Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Salah?


__ADS_3

Masih di rumah Robert.


Bruno menoleh kebelakang dia meletakkan jari telunjuk dibibirnya, ''Diam! Kau tertawa seperti itu bagaimana jika si pria tua itu mendengar tawamu? Menyadari keberadaan kita yang sedang memantau dia?'' Bruno berbicara setengah berbisik.


George mengangguk, ''Sumpah demi Tuhan, aku tidak bisa menahan tawa lagi. Sebenarnya berapa usia si Albert? Kenapa dia terdengar sangat bodoh?'' George begitu penasaran.


Aneh mengapa mereka jadi sibuk menghitung umur Albert? George mengamati wajah Bruno dia tidak sabar menunggu jawaban dari Bruno.


''Dua puluh tujuh tahun, usianya. Ibunya meninggalkan dia sejak dia berusia dua puluh dua tahun. Mengapa kau seperti penasaran dengan anak bodoh itu?" Ia bertanya setelah menjelaskan secara detail kepada George.


"Sudah paham? Sebenarnya kau juga tahu karena kau yang pegang data diri mereka. Map biru yang berisi data diri mereka, kau simpan dimana?" Bruno menatap George.


"Map itu sudah diambil Tuan Bos.'' sahut George.


''Ha? Oh...George kau ceroboh sangat ceroboh seharusnya kau tidak memberikan map itu kepada dia dulu.'' Bruno mengusap wajahnya dengan kasar. Bruno masih ragu tentang data diri Lea. Dia kwatir jika sudah berada di tangan tuan bos maka tamat sudah riwayat Lea.


George mengernyit, Dia belum paham maksud Bruno. Biasanya semua data diri target langsung mereka serahkan ke pria yang menjadi tuan bos.


''Memangnya ada apa? Apa ada yang kau sembunyikan dari aku?'' George mendekati Bruno.


''Nanti aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang kita tunggu wanita yang bekerja sama dengan Robert itu datang. Benar, tidak dia datang mengunjungi Robert?'' Bruno sadar atau tidak perkataan itu keluar begitu saja dari mulutnya.


''Kau, tidak salah bicara? Bukannya wanita itu sudah kita tangkap? Bukannya, wanita itu sedang kau kurung di dalam kamar mu, mana bisa dia datang menemui Robert?'' George tersenyum.


''Ah...aku lupa.'' Bruno tersenyum sinis, ada apa dengan perasaannya. Dia baru ingat gadis itu lagi ngapain saja. Sekarang sudah tengah malam dan oh gadis itu sudah makan atau belum?


Bruno dan George kembali fokus dengan tujuan mereka. Tampak Robert membanting pintu dengan kasar lalu pergi ke depan rumah, sementara Abert tidak terdengar suaranya sama sekali.


''Bruno, jangan-jangan Albert sudah dibunuh Robert?'' George bertanya, dia heran tadi suara Albert masih terdengar tapi sekarang suara Albert tidak terdengar sama sekali.

__ADS_1


"Sudah diam dulu. Lihat, Robert sedang berbicara dengan siapa itu?" Mereka berjalan jongkok berpindah ke arah depan dimana Robert sedang berbicara dengan seorang wanita ya wanita.


Bruno, menepuk punggung George, "Sepertinya aku harus pulang sebentar." Bruno berkata lalu dia bergegas ke tempat motor yang tadi mereka sembunyikan.


George segera mengejar Bruno, "Kau meninggalkan aku sendiri disini? Tidak, aku harus ikut bersama kau." George dan Bruno meninggalkan Robert dan wanita itu di depan rumah tepatnya dibawah pohon cemara.


Bruno tidak mendengarkan ucapan George, dia terus berjalan. Ya, Bruno tidak menyangka Lea ternyata gadis yang licik, Bruno sudah yakin dia benar-benar mengikat gadis itu dengan kuat dan Pintu itu sudah dikuncinya dan kunci kamar itu?


Bruno meraba-raba kantong mantelnya, memastikan kunci kamar itu benar ada di dalam kantong mantel. Yakin kunci itu ada di kantong mantelnya, Bruno menghela napas, dia memejamkan matanya.


"George tadi orang yang sedang berbicara dengan Robert itu benar-benar seorang wanita?" tanya Bruno selidik.


"Ya, dan busana itu sama seperti yng dikenakan Lea. Kau yakin tidak melakukan kesalahan?" George balik menuduh Bruno.


"Tidak, aku tidak melakukan kesalahan. Aku yakin ia benar-benar terikat dan aku mengunci pintu dengan benar. Kamar itu tidak memiliki kunci cadangan lalu dari mana wanita itu kabur?" Bruno mengangkat dahan-dahan yang tadi dipakai untuk menutup motor keduanya.


"Ayo. berangkat!" Bruno menstarter motornya dan benar saja dia melajukan motornya dengan sangat kencang. George mengejar dia dari belakang hingga mereka saling berjarak begitu jauh.


Setiba di villa miliknya, Bruno melepas helm yang dia kenakan ia meletakkan helm itu asal hingga helm berwarna hitam itu jatuh dari motor. Bruno tidak peduli yang ada di otaknya Lea dan Lea.


Dia berlari menelusuri koridor rumahnya, dia menaiki anak tangga dengan sangat cepat. George yang baru tiba meraih helm yang berada di bawah dan meletakkan helm itu ditempat helm yang berada di bawa area parkir bawah tanah dengan baik dan benar


Bruno sudah berada didepan pintu kamar Lea. Dia mengambil kunci dari kantong mantelnya, Bruno segera memutar kunci di gagang pintu kamar Lea.


Ceklek...


Bruno menghentikan langkahnya, dia memutar badannya tidak ingin menatap ke arah kamar dengan kedua tangan berada dipinggang. Bruno menggigit bibir bawahnya, kenapa dia tidak pernah percaya dengan perasaan nya?


George berdiri bersama Bruno didepan pintu kamar Lea. Ia melirik ke dalam kamar yang gelap karena lampu tidak dinyalakan.

__ADS_1


"Bagaimana gadis itu ada? Atau dia sudah kembali?Atau dia benaran pergi?" George seperti memancing amarah Bruno.


Bruno menggeleng, "Apa kau tidak lihat? Dia sedang berbaring di ranjang itu? Kenapa kau tidak menggunakan matamu dengan baik?" Bruno menaikkan sudut bibir atasnya.


"Tapi, bisa, 'kan jika dia baru datang? Berpura-pura tidur seolah tidak terjadi apa-apa?" George terus memancing Bruno.


"Kau tidurlah.Biar aku yang mengurus dia, jika dia benar-benar kabur aku pastikan kedua kakinya akan aku patahkan." Bruno membunyikan geraham nya. Sumpah telinga nya sungguh panas, hatinya bergemuruh terpancing omongan George.


Tapi, bisa saja ucapan George itu benar. Semua tau bagaimana liciknya seorang mata-mata mereka itu sangat licik dan cerdik. Mereka akan pura-pura bodoh didepan lawan, mereka akan terlihat licik ketika lawan itu mulai melemah.


George sudah meninggalkan Bruno didepan kamar Lea. Sesuai perintah Bruno dia membaringkan tubuhnya yang lelah diatas ranjang.


Bruno bergegas masuk ke kamar, sebelum masuk ke kamar Lea, dia menyalakan lampu kamar Lea. Hatinya seperti dicubit ketika melihat Lea sedang tidur pulas dengan tubuh ditelungkup mungkin menahan dingin nya udara malam di Spanyol.


Bruno masuk, mengamati tali di tangan Lea, dan tali yang dia ikat dikaki ranjang. Tidak ada yang berubah, pergelangan Lea semakin membengkak dan mulia menghitam.


Dia menarik kasar tubuh ramping gadis itu, " Bangun, Nona Lea Andrea! Kau jangan berpura-pura tidur, aku sudah mengetahui kau sebenarnya." Bruno menarik kasar sweeter berbulu warna coklat yang dikenakan Lea.


Lea menggerakakn badannya dia menolak sentuhan Bruno, "Aku lapar, tolong beri aku makan tubuhku lemas, tenggorokanku kering." Lea masih belum membuka matanya.


"Bangun!" bentak Bruno.


Lea menyadari suara itu. suara om Es. Dia membuka matanya. kelopak matanya melebar. Benar, yang menggerakan tubuhnya tadi Bruno.


Lea bergegas duduk diatas ranjang, dia menunduk dan mengamati bagian dadanya. Yakin tubuhnya masih aman dan kancing bajunya juga sama sekali tidak terbuka.


Lea menghela napas, "Kenapa kau selalu menggunakan kekerasan? Sesekali bersikap sopan dan lembut terhadap tamu apalagi tamu itu seorang wanita." Lea mengelus pergelangan tangannya yang teramat sakit.


"Sudah tidak perlu mengalihkan pembicaraan. Turun dari ranjang itu sekarang!" ucap Bruno, "Ini bukan permintaan tapi perintah." tandasnya.

__ADS_1


__ADS_2