
"Pak Kam, kedatangan kami kesini ingin minta tolong membuka jalan masuk ke dalam hutan."
Kam mengangguk mengomando warga dan nek Ana menyusuri hutan. Nek Ana berhenti melihat perbatasan hutan. Dia berjalan ke dalam di temani Kam dan Tedi.
"Nenek bisa leluasa menembus area hutan terlarang ini. Tapi ingat, jangan sesekali menoleh ke belakang"! ucap Kam memberikan pesan.
"Semoga saja aku yang sudah pikun ini mengingatnya."
Di alam lain, arwah yang luntang-lantung itu melihat keramaian orang-orang. Arya berlari melambaikan tangan. Wajahnya yang sudah pucat fasih itu sangat senang melihat kehadiran mereka.
"Hei kalian! aku disini!" teriaknya.
Tidak ada yang mendengar suaranya. Dia menghampiri nek Ana, berdiri tepat di depan lalu memeluknya. Akan tetapi tangannya menembus hingga dia terjungkal.
"Loh, kenapa aku tidak bisa menyentuh nenek? nek, bisa dengar suara ku tidak?"
"Nek, ini Arya nek! Hiks"
Dia berlari menjauh dari kerumunan. Di sela bebatuan di bawah jurang, Arya melihat dirinya sendiri. Jasad yang sudah di kerumuni cacing dan belatung.
"Aku sudah mati? tidak mungkin! aahhh!"
Kam melihat sosok Arya, belum sempat dia memberitahu nek Ana malah sosok wanita tua itu sudah bergelinang air mata.
"Entah kenapa perasaan ku tidak baik mengenai cucu ku Arya. Kam, katakanlah dimana cucu ku!"
"Nek, dia baru saja menghampiri nenek."
"Mana? hiks."
Mayat Arya sudah di temukan Kam berkat keris keramat. Tangis nek Ana memeluk jasad nya. Dia tidak memperdulikan mayat yang sudah membusuk itu. Para petugas kesulitan mengangkat jenazahnya karena nek Ana tidak mau melepaskannya.
Dia di paksa melepaskan dan mengikhlaskan, nek Ana terkulai lemas hingga tidak sadarkan diri. Sandika dan Beben yang mendengar kabar kedatangan nek Ana, langsung berlari menuju rumah pak Kadi.
"Benar dia adalah nenek Ana. San, ayo kita bawa dia ikut pulang bersama kita."
Beben yang sudah tidak sabar meninggalkan perkampungan, mendesak tanpa memikirkan kondisi wanita itu.
__ADS_1
"Tidak boleh, ibu tidak setuju jika kalian pulang hari ini. Apalagi membawa nenek yang masih belum siuman" ucap bu Ima.
"Kami akan membawanya ke rumah sakit bu. Kedatangan kami sudah membuat repot seisi kampung."
"Ben, menurut ku sebaiknya kita tunda kepulangan ini."
"Aku tau maksud dan tujuan mu itu San. Kau pasti masih ingin bertemu hantu itu!" gumam Beben.
......................
Pergantian malam, di rindukan Murga mencari si pria berdawai pianika. Dia menahan menampakkan wujud. Bulan darah merah memperlihatkan para penghuni makhluk halus berwujud yang sebenarnya.
"Apakah Sandika tetap menerima ku jika mengetahui wujud asli ku ini?"
Murga mengamati pria bermata sendu itu dari kejauhan. Dia berusaha mengingat kembali bagaimana dia binasa di telan waktu. Sosok arwah penasaran biasanya hanya mengingat bagaimana dia tewas dan bangkit kembali untuk membalas dendam.
Berbeda dengan Murga, dia sudah bertekad selalu membantu manusia sekalipun kematiannya berkaitan dengan para sesepuh kampung.
"Kakak, aku tidak bisa mengingat bagaimana aku mati. Setidaknya aku selalu mendengar cerita sedih itu dari Mu."
"Jadi kau lepaskan manusia itu, Rambe tidak akan tinggal diam dan membunuhnya!"
...----------------...
Memanfaatkan bulan darah demi kepentingan pribadi. Kam menerbangkan keris, dia menyerang menghunus perut Gumamtong. Sosok hantu yang tidak memiliki perisai apapun itu tejatuh dari ketinggian di tangkap oleh Murga. Jeritan suara yang tidak pernah terdengar di sekitar wilayah itu terlalu mengerikan bahkan memekik indra pendengaran sampai orang-orang yang mendengarnya merasakan hawa merinding ketakutan.
Suara penghuni Telaga berkabut murka melihat saudaranya di serang manusia. Tidak tau apa kesalahan yang telah di perbuatnya, Murga tau bahwa salah satu saudaranya itu tidak pernah sedikitpun mau menyakiti manusia sebelum manusia itu memulainya.
“Kakak bertahan lah!”
Di ujung kaki bukit, Rambe berhenti melahap organ tubuh manusia. Dia terbang mencari keberadaan Murga setelah mendengar teriakannya. Setelah bertahun lamanya suara rintihan itu kembali terdengar. Melihat Gumamtong sekarang di serang keris keramat. Rambe mencari sosok manusia yang sudah melukai saudaranya itu. Dia merubah diri menjadi sosok yang mengerikan dan membawa pasukan tengkorak arwah gentayangan penghuni Telaga berkabut.
Menyerang Kam di balik sosok hitam yang melindunginya. Rambe tidak henti melawan menghabiskan semua kekuatannya untuk melenyapkan makhluk si penghuni keris keramat. Malam peperangan bulan merah ini beradu menimbulkan bercak kemerahan di langit yang gelap gulita.
“Kakak, tunggu disini. Aku mau membantu kak Gumamtong.”
__ADS_1
“Tidak, waktu ku sudah hampir habis. Keris ini sudah mengenai hati hitam ku. Tugas mu adalah menabur bunga di sepanjang Telaga agar jasad ku disana tidak kembali bangkit menjadi sosok yang berbeda.”
“Kakak! Aaargghh!”
“Murga?” Sandika membuka mata mendengar suara sosok wanita itu.
Dia berlari membawa obor, Beben melihatnya beranjak mengikuti meraih senter di atas meja. Saat di pertengahan hutan, dia kehilangan jejaknya. Suara hewan liar mengintai di balik pepohonan.
“San! Sandika!” panggil Beben.
Dia memberanikan diri mencari ke Telaga berkabut, menyadari temannya itu selalu bertemu sosok wanita disana sampai dia kembali di pagi hari. Beben berpikir ulang akan penampakan wanita yang pernah di katakana Gama seolah sosok yang sama.
“Jika wanita itu adalah wanita yang sama, kenapa Gama menghilang tapi Sandika baik-baik saja?” gumamnya.
Menyorot senter di sepanjang tepi, kabut pekat menghalang penglihatan. Cahaya obor Sandika terlihat di sisi utara, ketika Beben berlari mengejarnya dia di kejutkan sosok hitam terbang dengan suara aneh yang mengerikan.
“Cepat matikan cahaya itu!” gema suara yang tidak memperlihatkan wujud.
Dia hampir menjerit, mulutnya di tutup Sandika dari belakang. Dia merampas senter, mematikannya kemudian menarik Beben bersembunyi di dekat balik pohon.
“Makhluk apa yang terbang tadi?” bisik Beben.
“Sssttzz! Jangan bersuara atau dia akan mendengar kita.”
“Aku bisa mati berdiri disini! Bagaimana jika dia melihat kita?”
“Diam lah Ben, dia masih di sekitar sini.”
Pertengkaran, peperangan panjang di menangkan oleh sosok penguasa kejahatan Telaga berkabut. Dia berhasil melenyapkan siluman hitam yang bersemayam di dalam keris keramat. Kam muntah darah, nyawanya sudah di ujung tanduk. Tubuhnya di tenggelamkan di dalam Telaga. Sosok Rambe yang penuh amarah, dia ingin menghabisi semua manusia yang tinggal disana.
Mengerahkan kembali pasukan arwah tengkorak, Murga menghentikannya dengan merubah wujud yang sama sepertinya. Jari jemarinya lebih panjang menjuntai, amarah Rambe reda saat Murga menariknya menuju Gumamtong yang sudah menjadi Tulang tengkorak.
“Arrghhh! Hiks!” tangisan hantu Rambe.
“San, aku takut sekali. Ayo kita kembali” bisik Beben.
Mereka keluar dari hutan mengandalkan cahaya merah menyala dari langit.
__ADS_1