
Terlepas dari maut bukan berarti mudah bagi mereka melupakan masalah kelam yang mereka lakukan.
“Seharusnya pria itu sudah mati, dagingnya menjadi bubur di dalam kunyahan ku.”
Rambe mengintai pria orang-orang yang menggangu ketenangan penghuni Telaga berkabut. Mata setan mengintai mencari celah menghembuskan sihir kesakitan dan ketakutan. Bau darah dia hafal jika manusia-manusia itu belum lenyap maka Rambe terus-menerus mengincar. Namun, Murga menahan meminta agar dia memaafkan siapapun yang menyakitinya di kala itu. Sekalipun para pengganggu perkampungan dan Telaga. Hari demi hari sosok Murga berada di Telaga terkadang di bebatuan raksasa.
......................
Perkuliahan menuju garis finis memasuki semester akhir, tahun depan adalah hari di dimana pencapaian rasa lelah yang terbayar selama empat tahun ini. Para Mahasiswa menyiapkan Skripsi di sela rutinitas mereka yang beda-beda. Meski masih di dalam masa perawatan, hal itu tidak mengurungkan Sandika menyelesaikan tugas terakhirnya. Jurnal itu di layangkan pada kepengurusan pak Egen yang mencari seluk beluk mengenai wilayah yang pernah di jadikan Sandika dan teman-temannya meneliti.
Rumah besar terasa ramai hari-demi di kehadiran Cerry bergelak tawa. Hari ini dia mengatakan sesuatu yang tidak biasanya dia dengar.
“Dari mana anak kecil ini menjadi bijak mengucapkan kamus baru pada ku?” gumam Sandika.
“Om, paman apakah aku memanggi mu dengan sebutan ayah?” tanya Cerry tersenyum menatapnya.
Kalimat sanggahan apa yang harus di tolaknya? Sandika teramat menyayangi anak kecil itu.
Dia tersenyum menganggukan kepala, tubuh kecil bergelanyut manja di lengan pria berotot itu. Rina menjemputnya pulang, Sandika memindahkannya ke pelukan Rina. Gerakan Cerry malah menyatuhan tangan Rina dan Sandika lalu memanggilnya dengan sebutan yang membuat mereka terkejut.
“Ayah, Ibu.”
,
......................
Sepanjang perjalanan pulang, Rina terdiam membisu memperhatikan tingkah pola anaknya. Dia mengirim sebuah pesan singkat, berharap pria dingin itu tidak salah paham dengannya.
Kepada mas Sandika
Sungguh aku tidak percaya Cerry mengucapkan hal demikian. Sedikitpun tidak terlintas di pikiran ku bahwa dia menyebut mu dengan sebutan ayah.
...💀...
Pesan yang di kirim hanya terbaca centang biru tanpa ada balasan darinya. Hati berkecamuk berpikir pria itu pasti berpikir yang tidak-tidak padanya. Selama berhari-hari dia menunggu balasan tidak berani singgah atau menitipkan Cery di rumahnya. Dia tidak mengetahui kesibukan pria itu mengurus sekolahnya yang akan selesai. Sepanjang hari Cerry merengek minta bertemu dengan Sandika.
Krek
__ADS_1
Suara pintu terbuka, Warid hadir menjatuhkan tubuh pandangan buram terjatuh di lantai. Rina berteriak memanggil pekerja rumah membantu mengangkatnya.
“Mas kau kenapa? Kau selau saja menyembunyikan penyakit mu!” ucap Rina.
Cerry menangis melihat pamannya tidak sadarkan diri. Setelah memanggil dokter, dia menenangkannya, tangisan pecah terhenti ketika Rina menekan tombol hijau di layar ponsel tertulis nama Sandika. Mendengar suara jawaban pria itu tangis Cerry pun terhenti.
“Ibu, ayah mengatakan akan menelepon ku lagi.”
“Sayang, dia bukan ayah mu. Ayah Cerry kan sudah kembali sama Allah.”
“Tapi aku juga ayah Sandika bu.”
Pemeriksaan dokter memfonis penyakit kanker stadium akhir. Rina terkejut terkulai lemas menyanggah tubuh berpegangan pada pilar rumah. Penyakit yang di sembunyikan selama ini menggerogoti tubuhnya. Pada hari itu juga dia di bawa ke rumah sakit agar menjalani perawatan secara intensif. Mendengar kabar mengenai penyakit Warid, kedua orang tuanya langsung melihat keadaannya.
“Sudah bapak lihat penyakit mu ini pasti akibat gangguan para penghuni Telaga berkabut. Cepat habiskan obat dari orang pintar itu.”
“Cukup tiga suapan saja, jangan dengar kan omelan bapak mu.”
Benar adanya jika sosok Rambe melepaskan para manusia. Tapi tidak terlepas dari kutukan tempat itu. Tanpa sepetahuan mereka, Beben di rawat di salah satu ruangan kelas VIP di rumah sakit yang sama. Hari terlewati, dia cuti kuliah terpaksa menunda sidang wisudanya.
“Kemana perginya Beben, kemana dia tidak ada di acara terpenting bersejarah ini?” gumam Sandika.
......................
Sudah setengah tahun engkau kita tida bertegur sapa. Sekali aku minta maaf atas semua kesalahan ku. Ini adalah pesan terakhir ku, selamanya tidak mengganggu mu.
Sebesar apapun kesalahannya, dia tetap Sahabat tanpa rasa musuh di hatinya. Sandika hanya menjaga jarak karena rasa kecewa mendalam di samping menjalani pengobatan mempercepat kesembuhan berharap bisa kembali ke Telaga Berkabut.
Selesai acara pelepasan penyematan Toga, dia mengusap dada mengucap rasa syukur bisa menyesesaikan kuliah di sela kesempitan hidupya yang telah lalu sebelum mengenal bu Harun.
Sandika singgah ke toko mainan, dia membeli banyak mainan anak-anak lalu memerintahkan pak Egen memutar haluan menuju rumah Rina.
Ting, Tong
Tok_tok_tok
Sebuah kotak hadiah besar terpajang di depan pintu masuk. Rina membuka pintu menyambut kedatangannya tersenyum tipis. Matanya bengkak, sembab terlihat seperti orang yang habis menangis. Dia mempersilahkan keduanya masuk, tampak pak Egen kesusahan membawa kotak itu.
__ADS_1
“Ini untuk anak angkat ku Cerry.”
“Anak siapa yang mas maksud? Aku kan belum menyetujui kau memberi label menjadi anak angkat mu.”
“Mmmhh, biar anak manis itu saja yang memutuskannya.”
Wajah sumringah Cerry turun dari gendongan si pengasuh berlari memeluk Sandika.
“Ini untuk anak ayah, maafkan ayah selama ini terlalu sibuk. Apakah engkau sehat-sehat saja?”
“Terimakasih ayah.”
“Kesibukan apa yang menutup diri mu menghindari kami selama hampir setahun ini mas?”
“Maafkan aku Rina, aku sibuk menyelesaikan program studi sekolah ku. Oh ya, kau tampak sedang sakit.”
“Bagaimana aku bisa bahagia, Mas Warid sakit kanker Stadium akhir. Hiks, hiks.”
Untuk pertama kalinya dia menangis tersedu-sedu di pelukan Sandika.
......................
Sepanjang perjalanan pulang, kepala Sandika terasa sakit mengingat tragedy tempo lalu. Cinta untuk Murga tidak bisa di hapus, Dia sudah memutuskan menetapkan hati kembali ke perkampungan Telaga Berkabut.
“Pak Egen, cepat selesaikan urusan perpindahan ke tempat itu."
“Ya tuan, bagaimana dengan rumah peninggalan nyonya Harun?”
“Biarkan saja sebagai persinggahan jika ke kota. Kita akan membangun rumah di dekat tepi perkampungan dekat perbatasan hutan.”
“Apakah tuan yakin? Wilayah itu sudah masuk surat kabar akan keangkeran dan kematian orang yang menghilang.”
“Ini sudah menjadi keputusan ku. Kemudian jika suatu hari terjadi sesuatu pada ku maka semua perpindahan aset dan warisan aku serah kan ke anak angkat ku Cerry dengan satu syarat yang sudah aku tulis di dalam surat tersebut.”
“Baik tuan, saya akan melaksanakan semua tugas ini.”
Nada dering pesan berkali-kali masuk mengabarkan kematian Warid. Sontak handphone terlepas dari genggaman. Menerima kabar duka, kematian Warid seperti sebuah misteri berurusan dengan penghuni Telaga kaitan yang dia ceritakan di masa lalu dan kini.
__ADS_1
“Pak, cepat kita ke rumah pak Warid.”