Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Merenggut jiwa lagi


__ADS_3

Lina melemparkan vas bunga mengenai kening Jon. Darah mengalir di tepis badan membungkuk meminta maaf. Dia sudah pasrah menerima semua amarah Lina. Setelah puas meluapkan semua amarahnya, Jon di perintahkan menjalankan misi kedua. Dia menekan luka menggunakan dasinya dengan sabar mendengarkannya.


“Ingat kalau kau gagal lagi maka aku akan memenggal kepala mu itu!” ucap Lina kasar bernada membentak.


“Akan saya ingat dan laksanakan semaksimal mungkin nyonya” jawabnya.


Jon menemui seorang dukun bersama salah satu body guard yang letaknya di dekat jembatan merah. Mobil mereka yang akan mendekat ke arah rumahnya berputar ke sisi kiri menepi di dekat pepohonan. Terlihat Warid di ikuti tiga orang penjaganya di belakangnya. Ada pria tua berjanggut panjang memakai ikat kepala hitam.


“Ada keperluan apa tuan Warid juga menemui dukun itu?” gumamnya.


“Rem, apa kau yakin dukun tua itu sakti? Dari kejauhan pria tua di dekat ruan Warid tampak biasa saja.”


“Ya tuan, karena menurut kabar yang beredar bahwa dia adalah dukun sakti yang bisa membunuh seekor gajah dari jarak jauh tuan” jawab penjaga Rem.


“Aku di perintahkan nyonya Lina untuk membunuh manusia, bukan hewan! Kalua begitu kita cari orang sakti lain saja.”


“Tunggu tuan, hal itu hanya perumpamaan saja. Tidakkah tuan ingin mengetahui apa yang sedang di lakukan tuan Warid disana?”


“MMhh, sekarang kau sudah pintar membujukku.”


Melihat Warid dan para penjaganya pergi, mereka secepatnya menghampiri si dukun. Raut wajah mencurigakan di sambut tatapan sinis.


“Mau apa kalian?” tanya pria tua itu.


“Permisi Ki, kami ingin minta tolong” ucap Jon.


“Aku mencium aroma darah, apakah kalian berniat ingin membunuh seseorang?”


“Luar biasa, dia langsung tau sebelum aku mengutarakannya!” batin Jon.


“Maaf Ki, bisa kita bicarakan hal ini di dalam?”


Mengambil hati si dukun perlahan langkah mereka masuk ke dalam sebuah ruangan terbuat dari bambu di kelilingi lilin. Ada tengkorak yang berdiri di setiap sudutnya, hal yang paling menyeramkan di atas meja merah ada kepala tengkorak tiada henti mengeluarkan darah. Dia memberikan foto Sandika sesekali menahan aroma busuk menyengat pada tengorak. Si dukun menerima foto itu, dia mengasapi foto di atas bakaran kecil di tabur berbagai macam bunga.


“Kau tau siapa pria ini?”

__ADS_1


“Dia adalah anak anak bu Harun Ki” jawab Jon.


“Dia memiliki pelindung ilmu putih dan di jaga sosok hitam yang mengerikan! Jika kau ingin aku membunuhnya maka kau juga ikut mati!”


“Apa? Tapi nyonya Lina yang memerintahkan ku Ki.”


“Siapapun yang memerintahkan mu tapi kau yang akan menjalani ritual itu. Ini adalah daftar bahan ritual yang harus kau bawa besok malam.”


Sepanjang perjalanan Jon menekan kepalanya yang terasa semakin sakit. Darahnya masih mengalir, dia mengobati luka yang sudah tidak bisa dia tahan itu ke puskesmas terdekat yang berada di pedesaan. Luka robekan terpaksa harus di jahit lima jahitan. Saat menerima resep obat, pandangan tertuju pada benda yang tergantung di atas pintu masuk.


“Maaf sus, kalau saya boleh tau. Benda apa yang berada di atas pintu itu?”


“Hei anak muda! Kau tidak tau benda apa itu? Itu jimat agar makhluk pemakan manusia tidak merenggut darah dan daging mu!” bentak seorang pasien sangat keras.


“Nek, sekarang giliran nenek kami periksa. Maaf tuan, silahkan tuan kembali satu minggu lagi untuk melepas jahitan” kata suster tersebut.


Sesampainya rumah, Jon menyampaikan semua perkataan si dukun Ki Gendeng pada Lina. Wanita itu hanya merespon gelak tawa. Rokok elektrik mengepul menghembus tepat di wajah pria itu tanpa berani memberontak atau menepis menggunakan tangannya.


“Jon, walau aku terlihat kejam sering memperlakukan mu tidak baik. Urusan nyawa memang tidak bisa sesuka hati ku menggantikan mu. Jika Sandika mati maka dendam ku pada Harun sudah terbayar lunas. Besok biar aku ikut dengan mu menemui dukun itu.”


“Tidak nyonya, biar aku saja yang akan kesana besok” kata Jon sedikit takut.


“Jon, tidak ada yang bisa membantah atau mengubah perkataan ku! Sekarang cepat kau cari bahan ritual itu!”


...----------------...


...Sandika, aku masih menunggu mu disini...


...Cahaya meredup gamang di perkuat bunga mawar putih yang engkau tinggalkan...


...Dawai indah menghilang selama bertahun lamanya...


...Kini tersisa hanya bekas serpihan bayang mu saja...


...-Hantu Murga-...

__ADS_1


Dia menabur kuku setan di Telaga berkabut, sosok hantu penyendiri tidak pernah mengganggu apapun aktivitas yang di lakukan manusia di hutan maupun di Telaga. Mata ruang waktu lainnya merasakan manusia yang di tunggunya itu akan menuju ke perkampungan. Sosok Murga menghilang terbang mencari keberadaannya menutup kembali gelapnya cahaya kunang-kunang.


“Sandika, Sandika” panggilnya.


Pria itu berdiri di pintu masuk hutan, dia tidak menggunakan penerangan atau benda tajam sebagai penjaga diri dari serangan hewan liar hutan.


“Murga.”


Berjalan berdua sampai di Tepi Telaga berkabut, pekat putih samar menghilang di iringi cahaya kunang-kunang bertebaran. Kutukan berjalan setelah keduanya saling merasakan debaran perasaan yang sama. Manusia dan sosok hantu saling bertemu dan tetap mencintai, mereka berdua bergandengan tangan sambil tersenyum melanjutkan langkah lalu terbang di atas bebatuan raksasa.


“Kita berada lagi di tempat yang sama. Aku masih menyimpan bunga indah yang engkau berikan saat pergi tanpa mengucapkan perpisahan. Aku berpikir kau akan melupakan ku.”


“Aku akan selalu mengingat mu Murga.”


Tangan dingin berlawanan panas, Murga menyembunyikan rasa panas bagai api yang membakar telapak tangannya. Dia balik rasa sakit dia tersenyum tidak henti melepaskan pandangan ke pria itu. Wajah sosok hantu yang dia cinta bersinar putih di terpa sinar rembulan.


“Murga, ikutlah dengan ku. Aku akan membahagiakan mu.”


Ucapan Sandika mengoyak jantungnya yang sudah ratusan tahun berhenti. Pada malam itu dia tersadar akan dirinya yang hanya sosok pemuja pria di hadapan tanpa bisa memiliki atau di milikinya.


“Sandika, kau pulang lah.”


“Ada Apa Murga?”


“Oii Sandika! Dimana kau?” teriakan suara Beben dari kejauhan.


Murga membawanya terbang kembali ke Tepi Telaga, kabut putih pekat menyelimuti kembali wilayah sekitar. Sorot senter Beben dan para body guard Sandika melihatnya berjongkok menghadap air.


“San! Kau sedang apa disitu?”


Tepukan di pundak membuyarkan lamunannya. Dalam benak memikir ulang seolah baru saja habis bermimpi bertemu Murga atau hanya dalam angannya saja.


“Tuan, wajah tuan pucat sekali. Malam semakin larut, sebaiknya kita kembali tuan” ucap sekertaris Lana.


“San, kita menginap saja di rumah pak Babat.”

__ADS_1


“Tunggu sebentar, aku masih ingin berada disini.”


__ADS_2