
Warid menyusulnya dengan harap cemas yang nyata melihat Harun pingsan dengan wajah yang sangat pucat. Kali ini dia mencoba menahan keegoisannya untuk memiliki Harun seutuhnya seperti di masa lalu. Sabar sekali menekan perasaan, harapan cemas dalam musibah yang masih menenggelamkan wanita itu dalam kesedihan.
Karena fasilitas medis yang tidak memadai, Harun di bawa ke rumah sakit. Warid dan para penjaga mengikuti dari belakang. Mereka menempatkan Harun di sebelah ruangan Herman. Warid mencari segala upaya mengobati keduanya, hingga salah satu penjaga terdekatnya menyampaikan alamat seorang yang memiliki ilmu spiritual.
“Tuan, saya tidak yakin orang ini bisa menyembuhkan, tapi setidaknya kita harus mencoba.”
“Ya kau benar, besok kita akan kesana.”
Di dalam sana masih bersemayam penghuni penunggu pemangsa jiwa yang kosong. Herman koma di dalam tidur panjangnya. Sukma gentayangan mengalami mimpi buruk tidak bisa terbangun. Mencoba masuk kembali ke dalam tubuh tapi dimensi ruang alam lain menghalangi.
“Herman anak ku!” lirih suara Harun memanggil di dalam tubuhnya yang terkulai lemah.
“Jangan banyak bergerak, engkau harus secepatnya sehat. Bukan kah kau menyayangi Herman? Kenapa kau ke Telaga terkutuk itu?”
Banyak sekali pertanyaan dari Warid. Pria itu menuntut tindakan Harun yang hampir membunuh dirinya sendiri.
“Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana pentingnya kehidupan Herman bagi ku. Dia harus hidup meski nyawa ku taruhannya” jawab Harun.
“Kalau seperti itu menurut mu biar aku saja sebagai penggantinya.”
“Tidak.!”
...----------------...
Di sisi lain di perkampungan mencekam
Di antara kuku setan yang bertebaran itu, ada cahaya hitam yang di selipkan oleh Rambe. Tidak ada yang bisa menghalangi jalan kehendaknya untuk merenggut hawa murni manusia. Kali ini dia menumpahkan amarah di dalam sosok lain yang di utus untuk mencelakai Sandika.
“Kau tidak bisa melindungi manusia itu setiap saat, ahahah.”
“Apa yang telah kakak lakukan?”
“Aku hanya mencoba menguji imannya.”
__ADS_1
“Kakak, ku mohon jangan sakiti Sandika.”
Salah satu cahaya kunang-kunang hitam itu berubah menjadi sebatang emas. Sandika berhenti memainkan pianika melihat kilauan emas tersebut. Mata pria itu tidak berubah menghijau malah mengernyitkan dahi setelah melihat emas yang seharusnya bisa mengubah hidupnya. Bahkan amplop berisi uang yang di berikan oleh Harun belum dia sentuh sedikitpun isinya. Pria yang tidak haus akan kekayaaan, dia melanjutkan langkah meninggalkannya.
“Sandika.”
“Sandika mendekat lah.”
Sosok Rambe tidak henti menggoda, kini dia menjelma menjadi sosok Murga. Sandika menoleh melihat Murga membalas senyumannya. Sandika merasa dia bukan sosok wanita pembawa kunang-kunang yang biasa dia temui. Uluran tangan, senyum menyeringai dan tatapan yang lebih tajam. Sandika tidak membalas uluran tangan itu. Dia membalikkan tubuh, mata terpejam terlihat jelmaan sosok berbaju merah.
“Kau bukan lah Murga” gumamnya.
...----------------...
Mempelajari ilmu yang sama seperti si juru kuncen. Si Kam setengah mati menjerit kesakitan saat tubuhnya di rasuki oleh si penunggu benda keramat. Dari dalam, hawa murni manusia itu di serap habis menyisakan tubuh kurus kering. Darahnya yang segar berwarna merah berganti hitam menonjol urat hitam pada bagian leher sampai ke tangan.
Tahap demi tahap, ritual dan syarat yang harus dia jalani demi menyempurnakan ilmu. Keris yang semula terasa dingin itu berubah sangat panas menimbulkan bara api. Kam berhasil berhasil mendapatkan ilmu tersebut. Di malam yang hening, dia tertawa terbahak-bahak sambil mengangkat keris ke atas langit.
“Kini aku bisa membalaskan dendam ku!"
Penampilannya yang berbeda berdiri di depan rumah Edi. Dia menawarkan pengobatan melalui keris keramat. Orang pertama yang dia coba adalah Edi, pria itu masih lemas terkulai di samping pak Babat yang masih sibuk meramu tumbuhan herbal.
“Maaf bukannya aku ingin melangkahi orang yang di tuakan di kampung ini. Tapi ijinkan aku mencoba untuk membantunya” ucap Kam.
Tanpa menunggu persetujuan dari jawaban pria itu, dia berkomat-kamit menghidupkan dupa pada wadah yang terbuat dari batok kelapa. Mereka terkejut melihat Kam menggunakan keris keramat kepunyaan si juru kuncen.
“Lihat lah, pak Edi tampak normal kembali” ucap Tedi.
“Ada yang aneh darinya” bisik Kadi.
Pak Babat menutupi luka dengan tumbuhan herbal yang sudah dia ramu. Dia tidak mau terbawa ikut berpikir buruk setelah para warga yang menyaksikan itu mengatakan hal yang tidak-tidak terhadap Kam. Kini yang terpenting adalah kesembuhan Edi.
“Tenang semua, sebelumnya kita harus mengucapkan terimakasih pada pak Kam. Mengenai pertanyaan kalian, satu-persatu harus bertanya secara baik-baik mengapa keris itu bisa sampai di tangannya” ucap pak Babat.
__ADS_1
“Pak, bukan kah sudah jelas kalau kematian si juru kuncen pasti ada hubungannya dengan dia?”
“Sekarang cepat jelaskan Kam mengapa keris itu bisa di tangan mu?”
Pertanyaan warga yang menyerangnya, di sisi lain sosok penghuni yang bersemayam dalam keris menunggu sang majikan menggunakan benda keramat itu.
“Aku bukan lah tersangka pelaku pembunuhan si juru kuncen. Keris ini datang sendiri pada ku dan memberikan ku wangsit untuk menggunakannya” kata Kam.
Kebohongannya itu menutupi kenyataan bahwa keris itu dia ambil dari tangan mayat Bondan. Menimbang pria itu benar bisa bahkan menyembuhkan Edi, para warga mendengarkan perkataan pak Babat. Mereka juga menjadikan Kam sebagai pengganti si juru kuncen.
Perihal berita mayat Bondan yang di temukan secara mengenaskan itu di tutupi rapat-rapat. Setelah pergantian si juru kuncen kedua, sebagian warga kampung yang mengetahui kesaktian si juru kuncen baru membuat mereka kembali menempati rumah mereka masing-masing.
“Lihatlah manusia sombong itu semakin mendongak mengangkat wajahnya yang sombong. Tunggu saja, aku akan segera mematahkan lehernya.”
“Rambe, aku tau kau sudah merenggut anak dan istrinya. Kelahiran anaknya sudah kau binasakan dengan hasrat yang tidak bisa kau tahan.”
Peringatan Gumamtong yang dia abaikan, sosok Rambe memulai peperangan baru dengan si juru kuncen.
...----------------...
Rumah bangunan tua terbuat dari gedek dan atap rumbia. Di sampingnya ada pohon besar banyak bergantungan plastik di kemuruni lalat hijau. Warid bersama dua orang penjaganya berdiri di depan pintu menunggu pemilik rumah itu keluar.
“Tuan, sepertinya tidak ada orang di dalamnya” ucap Don.
“Awas tuan!”
Hen mendorong Warid menghindari ular hitam yang melata masuk ke dalam rumah. Suara desisnya menghilang berganti panggilan suara pria menyuruh mereka masuk. Mengepul asap di dalamnya, Warid tidak tahan karena nafasnya sesak terbatuk hingga mengipas menggunakan kedua tangannya.
“Permisi pak, uhuk! Uhuk!”
Warid duduk masih berdiri di depan pintu, sosok pria itu tampak melotot mengamati mereka.
“Dasar orang kaya tidak tau sopan santun, walau gubuk ku ini sederhana tapi kau harus melepaskan alas kaki mu!” bentaknya.
__ADS_1
“Maaf pak.”
Warid dan kedua penjaganya langsung melepas sepatu dan meletakkannya di luar.