalah persembahan ku wahai ratu ku yang agung. Ahahah.”
Melihat di rumah itu sudah tidak ada lagi tumbal yang akan di persembahkan, si mbok menyediakan racun yang sudah dia persiapkan jauh hari. Di benaknya lebih baik bunuh diri berakhir arwahnya yang penasaran dari pada mati menjadi pengikut setan yang arwahnya abadi di dalam kesesatan. Si mbok meneguk habis racun, dia menghembuskan nafas terakhir, mulutnya mengeluarkan buih, sepasang mata terbuka.