Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Hentakan


__ADS_3

Sejak saat itu aku tidak melihat mu lagi. Duka, luka, air mata mengering tidak terima perpisahan ini. Ringkih tubuhnya hanya terdiam lemas tidak berdaya. Dia kehilangan semangat apapun yang di katakan Beben di abaikan wajah memalingkan pandangan menoleh keluar jendela. Setiap malam menunggu kedatangan cahaya kunang-kunang.


...💀💀💀...


“Tuan, kemana kita akan pergi?”


“Ke rumah saja pak Kas.”


Beben berhasil terlepas dari kejaran Rambe. Walau tubuhnya juga penuh luka, dia meminta menghubungi Egen agar segera membawa dokter pribadi untuk memeriksa Sandika. Rumah peninggalan Harun itu semakin sepi, setelah kedatangannya kembali para pekerja mulai tampak sibuk bekerja kembali.


Sudah tiga hari Sandika hanya berbaring lemah di atas kasur, jarum infus menggantung sesekali pria itu menoleh ke ke jendela bersuara kecil memanggil nama Murga. Tubuhnya sudah seperti tulang yang hanya di bungkus dengan kulit.


......................


Di kejauhan mata hantu perindu itu melihat Sandika, dia tidak bisa mendekati atau menampakkan wujud yang hanya akan menambah rasa sakit. Dia mengamati pria yang patah hati itu, maju mundur gerakannya terbang lalu menghilang tak kala sosok Rambe mendekatinya.


“Murga, kembali wilayah kita. Jangan kau cari masalah lagi dengan manusia itu."


“Kakak, lihatlah Sandika sekarat berjuang melawan sakitnya. Ijinkan aku sebentar menghampirinya kak.”


“Murga, luka mu saja belum sembuh. Bekas paku di punggung mu bukti kejahatan para manusia itu. Mereka semua sudah terkena kutukan Telaga Berkabut. Cepat tinggalkan tempat ini atau kesabaran ku habis!”


Mata batin Sandika menembus melihat sosok Murga baru saja pergi meninggalkannya. Wajahnya seperti dahulu kala, saat dia pertama kali bertemu makhluk di pembawa kunang-kunang. Bunyi gesekan suara pintu terbuka, tampak Rina bersama Ceri tersenyum mendekatinya dengan sekeranjang bunga dan buah-buahan. Ceri mengambil sebuah buah apel hijau, dia meletakkan ke tangan Sandika.


“Ini untuk paman.”


“Terimakasih anak baik” jawab Sandika tersenyum melihat wajah lucu Ceri.


“Bagaimana keadaan mu mas?” tanya Rina duduk di depan kursi di dekatnya.


“Sedikit membaik, kamu tau dari mana saya berada disini?”


“Dari mas Warid, tadi aku tidak sengaja mendengar percakapannya di telepon waktu di rumah.”


“Memangnya apa hubungan mu dengannya?”


“Dia adalah kakak kandung ku.”

__ADS_1


Percakapan panjang, jam makan dan minum obat di ganti dengan suapan tangan Rina. Sebelumnya berkali-kali Sandika menolak, wanita itu terus memaksa sampai menyuruh suster penjaga keluar dari ruangan.


“Aku tidak mau memberi harapan pada mu Rina” batin Sandika.


Mereka melihat Ceri tertidur pulas di sofa, senyum Rina berpamitan pulang sambil menggendong Ceri dari belakang.


“Aku pulang ya mas, besok kalau ada waktu aku singgah kembali.”


“Hati-hati, jaga anak ini baik-baik. Dia anak yang memiliki kemampuan bisa melihat makhluk halus.”


“Ya mas, sepeninggal ayahnya dia lebih sering berkomunikasi dengan makhluk halus bahkan bisa ke pergi pemakaman ayahnya sendiri.”


Seiring berjalannya waktu, kedekatan Rina dan Sandika terjalin bak air mengalir. Kesehatan Sandika yang perlahan pulih. Sandika seorang pria penyayang anak kecil, dia lebih sering menghabiskan waktu luang bersama Ceri. Mengajaknya ke taman bermain bahkan menganggap anak itu seperti anaknya sendiri.


“Tidak adakah sedikit saja perasaan mu pada ku mas?”


Rina menatap Sandika yang tertawa riang di dalam arena komedi putar bersama Ceri. Hingga saat ini dia menanti sikap dingin Sandika bisa hangat terhadapnya. Sekalipun setiap hari mereka bertemu, Sandika datar tidak pernah menunjukkan rasa cinta untuknya.


Perjalanan pulang ke rumah Rina


“Ceri, apakah masih melihat wanita yang mengikuti paman?” bisik Sandika.


Ceri menggelengkan kepala, dia membalas gelagat seperti membisik namun tekanan nadanya kuat.


“Paman, kakak rambut panjang itu terkadang mengikuti paman. Tidak sesering dahulu”


“oh ya? Kapan saja dia hadir?”


“Tepat di malam yang hawanya terlalu dingin dan panas.”


......................


Malam ini Rina menginap di rumah Warid, dia masih berdiri di depan pintu menunggu kepulangannya. Berselang beberapa lama mobil Warid berhenti di depan rumah, dia turun dari mobil di bopong penjaga Rem. Warid menekan dadanya, dia duduk di sofa. Rem meminta ijin menjemput dokter pribadi.


“Kau sakit apa mas? Kenapa menyembunyikan penyakit mu dari ku? Aku akan mengadukannya pada ibu.”


“Jangan Rina.”

__ADS_1


“LIhat lah lingkar bawah mata cekung mu menghitam, kau pasti suka begadang malam.”


“Ya, sejak saat itu aku mendapat teror dari makhluk Telaga berkabut. Begini ceritanya__”


Warid menderitakan kejadian satu persatu hingga duduk masalah yang terjadi. Rina membolangkan mata, dia seakan tidak percaya dengan apa yang di katakan saudaranya itu.


“Kau pasti bercanda kan mas? Kau selalu saja menipu ku, sifat mu itu tidak berubah membuat ku menangis lalu kau tertawa terbahak-bahak.”


“Aku mengatakan yang sebenarnya, itulah mengapa sampai sekarang Sandika masih berada di dalam kesendirian.”


“Aku tidak percaya semua cerita ini.”


Rina meninggalkannya naik ke lantai atas, Ceri melihat ibunya menangis meletakkan boneka-boneka mainannya ke paha Sandika.


“Om, ini untuk kakak-kakak yang suka ngekorin kemana pun mas berada.”


“Anak pintar, jika engkau bertemu dia lagi segera panggil om ya.”


“Ya om. Tapi kenapa mama menangis?”


“Mama sedang sakit, Ceri harus jadi anak baik ya bantu paman menjaga mama.”


“Ya paman.”


Mereka lebih sering bersenda gurau bersama, kehadiran Cerry perlahan membuang sifat stress dan kondisi kesehatan membaik. Dia sudah jarang mengkonsumsi obat-obatan, hanya saja mimpi buruknya tetap menjadi ketakutan di samping rutinitas keseharian tetap mendapatkan gangguan dari makhluk halus.


Salah satu mimpi tetap terlintas di pikirannya sosok makhluk pembawa kuku setan berdiri di kesendiran tengah hutan bercahaya ghaib membelakangi. Sandika memanggilnya namun seolah sosok Murga tidak menoleh atau mendengar suaranya.


......................


Hari ini Rina menitipkan Cerry pada Sandika. Dia gusar terburu-buru karena Warid secara mendadak pingsan di ruang kerjanya. Banyak yang mengatakan dia kesurupan atau tersenggol makhluk tidak kasat mata. Suara berubah berbeda, wajah merah padam, kulit terbuka terluka, luka terparah pada pundak seperti ada bekas gigitan daging sedikit terlepas membusuk.


Semua penyakit itu datangnya seperti tertiup sihir setan sosok terganas penghuni Telaga Berkabut.


Terakhir kali dia melarikan diri dari Rambe di selamatkan sosok lain berbaju putih yang tidak lain adalah sosok yang di cintai Sandika.


“Buta kah mata ku tidak mengingat kebaikan sosok itu di tahun-tahun berlalu. Dia menyelamatkan Harun di dasar air dan kini makhluk itu tidak sedikitpun membenci ku. Dia menjauhkan ku dari si hantu pemakan darah daging manusia hingga aku masih bisa bernafas sampai hari ini” Warid membatin menyesal kedua kalian.

__ADS_1


__ADS_2