Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Ruam


__ADS_3

Kata pesan Warid pada Sandika menyampaikan keinginannya sebelum kematiannya. Pernikahan ini di tetap di laksanakan. Sandika mempercayakan seluruh kelangsungan segala keperluan pada pak Egen. Pernikahan ini seharusnya di langsungkan tahun depan, tapi keinginan Natih meminta pesta pernikahan di adakan bulan depan. Pintu kamar terbuka, Cerry berlari memeluk Natih. Dia memberikan sekuntum bunga mawar merah, wajah gembira mencium aroma semerbak bunga meletakkannya di atas meja.


“Oma nanti aku kesini lagi ya, aku mau cari Teddy bear dulu.”


“Ya sayang hati-hati ya.”


Natih meletakkan bunga di dalam vas bunga dekat jendela. Tangan kanannya tanpa terasa terluka terkena durinya. Saat dia beranjak dari kursi, terlintas sosok Lina di luar jendela yang sedang menatapnya. Lina anak pertamanya yang sudah tiada kini menunjukkan kedatangannya.


“Lina! Lina!" panggil Natih.


Di bawah hujan yang deras, Natih keluar mencari sosok Lina. Dia menolah ke sekeliling halaman. Dari jendela Ranti melihat ibunya bertingkah aneh. Dia berlari membawa paying meminta Natih masuk ke dalam rumah. Wanita itu menangis, dia ingat betul kabar dari pihak kepolisian menyebutkan anaknya korban pembunuhan.


“Bu, ibu ngapain tadi hujan-hujanan disitu?”


“Aku melihat kakak mu.”


“Kak Lina sudah meninggal bu.”


“Hiks.”


......................


Penampakan wujud Lina masuk ke alam bawah sadar Natih. Sosok yang berubah menjadi pocong terbang berdiri tepat di atas tempat tidurnya. Natih menangis bercampur menjerit ketakutan. Ketukan pintu orang-orang yang di luar tidak di dengarnya. Setelah penampakan itu menghilang, dia membuka pintu memeluk Ranti. Salah seorang pekerja rumah berlari membawa segelas air untuknya.


“Di minum bu.”


“Apakah arwah anak ku belum tenang di alam sana?” gumam Natih.


Dia tidak bisa tidur sepanjang malam menghubungi sekertaris dan para anggotanya mencari informasi apapun mengenai Lina. Dia juga menelepon Supar mengatakan semua kejadian yang di alaminya. Dering suara telepon genggam Supar membangun kan Minah. Matanya melotot melihat nama panggilan di dalam tertulis Natih.


“Halo sundel, kamu tau nggak sekarang jam berapa. Jangan ganggu suami orang!” tutup Minah menekan tombol off.

__ADS_1


“Siapa yang melepon bu?” tanya Supar.


“Nggak tau orang iseng kali pak.”


Keesokan harinya persiapan penyambutan calon menantu, acara pernikahan sekaligus pesta yang di gelar secara meriah di salah satu gedung di tengah pusat kota. Papan bunga pernikahan pemberian uacapan selamat. Karangan bunga itu tampak indah memadati depan gedung pinggir jalan. Ramai para tamu undangan yang hadir. Para staf pegawai perusahaan, tokoh masyarakat, para warga kampung dan tamu undangan lainnya.


Di hari bahagia itu, wajah murung Sandika tidak bisa di tutupi lagi. Di kamarnya dia masih duduk membayangkan Murga. Sandika belum bersiap-siap memasuki ke ruangan pernikahan sedangkan mempelai wanita dan keluarga sudah berkumpul disana.


“Ayah, ayah ayo!” ajak Cerry.


Kedatangan Cerry membuyarkan lamunannya.. “Ya sebentar lagi ayah menyusul” jawabnya tersenyum.


“Qobitu nikahaha wa tazwijaha alai mahril madzkuur wa radhlitu bihi, wallahu waliyyu taufiq.”


(Saya terima nikah dan kawinnya dengan mahar yang telah di sebutkan, dan aku rela dengan hal itu. Dan semoga Allah selalu memberi anugerah).


Di acara pernikahal sakral, selesai ijab Kabul Ranti mencium punggu tangan Sandika. Mereka berdua sudah sah menjadi sepasang suami istri. Seketika suara petir menggelegar, angin kencang di sertai hujan deras lebat. Bangku, meja para tamu undangan, meja-meja fresh dinner basah, panggung musik di guyur derasnya hujan bagai langit yang menumpahkan guyuran air setumpah-tumpahnya ke bumi.


“Sepertinya akan datang banjir!”


“Ayo kita pulang saja.”


Para tamu undangan berhamburan, seisi gedung sepi yang terlihat hanya para pekerja, keluarga dan tim penyelangga acara. Pernikahan sudah selesai di langsungkan namun cobaan datang memporak-porandakan pesta. Natih menekuk wajah masam melengos ke menantunya itu.


“Andai saja kau menuruti perkataanku, maka pesta tidak akan kacau seperti ini. Kau berpura-pura alim seperti ibu angkat mu Harun yang tidak tau diri itu” gumam Natih.


Sebelum melangsungkan acara pesta pernikahan waktu itu Sandika pernah berpesan agar tidak memasang penangkal hujan atau memanggil dukun. Hujan angin masih saja turun, di dalam kamar Sandika melaksanakan sholat dua rakaat. Rina mengikutinya membentang sajadah tepat di belakangnya. Selesai melaksanakan ibadah, Lina kembali mencium punggung tangan Sandika.


Setelah bahkan sampai satu bulan melewati masa pernikahan, Sandika enggan menyentuh Rina atau bermanis kasih sayang dengannya. Hari di lewati tanpa perasaan cinta, sampai pada hari ini Sandika hanya sibuk mengurus pekerjaannya di kantor. Di ruang kerja, Sandika membuka layar laptop hingga tanpa tau ada Cerry yang tiba-tiba dari arah belakang menutup matanya.


“Ayah main petak umpet yuk!”

__ADS_1


“Maaf ayah sedang sibuk sayang. Cerry main sendiri ya.”


“Yah, Cerry kan maunya sama ayah.”


Sandika mengangkatnya duduk di pangkuan sambil sibuk menatap layar komputernya. Cerry terdiam memperhatikan gerakan tangan ayahnya. Dia memutar mouse yang berada di sampingnya.


“sayang sebentar ayah mau menyiapkan tugas kerja.”


“Ayah kapan sih nggak sibuk terus?”


“Nanti kalau ayah sudah nggak sibuk, ayah akan turuti kemanapun dan apapun kemauan Cerry.”


“Nggak mau, Cerry maunya ikut ayah.”


“Cerry anak baik, besok jagain ibu selama ayah pergi.”


“Nggak mau__”


Anak manis, manja dan sedikit nakal itu memperhatikan setiap gerak-gerik Sandika. Dia mengintip mendengar pembicaraannya dengan pak Egen. Kepergiaan ayahnya ke suatu tempat membuat dia mencari cara untuk ikut. Cerry membuka tas bonekanya yang berwarna pink, dia memasukkan dua batang coklat, satu buah jaket dan sebotol minuman. Dia juga tidak lupa membawa teddy bear kesayangannya.


Cerry menyelinap masuk ke dalam bagasi mobil saat pak Egen memasukkan barang-barang milik Sandika. Anak kecil itu menggunakan seluruh tenaga dalamnya agar bisa masuk bersembunyi di antara tumpukan barang. Mesin mobil pun di jalankan, Sandika tidak berpamitan pada Ranti hanya mengirim pesan singkat. Tidak memikirkan resiko berada di dalam ruangan tanpa udara, perlahan Cerry kehilangan nafas dan pingsan.


Bunyi ponsel Sandika berkali-kali masuk panggilan nomor Rina. Semula dia enggan mengangkat hingga pak Egen mengatakan padanya bahwa Rina menyuruh Sandika untuk menerima teleponnya.


“Tuan, nyonya besar mengatakan bahwa nona Cerry menghilang” ucap pak Egen.


“Apa? Perjalanan kita sudah mau sampai di tujuan. Cepat panggil pak Kas untuk menjemput saya pulang. Biar bapak saja yang menangani urusan di kampung itu.”


“Baik tuan.”


Mereka menepikan kendaraan. sambil menunggu jemputan, Sandika membuka bagasi mengambil beberapa dokumen penting untuk dia tanda tangani. Dia sangat terkejut melihat Cerry berada di dalamnya. Sandika segera mengangkat lalu membawanya masuk ke mobil.

__ADS_1


“Cerry bangun nak! Pak Egen, cepat ambilkan minyak angin dan sebotol air”


__ADS_2