Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Perkara pilihan dua alam


__ADS_3

Semakin dia membuang hewan-hewan kecil itu, mengambil dari luka di luka kulit yang terbuka tapi hewan itu seolah berkembang biak dengan cepat memenuhi luka Beben kembali. Sandika terus menerus mengulangi, kali ini mengucapkan ayat kursi sambil menghembus ke lukanya. Ringisan kesakitan Beben, bola mata memutih kejang-kejang mirip orang kesurupan.


‘Arghh! Panas! Pergi!” teriaknya.


Suster memasuki ruangan menyuntikkan suntikan penenang meminta Sandika keluar dari ruangan itu. Dia ingat bagaimana Warid, Beben dan para algojo memisahkan hingga melukai Rambe. Sosok lain yang disebut sebagai saudara Murga itu menolong mereka sehingga mereka bisa terlepas dari jeratan.


“Jika sosok mengerikan itu tidak membantu kami mungkin mas Warid dan lainnya melukai Murga” gumam Sandika.


Sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter, dia memikirkan pesan terakhir keinginan Warid. Seluruh hatinya tidak bisa menggantikan posisi Murga utuh.


Bagaimana dia bisa melepaskan Murga lalu menikahi Rina untuk memenuhi amanah Warid?


Di ruang tunggu, terlihat kedua orang Beben menghampiri mengucapkan kata terimakasih atas kebaikan yang di berikan untuk Beben. Di sela perbincangan mereka, salah satu suster menyampaikan bahwa pemeriksaan Beben berlanjut Karena penyakit yang di deritanya amat serius.


“Terimakasih sus.”


Sandika meminta ijin jika tidak berhalangan maka besok akan kembali menjenguk Beben lagi.


......................


Pikiran yang kacau, Sandika memutuskan pergi ke perkampungan Telaga berkabut, dia membawa Egen bersama supirnya pak Kas mereka melajukan kendaraan dengan cepat melewati beberapa pepohonan menunjukkan tempat yang di tuju sudah dekat. Tempat persinggahan ke surau untuk menemui ustad Musta, pria itu ikut sholat berjamaah selepas sholat dia duduk bersama pak ustadz di pinggiran masjid.


“Ustadz saya mau bertanya, apa hukumnya jika menikahi seorang perempuan tanpa cinta?” tanya Sandika memasang wajah serius memperhatikan sang ustadz.

__ADS_1


“Pacaran di larang di dalam islam. Cinta sejati di dalam islam itu jika sama-sama mewujudkannya jika mendorong satu sama lain menjalankan perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Menikah tanpa cinta bisa di sebut sah jika, tidak ada paksaan untuk menikah, harus mendapat persetujuan dari mempelai wanita ataupun walinya.”


“Wahai Rasulullah, sesungguhnya seorang gadis malu (untuk menjawab bila dimintai izinnya dalam masalah pernikahan).” Beliau menjelaskan, “Tanda ridhanya gadis itu (untuk dinikahkan) adalah diamnya.”


“Terimakasih banyak ustadz.”


Perjalanan selanjutnya ke rumah pak Kadi, dia meminta ijin bermalam di rumahnya. Kedatangan itu di sambut bahagia oleh pak Kadi dan bu Ima istrinya. Hidangan perjamuan tersusun di atas meja, mereka makan malam bersama sambil membicarakan proyek yang tertunda serta kesejahteraan para warga. Hari ini dia meminta pak Egen mengeluarkan dokumen dan segala kebutuhan warga di pindah serah tugaskan pada pak Kadi.


Mendengar hal itu, pak Kadi tersedak di bantu bu Ima memberikannya segelas air minum. Tugas sebesar itu harus di emban dan benar-benar amanah mengelola keuangan dan sarana prasarana yang di sediakan. Dia tidak berani memikul tugas sebesar itu.


“Nak Sandika, sebaiknya serahkan saja pada orang yang lebih tepat. Bapak Cuma orang kecil, bapak tidak berani.”


“Pak, sepeninggal si mbah, saya hanya dekat dan sangat percaya pada bapak dan ibu. Mohon di terima ya pak, jika ada kesulitan atau keperluan lain maka segera hubungi pak Egen.”


Selesai makan malam dan berbincang-bincang ringan, mereka menuju kamar masing-masing. Satu kamar khusus di sediakan untuk Sandika dan satu kamar lagi untu pak Egen dan Kas. Sandika membawa harmonika memainkan alat musik di depan jendela kamar. Perlahan cahaya kunang-kunang datang bertebaran memenuhi ruangannya. Sandika berharap Murga hadir di samping kerinduannya yang mendalam, hari dia lewati terasa hampa. Sudah berjam-jam sosok itu tidak muncul bahkan cahaya kunang-kunang hanya melintas sebentar saja.


“Dimana engkau Murga?” Sandika membatin.


Dia memakai jaket, membawa senter berjalan keluar rumah. Menoleh ke belakang berharap tidak ada yang mengikutinya. Dia memasuki hutan, suara hewan malam sesekali sorot mata melihatnya dari sela semak dan pepohonan. Suasana di tempat itu terkesan lebih angker menyeramkan. Di ujung jalan hampi saja senternya menangkap bayangan sosok makhluk terbang berpakaian putih. Dia bergegas mematikan senter bersembunyi di dalam benak mengucapkan istighfar.


Dia yakin sekali sosok itu bukan lah Murga, melihat sosok tadi masih berada di sekitar itu Sandika tetap di dalam persembunyian. Kini satu makhluk lagi datang mendekati sosok tersebut. Gerakan mereka terlihat sama, Sandika melihat seakan yang baru hadir adalah sosok Murga. Dari belakang, Sandika di bawa terbang menghilang ke bebatuan raksasa dekat Telaga berkabut tempat mereka sering berdua di masa lalu.


Murga memeluk pria itu, aroma hangus keluar dari tubuhnya. Perlukan semakin erat maka semakin tubuh Sandika membakar tubuhnya.

__ADS_1


“Aku sedang tidak mengucapkan surah pendek namun kenapa kau kepanasan? Murga cepat lepaskan aku sebelum tubuh mu hangus terbakar” ucap Sandika.


“Sandika aku merindukan mu di waktu kelam ku yang tidak berdetak lagi. Lihat lah pada hari keputusan ku menjadi manusia, cahaya yang ku miliki tak seindah dahulu kala. Aku tetap menunggu mu meski mati tenggelam di dasar Telaga.”


“Murga__”


“Aku tau siapa wanita yang sama seperti mu itu. Tubuhnya juga bisa membakar ku, hidup lah berbahagia dengannya. Aku tidak akan pernah mengganggu mu lagi.”


“Murga, bagaimana aku bisa menikah dengan wanita yang tidak aku cintai?”


“Sandika, dunia kita berbeda.”


“Murga, katakan pada ku bagaimana caranya agar kau bisa menjadi manusia kembali.”


Jika sudah bertemu sosok hantu itu seakan Sandika gelap mata melupakan fitrah dan takdir kematian manusia. Berharap menghidupkan mayat yang telah mati sama saja perbuatan musyrik bukan?


“Sandika, sekalipun aku tau caranya maka tidak akan ku beritahu pada mu.”


Murga tetap memeluk bidang bagian depan yang sangat dia cintai itu. Sandika kesulitan melepaskan hingga akhirnya Rambe datang menghentakkan tubuh Murga. Dia mendorong Sandika jauh dari sang adik, amarah tidak terkendali seolah pria itu ingkar akan janjinya.


“Seharusnya kau bersyukur tidak ku bunuh! Begitu pula orang-orang yang berani memasuki area terlarang maupun Telaga berkabut. Tapi perlu kau tau, kutukan Telaga berkabut tetap berjalan tidak bisa terputus. Ihihihi.”


Dia menghilang membawa Murga pergi, Sandika berlari mengejar sampai di perbatasan hutan. Dia berhenti memanggil Murga, sosok hantu yang sudah setengah terbakar itu hanya terdiam melihat pria yang dia cinta.

__ADS_1


“Kau manusia yang berharap makhluk dari kami, jika kau mencintainya maka di malam bulan purnama bawa wanita itu ke Telaga berkabut. Aku akan mencabut nyawanya dan menggantikan dengan Murga. Tapi hal itu pasti tidak mungkin kau lakukan. Kau pria yang berbeda seperti yang di katakan Murga bukan? Tunjukkan lah cinta mu yang sebenarnya palsu itu! Ahahah! Dasar kalian semua manusia pendusta!”


__ADS_2