
Dari Abu Said Al-Khudri radhiyallahu anhu. Rasullullah bersabda:
Sesungguhnya Syaitan mengatakan:
Demi kemuliaan Mu wahai Rabb ku, aku akan terus menyesatkan hambaMu, selama arwah mereka masih ada dalam jasad mereka.
Maka Allah Jalla wa’Alaa mengatakan:
Demi kemuliaan Ku dan Keagungan Ku, Aku akan terus mengampuni mereka, selama mereka memohon ampun kepadaku.”
Ustadz Musta memberikan ceramah singkat pada para Jemaah yang hadir. Surau sudah kembali terisi meski hanya beberapa saja yang hadir disana. Kendi-kendi terisi untuk air wudhu, penjaga surau secara bergantian membersihkan dalamnya.
Sandika membalikkan tubuh, berlari meninggalkan hutan. Dia mendengar lantunan suara merdu orang yang sedang membaca ayat suci Al qur’an. Langkah menuju surau mengambil air wudhu, dia menyadari akhir-akhir ini sudah sangat jauh dari sang Khalik.
“San, dari mana kau? apakah kau habis bertemu dengan hantu itu lagi?” tanya Beben menyelidik.
“Jangan berprasangka buruk padaku. Aku baru pulang dari Surau.”
"Jujur saja kau San. Siapa wanita itu?"
"Dia teman ku."
"Apa engkau yakin dia manusia?"
"Siapapun dia, aku melihat dia sosok yang tidak jahat."
“Ya semoga saja. Oh iya, besok kita akan pulang saja San. Arya dan Gama sepertinya memang sudah jadi santapan penghuni Telaga itu.”
“Apa maksud mu Ben?”
“Aku mengetahuinya dari pak Kam. Si juru kuncen baru.”
“Tapi Ben_”
“Sudah San jangan berkata apapun lagi” sanggahnya.
__ADS_1
Penampakan hantu Rambe yang memakan korban berangsur lenyap setelah kedatangan Kam si juru kuncen yang baru. Hari ini dia berdiri di perbatasan hutan terlarang, Kam mendengus mencari sisa darah istrinya.
“Sampai mati pun aku akan mencari pelaku sosok pembunuh anak dan istriku” gumamnya.
Dia menggunakan kekuatannya meniupkan mantra menyerang Rambe. Sosok hantu berbaju merah menampakkan wujud asli membalikkan serangan. Sosok lain yang sudah duduk di dalam tubuh Kam, menyatu merubah jemari lancip panjang. Tubuh semakin tinggi membesar di penuhi bulu hitam.
Pertempuran Rambe dengan sosok itu mengakibatkan cuaca buruk di perkampungan itu. Sosok hitam kekuatannya lebih besar karena telah bersatu di dalam tubuh manusia. Setengah tubuh Rambe berhasil di robek terlihat darah hitam segar mengalir membasahi tanah.
“Musnahlah kau menjadi abu!” ucap Kam.
Gumamtong terbang di antara mereka lalu membawa Rambe menghilang. Sebelumnya dia mengalihkan pandangan dengan menabur pasir yang hampir mengenai mata pria tersebut.
...----------------...
Melipat kedua kaki di depan pria berjanggut yang penuh amarah itu. Warid sedikit ngilu melihat dia meraih salah satu cacing menggeliat di dalam keranjang bambu kecil. Pria itu mengunyah bagai memakan daging ayam yang lezat.
“Mohon maaf pak, apakah saya sudah bisa mengutarakan maksud dan tujuan saya datang kesini?”
“Panggil aku ki Gendeng. Kau tidak perlu mengatakan apapun. Sebutkan saja nama wanita itu”
Pria berjanggut itu mengangguk, dia menabur kemenyan di atas wadah bara api kecil. Dia memberikan pisau ke tangan Warid.
“Dan sebutkan juga nama seorang anak muda yang nakal itu” tambahnya.
Setelah menyebut nama Harun dan Herman, kedua tangan ki Gendeng seakan di tarik oleh makhluk yang tidak terlihat. Suara retakan jari, pria tua itu menjerit kesakitan. Warid yang panik langsung membantu menahan tangan dan jemari tangannya yang berputar sendiri.
“Cepat ambil pisau itu. Sekarang kau harus memilih nama salah satu dari mereka lalu tusuk ujung jari mu kemudian teteskan darahnya di atas bakaran kemenyan!” bentak ki Gendeng.
Keinginan Warid agar Harun bertekuk lutut dan menjadi istrinya menjadi terabaikan mengingat kondisi Herman yang sangat kritis. Warid memutuskan untuk menolong Herman, dia juga membayangkan kondisi Harun yang labil dan sakit-sakitan akibat memikirkan Herman.
“Aku harus menekan ego “ gumam Warid.
Warid menusuk jari lalu meneteskan sambil menyebut nama Herman. Seketika tubuhnya berpindah di dalam hutan. Suara hewan liar bercampur suara makhluk halus lainnya, di tempatnya berdiri sedang mengalami fase malam hari sedangkan di ujung sana tampak siang hari bersinar terik cahaya matahari. Dua alam berkesinambungan menyerukan kesetaraan putaran waktu yang berbalik.
Ada Herman berjongkok menghadap ke salah satu pohon. Warid mendekatinya namun keberadaannya seolah terlihat olehnya. Herman terlihat sedang mencabut beberapa jamur yang tubuh di sela akar pepohonan besar yang berlumut. Di sampingnya melayang sosok hantu bergaun merah menatap Herman penuh amarah.
__ADS_1
“Jangan ambil milik ku!”
“Kembalikan benda itu ke tempat semula.”
Suara sosok itu yang di abaikan Herman, dia membawa tumbuhan itu pulang. Dia melihat kehadiran Warid, sosok itu pun terbang mengejar sampai Warid di tarik paksa di kembalikan ki Gendeng ke alam nyata.
Di alam lain saja kita harus berjuang sendiri. Pertolongan kecil untuk membawa ke alam nyata tidak merubah keadaan apapun. Melihat sebuah kesalahan yang di lakukan Herman tidak bisa mengembalikan waktu atau menghalangi pria itu apalagi menyelamatkannya.
“Sekarang aku tau apa penyebabnya Ki.”
“Ya kau harus menemukan dimana jamur yang dia curi itu dan mengembalikan di tempat semula.”
...----------------...
Sandika dan Beben bertengkar adu otot hingga Beben berlari masuk ke dalam hutan. Dia berpikir akan menjadi korban selanjutnya mengingat satu-persatu temannya menghilang dan tiada. Semula keputusan meninggalkan kampung beralih menetap mencari para teman-temannya yang menghilang untuk mematahkan kutukan Telaga Berkabut.
“Kutukan apa yang kau bicarakan Ben? Semua perkataan si juru kuncen itu tidak benar” ucap Sandika.
Kalimat terakhir untuk temannya itu masih dia ingat jelas. Dia mengejar Beben masuk ke dalam hutan tanpa persiapan apapun. Beben bersembunyi melihat Sandika mencarinya. Dia mengikuti langkah Sandika dari kejauhan hingga dia berhenti di pinggir Telaga Berkabut.
Sebuah kepala muncul dari dalam air, penampakan hantu yang selalu mengganggunya perlahan mendekat ke arah Sandika. Sosok itu menghilang berganti sosok gaun putih berambut panjang berdiri tepat di depannya.
“Sandika.”
Murga tersenyum menatapnya. Dia membawa Sandika terbang menghilang di dalam kabut putih pekat yang semakin tebal. Tempat yang sama, kedua kalinya mereka bersama melihat keindahan sinar rembulan malam berhias kuku-kuku setan bertebaran.
Malam ini Murga tidak berani menyentuh tangannya. Membawanya terbang tadi, sosok hantu itu merasa sangat kepanasan. Mereka hanya saling tersenyum satu sama lain. Murga banyak menceritakan legenda mengenai asal usul perkampungan itu. Di batas ruang dan waktu yang berbeda, mereka berdua tampak semakin akrab sampai tertawa bersama.
...Sandika, tawa ku ini adalah sebuah kebohongan belaka....
...Bagaimana bisa aku tersenyum seperti rembulan yang kau lihat indah?...
...Pertemuan kita masih bagai mimpi ku yang terkubur di dalam kumpara dasar Telaga...
...Aku yang selalu gelisah...
__ADS_1
...-Murga-...