Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Cerry menghilang


__ADS_3

Sandika panik berulang kali mengusap punggung Cerry dengan minyak angin, mendekatkan minyak angin itu pada hidungnya. Perlahan Cerry membuka mata. Sandika langsung memeluknya erat, dia membuka sebotol air memberikannya minum.


“Ayah, aku sudah membawa bekal air minum juga di dalam tas.”


“Kamu kenapa jadi anak ayah yang nakal? Ibu mu mengkhawatirkan mu di rumah.”


“Pokoknya aku mau ikut ayah.”


Pak Egen di minta menghubugi pak Kas agar berputar arah menjemput Rina ikut menyusul mereka. Seolah Cerry mengetahui tempat yang akan di tuju, sepanjang jalan dia tidak henti menoleh keluar kaca jendela. Perkampungan angker menyimpan cerita kelam tersembunyi hal-hal mistis. Harum udara perkampungan segar yang masih terbebas dari polusi udara. Sandika menoleh Cerry tersenyum melambaikan tangan.


“Kamu lagi menyapa siapa nak?”


“Itu yah, kakak yang pernah ngikutin kemanapun ayah pergi.”


Jantung Sandika berdetak hebat, dia tidak menyangka sampai saat ini Murga masih mengawasi hidupnya. Pertanyaan di benaknya adalah apakah Murga masih menginginkan hubungan mereka terjalin atau apa Murga hanya terpaksa melepaskannya?


Sekarang dia kembali ke perkampungan Telaga berkabut membawa keluarganya. Sandika masih mengingat perkataan dan amarah Rambe. Kekhawatirannya berlanjut memasuki wilayah perkampungan terlihat kabut putih menyelimuti.


“Pelan-pelan saja menyetirnya pak.”


“Ya den.”


Sebuah rumah besar dekat hutan sengaja bangun Sandika sebagai tempat persinggahan jika akan kepentingan di perkampungan. Utusan penjaga dan pengurus rumah bersiap menyambut kedatangannya. Mang Murat dan mbok Nah tergopoh-gopoh menunduk bersalaman pada Sandika.


“Selamat datang den.”


“Kami sudah membersihkan rumah den.”


“Baik terimakasih Mang dan mbok. Tolong bantu saya meletakkan barang-barang di kamar.”


Sebelum melangkah kaki masuk ke rumah, salah satu pepohonan yang berada di sisi kiri bergoyang sendiri. Cerry tampak ketakutan membenamkan wajahnya di pundak Sandika. Pria itu mengucapkan surah-surah di dalam hati, masuk melangkah kaki dengan bismillah.

__ADS_1


Dia menaiki anak tangga, memilih kamar untuk Cerry yang berdekatan dengan kamarnya. Agar suasana di dalamnya dapat membuat Cerry betah, dia memerintahkan pak Egen menyulap kamar Cerry bagai ruangan bertema Disney princess di isi berbagai macam boneka dan perlengkapan lainnya. Egen juga menyediakan gaun-gaun indah dan pakaian.


“Sayang, ini adalah kamar mu. Apakah kamu suka?”


“Wah kamarnya bagus banget. Cerry suka sekali, terimakasih yah!”


Suara klakson mobil kedatangan Rina memperhatikan dari tadi dia seperti ada yang mengikuti. Hingga dia menunjuk pada salah satu pekerja apakah ada orang di bagian pepohonan sebelah kiri halaman.


“Pak tolong periksa disana seperti ada yang berdiri.”


“Maaf nyonya, Mamang tidak melihat siapapun disana.”


Mendengar jawaban pria itu maka Rina buru-buru masuk ke dalam. Di dalam ada Sandika tampak fokus di depan layar laptopnya. Rina duduk di samping memperhatikan pria itu sesekali mengamati ruangan.


“Kamu udah nyampe? Sana istirahat bareng Cerry.”


“Ya nanti saja. Ini rumah siapa San? Dari tadi sekujur bulu kuduk ku sangat merinding.”


“Ini adalah rumah khusus ketika aku ada keperluan pekerjaan di perkampungan ini.”


“Ya, dia adalah anak ku yang cerdik dan pintar.”


......................


Kini Sandika sudah menyandang status sebagai seorang ayah untuk Cerry dan suami untuk Rina. Dia tidak bisa lagi leluasa keluar masuk hutan atau Telaga berkabut mencari kekasihnya yang lalu. Di dalam tidur, Rina mendengar suara ketukan pintu yang sangat keras. Tanpa membangunkan Sandika yang posisi tidurnya selalu memalingkan wajah darinya itu. Dia menuruni anak tangga, lampu tidak bisa di nyalakan, di balik kegelapan suara ketukan pintu semakin keras. Rina meraba benda di dekatnya mencari penerangan. Tapi hanya dingin menghembus di telinganya. Dia menjerit ketakutan, suaranya di dengar Sandika terbangun menghentakkan tubuh membawa senter mencari Rina.


“Sandika! Aku takut sekali!”


Dia memeluk suaminya itu mengikuti arah jalan kembali ke kamar. Sandika yang tidak mau bersentuhan terlalu lama dengannya mendorong tubuh wanita itu lalu meraih segelas air yang tersedia di atas meja.


“Sudah merasa baikan belum?”

__ADS_1


Rina hanya menjawab mengangguk memberikan gelas ke tangannya. Sandika berjalan ke kamar Cerry, perlahan dia membuka pintu melihat gadis kecil itu tertidur pulas. Suara-suara aneh yang terdengar dari luar, suara tidak asing tepat di waktu dulu dia berada di kampung angker ini. Sebelum pergi dia memastikan jendela di kamar Cerry sudah terkunci rapat. Dia membetulkan selimut Cerry, mengusap kepalanya pelan-pelan kembali menutup pintu.


Tin


Tin__


Suara klakson mobil Sandika meninggalkan rumah. Cerry melambaikan tangan di gendong Rina yang masih melihat kepergian mobil suaminya. Dia menoleh ke salah satu pohon tempat pertama kali dia tiba di rumah itu. Sosok yang sama muncul, Rina berlari membawa Cerry masuk menutup pintu rapat-rapat.


“Mbok!” panggil Rina.


Dia memeriksa dapur, keran wastafel menyala tapi tidak ada seorang pun. Rina melihat dari jendela, anaknya bermain ayunan sambil tertawa terbahak-bahak. Saat dia berbalik badan, jantungnya hampir terlepas akan kehadiran si mbok di hadapan.


“Nyonya mencari saya?”


“Mbok, apakah mbok sering melihat atau mendengar suara aneh di rumah ini?”


“Tidak ada non. Tapi karena ini dekat hutan sebaiknya saya ingatkan nyonya jangan pernah keluar di malam hari sendirian.”


Rina mempercepat langkah ke belakang rumah mencari Cerry. Ayunan yang sudah kosong menambah kepanikannya. Dia memanggil nama Cerry, anak kecil itu menjawab panggilannya dari atas balkon rumah.


“Cerry jangan terlalu dekat di pinggir!” teriak Rina.


Dia berlari menangkap tubuh anaknya yang hampir terjatuh. Cerry menangis tidak mau meninggalkan balkon. Dia mengatakan masih ingin bermain dengan temannya. Sosok anak kecil yang menjelma menjadi manusia sangat akrab dengan Cerry. Rina tidak melihat ada yang di balkon selain dia dan anaknya, Dia memaksa Cerry masuk ke dalam kamar, menahan emosi karena Cerry berteriak memanggil nama Tata.


“Sayang, bilang sama Tata udahan mainnya ya kamu harus tidur siang. Kalau kamu nakal nanti ibu adukan papa Loh!”


Ancaman kecil itu sukses membuat dia menuruti perkataan ibunya. Tata yang tidak terlihat, sepanjang hari Rina tidur di samping Cerry menjaga anaknya supaya tidak di ganggu sosok penghuni rumah. Di dalam hati sampai tertidur dia mengucapkan hafalan ayat-ayat suci. Namun saat dia terbangun, dia tidak melihat Cerry ada di sisinya.


“Cerry, kamu dimana nak?”


“Mbok, mang, apakah kalian melihat dimana Cerry?”

__ADS_1


Teriakan Rina memecah suasana hutan yang tenang. Dia berjalan sampai ke dalam enggan mendengar ucapan mang Kurat dan mbok Nah agar menjauhi hutan.


“Cerry!”


__ADS_2