Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Drama kedua.


__ADS_3

"Bagaimana kau sudah mengurus mereka?" Bruno berbicara melalui sambungan earphone sembari mengeratkan tali dipergelangan kaki Lea.


"Argh, pelan-pelan." rintih Lea.


Bruno menempel jari telunjuk dibibirnya meminta Lea diam, "Sssst."


"Kau benar-benar menyakiti ku" keluh Lea.


[Kau apa,'kan gadis itu? ]


George penasaran dengan suara rintihan Lea.


"Abaikan dia," bentak Bruno


[Baiklah. Sudah, satu tewas itu karena dia melawan.]


Lanjut George.


"Kau tahu siapa mereka?"


[ Seperti dugaan kita. Mereka itu penjil**at si tua bangka itu.]


"Baiklah. Kau tidur lagi aja ini masih malam besok kita akan berangkat pagi." Mendengar jawaban George, Bruno meminta George melanjutkan tidurnya.


[Kau? Apa kau akan menemani gadis itu?"]


George mencebik, sebenarnya bisa saja dia naik ke lantai tiga dan melihat keadaan yang sementara terjadi dikamar. George pikir itu hanya membuang waktu tidur dia saja.


"Kau! Dia akan Aku hukum dengan caraku!" tekan Bruno.


[Ya,ya,ya!] George tertawa menggoda.


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


"Nona Lea Andrea, tindakan mu malam ini sudah diluar batas kesabaran aku." Bruno menatap tajam Lea. Dia bersender di dinding kamar dengan gaya menyebalkan.


Lea masih diam. Dia tidak membayangkan bagaimana jika peluru tadi datang mengenai kepalanya. Jantungnya masih berdetak sangat kencang dari detak normalnya. Lea pikir tadi dia akan mati ditangan pria bertopeng itu jika dia tidak dibawa Bruno.


"Lea Andrea! Apakah kau tidak mendengar pertanyaan dari aku?" bentak Bruno lagi.


"Aku mau tidur, pertanyaan mu besok pagi baru aku jawab." Lea membaringkan tubuhnya diatas ranjang.Tidak peduli dengan tatapan tajam Bruno. Lea merintih menahan sakit dikakinya saat dia hendak menaikkan kaki satu diatas ranjang juga membuat tarikan tali mengencang di pergelangan kakinya.


"Argh...Kau benar-benar gadis yang menyebalkan. Ternyata dugaan aku selama ini benar? Kau, itu nona Al__ Oh Lea, kau sungguh membuatku bodoh!" Bruno menarik kasar rambutnya.


Penyelidikan Bruno kali ini benar-benar pelik. Piagam penghargaan yang di dapat selama sepuluh tahun berturut-turut sia-sia sudah dengan dia menangani kasus Lea atau entahlah siapa sebenarnya nama gadis yang menjadi target mereka? Yang Bruno mau gadis ini bernama Lea yang dia cari.


"Kau, yang membuat semuanya jadi rumit," desis Lea.


"Kau benar-benar membodohi aku!" balas Bruno.


Lea, mencebik, "Bukannya semua bukti tadi malam sudah menegaskan jika aku bukan gadis yang kau target? Lalu, mengapa sekarang kau kembali menuduhku?" Lea pikir dia harus bersuara.


Lea terlalu gegabah, gadis itu masih tempramental dia tidak memikirkan efek ke depannya. Lea, selalu bertindak mengikuti emosinya. Coba saja dia menahan diri untuk tidak kabur malam ini, pasti dia tidak dihukum lagi dan tidak akan dituduh lagi sebagai Nona__ yang bekerja sama dengan Robert sebagai penyalur perdagangan ___.


"Kau tidak tau betapa aku tersiksa disini. Aku sebentar lagi memasuki usia tujuh belas tahun berarti aku harus mengurus_" Lea menitikkan air matanya jika membahas umurnya.


"Kau mulai membohongi aku lagi? Aku tau surat yang didalam tas mu itu hanya tipuan saja untuk meloloskan diri dari penyelidikan?" tandas Bruno.


"Terserah apa katamu. Aku sudah yakin,'kan kau itu surat dari ayahku." lirih Lea sembari mengendikkan bahunya.


Ayah Lea seorang profesor kaya raya di Spanyol. Sayangnya, didalam surat itu nama Ayahnya selalu ditutupi demi menjaga privasi Lea dan keluarganya. Jadi, membuat Bruno kesulitan untuk mengetahui siapa Lea sesungguhnya.


Bruno menatap tak percaya dia mengingat lagi tulisan tangan ayah Lea. Dia berpikir begitu keras, tapi dia kesulitan menemukan jawabannya. Bruno berharap semoga dia bisa menemukan kode atau apalah yang bisa membuktikan omongan Lea itu benar. Karena, gadis ini sering berubah-ubah dalam ucapan dan tindakannya.


Bruno ingat tempat dia menyimpan tas Lea semalam. Dia mendekati nakas lalu menarik laci nakas. Bruno mengepal tas itu sudah tidak ada. Semakin memperkuat dugaan Bruno. Pria dingin itu berdiri dengan kesal, dia menatap Lea.


''Dimana tasmu itu? Jangan katakan jika kau sudah menghilangkan semua itu!'' Bruno mengacak pinggang.

__ADS_1


Sungguh Bruno sangat Lelah menghadapi gadis beliau ini. Dia tidak yakin dengan seratus pertanyaan atau seribu atau lebih kepada Lea. Lea tidak akan jujur kepada dia malam ini, lalu sampai kapan?


Sementra kasus dia masih banyak, dia harus menangksp Robert dan kedua saudaranya. Bruno pikir jika Lea bukan Nona A___setidaknya dia jangan mempersulit dirinya untuk menyelesaikan kasus ini.


Bruno menendangkan kakinya ke laci nakas karena begitu kesal. Sementara Lea, hanyak mengendikkan bahunya, ''Sudah aku bilang surat itu tidak ada hubungannya dengan penyelidikanmu yang keliru itu,'' Ia memejamkan matanya. Mengatur detak jantung dia yang hampir copot karena kejadian tembak-menembak tadi, ditambah Bruno yang masih tetap pada pendiriannya menuduh Lea__.


''Aku, bilang tinggalkan tempat ini karena aku yakin kau tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari aku.'' sambung Lea lagi.


Bruno menggertakkan gigi, '' Apa kau tidak akan mengatakan sesuatu untuk menyelamatkan dirimu? Misalnya dimana tasmu itu?'' Pertanyaan menyebalkan yang sama yang Lea dengar.


Lea bangun dari ranjang, dia duduk ditepi ranjang, tanganya menggosok matanya. Dia brusaha menahan dirinya, untuk menjadi gadis baik didepan Bruno. Karena, kecerobohan dia tadi membuat Bruno hilang kepercayaan terhadap Lea.


Lea menatap dalam wajah Bruno, pria ini sangat berbahaya jika dia marah seperti ini, bisa saja dia menyakiti Lea lebih dari ini demi misinya yang masih abu-abu. Lea, juga tidak mengerti misi apa yang sementara Bruno jalankan, dia tidak mengerti apalagi misi Bruno ini berkaitan dengan paman Robert dan kelurganya.


Lea, sadar dia harus bersikap manis supaya dia tidak diusir dari rumah ini lagi terlepas dari kecerobohan dia tadi. Dari kesalahan dia tadi, Lea sadar nyawa dia saat ini terancam. Lea pikir lebih baik dia bertahan di rumah Bruno dengan berpura-pura menjadi gadis yang manis dan baik.


'Okey Fine,' batin Lea dalam hati.


''Paman es, kau menunggu jawaban yang bisa kau percaya dan benar, bukan? Baiklah,'' Lea menghela napas, '' Maaf paman, kau telah salah menangkap orang. Aku, bukan gadis yang kau cari.'' sorot mata Lea meyakinkan Bruno.


Ya, ini jawaban sesungguhnya.


''Hah!'' balas Bruno, wajahnya bingung ingin menertawakan kebodohan dirinya. Bayangkan gadis lima belas tahun bisa menggoreng dia dari kiri ke kanan dan kanan kembali ke kiri?


''Apa kau tidak memiliki jawaban yang sebenarnya?'' Bruno menjatuhkan tubuhnya dilantai kamar, dia menarik kasar rambutnya dengan wajahnya dia letakan di kedua lututnya.


''Memalukan, usiaku tiga puluh delapan tahun. Terjun di dunia detektif sepuluh tahun. Lucunya, saat ini aku dibodohi gadis berbau kencur!'' desis Bruno , ''Hahaha...'' Ia tertawa meledek dirinya.


Lea, mengernyit, '' Paman kau masih sehat, 'kan? Kenapa kau begitu terobsesi dengan kasus ini?'' Lea, ingin berdiri menghampir Bruno tapi ikatan dikakinya sungguh membuat dia susah bergerak.


''Kau membuatku tidak waras. Kau tidak percaya seberapa pentingnya harga diriku di kasus ini. Bukan masalah naik jabatan atau bonus tapi ini harga diri.'' Bruno menatap nanar Lea, '' Can I trust you?Please help me, give me the real answer.''(bisakah aku percaya kamu? Tolong bantu aku, beri aku jawaban yang sebenarnya.)'' Bruno masih tertawa tanpa ekspresi.


'Terserah kau paman es, kau boleh percaya atau pun tidak itu kembali kepada keputusanmu,'' imbuh Lea.

__ADS_1


__ADS_2