Telaga Berkabut

Telaga Berkabut
Praduga tak bersalah


__ADS_3

Sejak saat itu, Rina banyak mengalami kejadian aneh dan keganjilan lainnya. Dia menemui si mbok di dapur memperhatikan cara memotong daging si mbok menggunakan pisau daging. Dia ingat hari ini kakinya terluka. Tapi wanita itu berdiri tegak bahkan bisa berjalan kesana kemari mengambil bahan dapur lainnya.


“Bagaimana luka mbok? Masih sakit?”


“Nggak sakit sama sekali non.”


Bekas robekan luka terlihat seperti daging terkelupas memperlihat tulang terbuka lebar. Keanehan pada kakinya yang tidak mengeluarkan darah sama sekali. Dia menahan pertanyaan tentang luka pada wanita itu. Memperhatikan tatapan dan cara bicaranya yang dingin.


“Nyonya mau makan apa hari ini?”


“Seadanya bahan yang ada di dapur aja mbok. Oh ya pasar disini dimana letaknya mbok?”


“Pasar sangat jauh nyonya. Kalau mau belanja harus keluar dari perbatasan hutan."


“Oh gitu ya mbok. Tolong sampaikan ke mang Kurat jangan lupa di sapu bekas rumput yang terpotong.”


“Ya nyonya.”


......................


Suara kaki berlarian di tangga, keras pintu membanting, bunyi tipe recorder menyala sendiri. Tawa anak-anak kecil ramai terdengar jelas. Dia berlari mencari dimana Cerry. Tampak tawa keras di dalam kamar anaknya. Dia membuka pintu, semua boneka bergerak sendiri. Rina mengucapkan istighfar bergegas menggendong Cerry keluar dari kamarnya.


“Bu.. Cerry kan masih mau main”


“Temenin ibu ke rumah kaca yuk sayang.”


Tempat rumah kaca berdekatan di bagian gudang belakang. Di ujung halaman, suara mesin pemotong rumput mang Kurat masih jelas terdengar. Cerry merengek meminta boneka Teddy bear kesayangannya yang tertinggal di kamar.


“Tunggu disini ya biar ibu yang ambil bonekanya.”


Mang Kurat memperhatikan Cerry berbicara dengan sosok lain. Dia menekan tombol off pada mesin. DIa mengernyitkan dahi, kejutan suara pekikan keras meneruskan kembali pekerjaannya agar cepat segera selesai. Salah satu pekerja yang misterius itu menaiki mesin pemotong rumput sesekali menoleh melihat Cerry bercengkrama dengan para arwah anak-anak manusia yang bergentayangan.


Seketika mesinnya terhenti, ada tikus mati yang menyangkut. Dia menghentikan mesin, melemparkan tikus mati itu. Saat dia menoleh lagi, Cerry sudah tidak ada di dalam rumah kaca. Dia meninggalkan boneka Teddy Bearnya di salah satu kursi.

__ADS_1


“Kemana perginya anak kecil itu?” gumam mang Kurat.


Di dalam kamar Cerry, boneka-boneka yang tampak hidup tadi kembali tersusun di tempatnya masing-masing. Dia berpikir apakah si mbok yang sudah merapikannya. Dia mencari boneka Teddy Bear kesayangan Cerry diantara boneka yang lainnya.


“Tadi sewaktu mbok merapikan boneka, di letakkan di bagian mana boneka Teddy bear yang biasa Cerry pegang?”


“Si mbok baru saja naik ke lantai atas nyonya. Belum masuk ke kamar nona Cerry.”


Rina berlari keluar, dia hanya menemukan boneka Teddy Bear anaknya di dalam rumah kaca. Di menghampiri mang kurat menanyakan dimana perginya Cerry. Wajahnya pucat, gelagat aneh si mamang di tangan kanan memegang bangkai tikus-tikus mati.


“Mang Kurat, mamang dengar saya ngomong nggak?”


“Maaf nyonya, saya tidak melihat nona Cerry.”


“Cerry! Sini gantian biar kami yang dorong kamu di ayunan.”


Anak-anak kecil itu menghilang melihat sosok berbaju merah terbang mendekat. Wajahnya mengerikan, rambut panjang bergerai menyapu tanah. Dia membawa Cerry menghilang, sebelumnya Cerry berteriak memanggil ibunya.


Kring


“Walaikumsalam, mas kamu sekarang pulang mas. Cerry hilang!”


“Jangan-jangan anak itu masuk di bagasi mobil lagi! Sebentar biar mas suruh pak Kas.”


“Mas dengerin dulu, dari tadi si Cerry sama aku. Baru sepuluh menit aku tinggal untuk mengambil boneka Teddy bear di kamar, dia udah nggak ada di rumah kaca. Pokoknya kamu sekarang pulang”


Penekanan not nada suara tinggi baru terdengar di bibir Rina yang biasanya lembut padanya. Sandika memanggil pak Egen agar menggantikannya melanjutkan rapat dan menuntaskan semua pekerjaan. Dia kembali ke rumah, di perjalanan menepikan mobil menuju pasar yang berada di kampung.


Sandika membeli tiga ekor kelinci putih, dia juga membeli stok makanan kelinci selama satu minggu dan meminta pak Kas agar mengingat letak si penjual agar bisa kembali membeli makanan kelinci itu ketika sudah habis. Sesampainya di rumah, Rina memeluk Sandika. Dia menangis memaksa memperbolehkan dirinya masuk ke dalam hutan untuk mencari anaknya.


“Kalau gitu aku juga ikut!”


“Ayo cepat mas, sebelumnya aku mau menunjukkan gambar ini.”

__ADS_1


Rina menjelaskan semua perkataan Cerry mengenai gambarnya. Sandika yang jadi salah sangka berpikir bahwa Murga sudah membawa lari anaknya.


“Mas, aku ingat Cerry tadi pagi main ke Telaga berkabut.”


“Apa? Kenapa Cerry bisa tau tempat itu?”


“Katanya dia main sama kakak.”


Pikiran Sandika yang sudah tidak menentu. Dia tidak menyangka wanita yang pernah dia cintai menjadi ingin balas dendam setelah mengetahui siapa Cerry dan Rina. Sandika berlari masuk ke hutan, Rina kewalahan mengejar langkahnya yang cepat. Melewati pepohonan, jalan licin di sela gerimis yang datang.


“Mas tunggu aku!” jerit Rina.


Mendung di langit menjelang petang. Suara aneh hewan malam bermunculan, dia menggenggam erat lengan Sandika.


......................


“Kakak, berikan anak itu pada ku” ucap Murga.


“Tidak! Dia sumber masalah di hidup mu! aku sudah mengingatkan pada pria pendusta itu agar tidak menyakiti mu tapi dia malah menambah rasa sakit di hati mu dengan menghadirkan kedatangan manusia-manusia penipu ini!”


“Mereka nggak salah kak. Anak kecil ini tidak tau apa-apa.”


Byuurrr


Rambe menenggelamkan Cerry ke dalam air. Kepalanya di tekan kuat hingga masuk ke dalam dasar air. Murga masuk ke dalam air mencari anak yang di sembunyikan Rambe. Dia mengeluarkan mata setan, selama beberapa menit terus mencari tapi tidak terlihat sekalipun berada di tumpukan tulang belulang. Murga mengubah dirinya menjadi sosok menyeramkan, melawan kekuatan saudaranya sendiri demi menyelamatkan Cerry.


Nyawa anak itu sudah di ujung tanduk, mata setan sempurna menyala menarik Cerry ke permukaan. Dia atas Telaga Berkabut, kunang-kunang mengitari tempat itu sehingga kabut putih tidak terlihat di sekitar. Melihat Cerry berada di genggaman Murga dengan keadaaan pingsan. Sandika salah paham membacakan ayat kursi kemudian melemparkan tasbih miliknya menghanguskan sebagian tubuh Murga.


“Argghhh!”


Murga menghilang di udara.


“Ahihih, dasar kau manusia pendusta. Hati mu tetaplah hitam dan rapuh. Tidak bisa membedakan satu yang dari kami yang menggoda mu! ahihi! Terimalah kutukan Telaga berkabut!”

__ADS_1


Rambe dan Murga menghilang, kabut putih pekat mulai menjalar. Sandika menggendong Cerry, Rina mengikuti di sampingnya. Mereka meninggalkan tempat itu sepanjang jalan cahaya kunang-kunang membuka jalan memberi penerangan sampai mereka bertiga masuk ke depan gerbang halaman rumah.


“cahaya kunang-kunang ini masih tetap setia membantu ku. Aku masih tidak percaya dan menyangka jika Murga melakukan hal ini pada Cerry” gumam Sandika.


__ADS_2