
Kematian adalah sesuatu yang pasti. Sesampainya di rumah sakit, Sandika melihat keluarga sudah berada disana. Selang dan alat penyambung hidup sudah di lepas, dia sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit. Minah menangis memeluk anaknya, air mata tidak berhenti berderai mengusap wajah dan kepala anaknya tanpa henti.
“Ibu, ikhlaskan lah aku” ucapnya terbata.
“Tidak! Warid anak ku! Hiks!”
“Sudah bu, sudah” kata Supar mengusap punggungnya.
“Mas warid, jangan tinggalkan kami” kata Rina menangis pilu.
Cerry menangis melihat sosok paman yang sangat menyayanginya itu terlihat kesakitan.
“Anak baik dan pintar nggak boleh nangis” kata Warid.
“Mas Warid istighfar mas, ayo di lawan penyakitnya mas.” Sandika mengusap telapak kaki pria itu terasa sangat dingin.
“Sandika, Rina sini mendekat.”
Mereka berdua menuruti perkataan Warid. Sandika berada di sisi kiri sedangkan Rina di sisi kanan. Tangan Warid bergetar, kaku dan dingin menyatukan tangan Rina dan Sandika. Di atas dadanya yang juga terasa bagai sebongkah es itu menekan tangan keduanya.
“Sandika, ini adalah keinginan terakhir ku. Menikah lah dengan Rina adik ku, walau dia adik tiri tapi dia adalah wanita yang sangat baik. Aku mohon kabulkan lah permintaan terakhir ku ini.”
“Mas Warid, jangan berkata seperti itu. Mas akan sembuh dan kembali mengganggu bermain bersama Cerry keponakannya mas. Sandika juga sudah memiliki seorang kekasih. Aku tidak mau menjadi orang ketiga di dalam hubungan mereka” kata Rina menarik tangannya.
“Sandika,kau mau menuruti permintaan terakhir dari seseorang yang jahat ini kan? Dan juga___” nafas Warid perlahan mulai berhenti.
“Warid anak ku! Hiks.”
“Mas Warid!”
“Om Warid, Om mau kemana? Cerry ikut ya."
Pandangan anak kecil itu menatap di sebelah kanan Warid.
Dia berlari keluar pintu seperti sedang mengejar sesuatu. Sandika ikut mengejar anak kecil itu hingga dia berhasil menangkapnya saat letak kaki Cerry berpijak pada ketinggian rumah sakit.
__ADS_1
“Cerry hati-hati nanti kau bisa jatuh” ucap Sandika.
“Tapi ayah, paman terbang kesana.”
......................
Rumah di penuhi para pelayat sebelum jenazah itu sampai ke rumahnya. Kasur putih sudah di letakkan di pertengahan ruangan. Yasin di bacakan beberapa orang-orang yang duduk di dekatnya. Dari kejauhan sirine ambulance membawa jasad yang tampak kaku membiru itu masuk ke dalam. Isak tangisan langsung memeluk anaknya itu.
“Sudah Minah, ikhlaskan kepergian anak kita.”
“Apa? Kau pikir dengan mudah nya aku mengikhlaskan putra ku yang tewas akibat ulah anak mu Lina. Aku mengetahui semuanya! Oh ya, kau kan masih punya satu anak dan satu cucu bukan? Berbahagialah dengan mereka!”
“Kecilkan suara mu, banyak pelayat yang hadir.”
Orang-orang yang di dekat mereka mendengar jelas pertengkaran itu. Tiba-tiba mata Minah melotot melihat salah satu pelayat yang memasuki pintu. Dia sangat mengenal jelas siapa orang tersebut. Seorang wanita berpakaian hitam di hiasi kerlip manik-manik memakai kaca mata besar di belakangnya di susul seorang wanita muda berpakaian hitam pula menggendong seorang anak kecil mendekatinya. Minah memalingkan wajah, dia beranjak menyuruhnya berpindah posisi di sudut dinding.
“Mbak Minah, saya turut berduka berbela sungkawa atas meninggalnya Warid.”
“Terimakasih. Tapi kau tidak perlu repot-repot datang kesini” balasnya berbisik.
Wanita yang enggan di panggil dengan sebutan ibu itu selalu membiasakan diri di panggil dengan kata Tante meski walau ikatan kakak tiri itu dia sangat dekat dengan Warid. Minah sering melihat Rina dan Cerry berkunjung ke apartement Warid. Kedekatan bagai kakak dan adik kandung membuat hubungan sebuah keluarga itu sedikit akur.
“Tahan emosi mu Minah, Warid sudah menitipkan Rina pada Sandika” bisik Supar.
Bunga-bunga bertaburan, daun pandan yang harum dan air Al kautsar bersama do’a yang di sampaikan untuk Almarhum. Tangisan orang-orang yang di tinggalkan masih terdengar sayup-sayup mengelilingi kuburannya.
“Paman” ucap Cerry melambaikan tangan di salah satu pohon berjarak sedikit jauh dari mereka.
Para pelayat dan pengantar jenazah kembali pulang ke rumah mereka masing-masing. Kini yang masih tertinggal ada Sandika dan keluarga besar Warid. Pendamping Sandika menghampiri membisikkan sesuatu kepadanya memberikan sebuah hand phone. Setelah membaca Sandika meminta ijin berpamitan pada mereka semua.
Dia juga tidak melupakan Cerry, sebelum pergi dia mengusap kening anak kecil itu dan memeluknya.
“Dah ayah...”
Perkataan Cerry itu membuat Minah dan lainnya terkejut. Ingin sekali Minah menanyakan banyak pertanyaan pada Rina, mengingat dia berada di dekat makam putranya maka dia pun mengurungkannya dan menarik Supar ikut dengannya.
__ADS_1
“Kita pulang masing-masing saja” ucap Minah ketus.
“Ibu, kenapa kita tidak ikut bersama kakek?” tanya Cerry menarik ujung bajunya.
“Sayang, kita pulang sama nenek saja ya, ayo pamit dulu ke om__” jawab Rina.
......................
Berita dari keluarga Beben bahwa dia mengalami kondisi kritis. Sandika memerintahkan Egen merujuk pengobatan Beben keluar negeri dan mengurus administrasinya. Sebelumnya dia minta ijin pada pihak keluarga beben setelah mendapatkan persetujuan maka dia pada hari itu memindahkan sahabatnya itu. Dia meminta pak Kas segera melajukan kendaraan ke kota X. Sosok sahabat yang dia khawatirkan itu membuat ketakutan di benaknya.
“Kita adalah Lima serangkai yang sudah terpecah belah. Gama dan Arya menghilang di hutan. Herman mendadak meninggal di serang penyakit yang mematikan. Kali ini aku tidak mau kau juga pergi Beben” gumam Sandika.
Kisah kutukan Telaga berkabut menuai cerita beruntun. Sesampai di rumah sakit, dia berlari ke ruangan Beben melihat keadaan sahabatnya itu.
“Bagaimana keadaannya dok? Jika ada keperluan atau pengobatan lain yang lebih modern untuk menyembuhkannya tolong segera katakana pada saya” ucap sandika.
“Tekanan suhu tubuhnya sudah kembali normal. Kami akan memperlajari lebih lanjut penyakit pada kelainan jantung pasien. Saya pamit karena akan melakukan operasi.”
“Baik terimakasih banyak dok."
Melihat wajah pucat Beben, dia membacakan surah pendek di sampingnya perlahan suara pria itu membangunkannya.
“Sandika.”
“Alhamdulilah kau sudah Sadar, aku sangat khawatir.”
“Sandika maafkan aku.”
“Ya aku sudah memaafkan mu jauh hari sebelum kau mengatakannya. Jangan berpikir hal yang menyulitkan mu, cepat lah sembuh.
“Terimakasih, seharusnya di hari itu aku tidak meninggalkan mu sendiri.”
Dia menunjukkan sebuah cakaran di pergelangan tangan kiri. Luka membusuk terlihat ada hewan kecil di dalamnya, uratnya berwarna merah menonjol di sekujur badan. Sandika meraih tisu di atas meja kecil, dia menekan luka mengambil hewan-hewan kecil yang menggeliat di dalamnya. Luka itu sengaja tidak di balut perban hanya di beri tetesan antibiotik di atasnya. Beben meringis kesakitan, dia bergetar menghalangi Sandika menyentuh lukanya lagi.
“Sudah cukup San.”
__ADS_1