
Usai makan malam bersama, Bruno pun pamit.
''Tidurlah. Besok pagi aku akan menjemputmu disini pukul tujuh pagi.'' ucap Bruno sebelum meninggalkan kamar Lea.
''Hmmm,''
Bruno keluar dari kamar Lea, seperti biasa dia selalu mengunci pintu kamar Lea. Gadis itu hanya bisa menaikkan bahunya dia heran kenapa Bruno masih belum percaya dengan dia? Padahal Lea sama sekali tidak ingin kabur dari tempat Bruno, setelah kejadian ditaman itu.
Bruno menatap sebentar pintu kamar Lea, lalu Bruno pergi meninggalkan kamar Lea, melewati koridor menuju ruang kerjanya. Karena George sudah menunggu dia diruang kerja.
''Sudah?'' Baru saja Bruno melangkah masuk George langsung menyemprot Bruno dengan pertanyaan.
''Sudah?'' Bruno tersenyum sinis. Dia pun langsung duduk disofa berhadapan dengan George.
''Ya, sudah melepas kangen. Ah, aku berharap aku belum mengenal kau, Bruno.'' George tersenyum usil seraya menyodorkan dokumen untuk Bruno.
''Ck, Aku hanya mengecek keadaan dia.'' bohong Bruno sembari membaca dokumen itu dengan seksama.
''Ya, aku harap kau tidak benar-benar jatuh cinta.'' sahut George.
Bruno melirik George sebentar lalu kembali fokus membaca dokumen itu.
''Besok kita harus segera ke Oliver menyerahkan ini semua untuk dia. Aku pikir sudah waktunya kita harus menentukan kehidupan kita,'' ujar Bruno. Dia meletakkan lagi dokumen itu diatas meja.
''Hmmm, Setelah itu kau akan kemana? Tetap disini atau menikah?'' pertanyaan bodoh itu membuat Bruno tersenyum geli.
''Aku tetap disini aku akan berkebun dan ya mungkin...'' Bruno menghentikan bicaranya, dia menghela napas, ''Akan menikah jika dia mau, aku tidak yakin dia terima aku,''
Bruno takut semua yang dia rencanakan gagal. Tapi, sebelum itu dia ingin menuntaskan semua urusannya. Bruno, pria yang bertanggung jawab tentu dia tidak suka menggantungkan pekerjaannya.
''Kau?'' lanjut Bruno menatap George.
''Aku akan menemani nenekku didesa. Aku akan menggantikan nenekku merawat kebun anggur miliknya.'' sahut George.
♥️♥️🥰
__ADS_1
Jam alarm berbunyi, Lea mengerjap tangannya meraih jam kecil disamping bantalnya lalu mematikan alarm itu. Dia bergegas bangun, Lea tidak ingin terlambat. Gadis itu sangat antusias dia penasaran dengan ajakan Bruno.Karena, tidak seperti biasanya Bruno mengajak dia pergi ketempat pribadi pria itu.
Lea berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Usai membersihkan dirinya ia keluar dari kamar mandi. Lea, mengenakan pakaiannya. Namun, gadis itu seperti salah memasang alarm malam tadi. Dia mengernyit ketika pintu kamar terbuka, tanpa permisi pria itu langsung menerobos masuk. Untung saja Lea sudah selesai mengenakan pakaiannya.
''Sudah?'' tanyanya tanpa merasa bersalah.
''Bisa nggak sih, masuk itu pintu diketuk?'' protees Lea.
Bruno hanya tersenyum sinis, ''Kau tidak telanjan*g, 'kan? Lalu, mengapa kau protes, ini rumahku aku berhak melakukan apapun, termasuk, masuk ke kamarmu sesuka hatiku.'' Bruno pagi ini sangat menyebalkan.
Lea menghela napas, dia pikir percuma berdebat dengan pria ini. Dia tidak ingin merusak moodnya sepagi ini.
''Sudah, ayo bukannya kau datang untuk menjemputku, lalu mengapa kau masih berdiri di depan jendela itu?'' ujar Lea.
Lea bingung, mengapa setiap kali Bruno datang ia selalu berdiri di jendela itu? Ternyata, jendela itu tempat favorit Bruno merenung, dulu sebelum Lea menempati kamar itu. Bruno selalu mengenang semua kenangan dirinya bersama Sandra dari jendela itu.
Bruno langsung menarik tangan Lea keluar dari kamar, tanpa menunggu si empunya memberi izin. Lea hanya menurut percuma protes pasti akan dicuekin Bruno. Keduanya melewati koridor, namun tiba-tiba Lea menghentikan langkahnya, "Tunggu sebentar tali sepatu ku lepas." Lea ingin memastikan wanita paruh baya yang menatap dia dari balik jendela itu benar wanita yang lima belas tahun merawat dia.
Bruno menarik napas panjang, ''Cepatan!'' titahnya tanpa menoleh ke arah Lea.
🥰🥰🥰🥰🥰
"Akhirnya datang juga."George tersenyum menatap Lea dan Bruno.
Bruno tidak menanggapi sindiran George. Dia menarik tangan Lea menuntun gadis itu duduk disofa. Lalu, dia pun duduk disamping Lea.
''Abaikan saja semua omongan dia.'' ujar Bruno. Lea hanya tersenyum, pagi-pagi dia mendapat hiburan lawak gratis dari kedua detektif aneh itu.
Setelah semuanya duduk, George dan Bruno kembali fokus ke tujuan mereka meminta Lea datang ke ruang kerja mereka.
"Apa kau suka alkohol?" tawar George tapi dengan cepat mendapat tatapan tajam dari Bruno.
"Tidak.Aku tidak suka alkohol," jawab Lea.
"Baiklah." George tersenyum, matanya melirik Bruno, yang sedang menatap sinis dirinya.
__ADS_1
"Maaf, Nona Lea." George menghentikkan bicaranya dia menatap Bruno.
"Ya, ada apa? Sepertinya ini penting? Kau membuatku gelisah," jawab Lea. Dia mengambil cangkir tehnya lalu meneguk kemudian meletakkan cangkir itu lagi diatas meja.
"Penting. Ini sangat penting, bahkan aku tidak percaya kau bisa memaafkan kecerobohan kami," ucap George serius.
Lea semakin penasaran dia, menatap Bruno dengan isyarat menautkan kedua alisnya. Bruno mengangkat kedua bahunya, Dia mengatakan dia tidak tahu.
"Tuan, kau bisa bicara sekarang? Aku tidak suka mati penasaran," ucap Lea jujur.
"Baiklah. Kami minta maaf karena kecerobohan kami, tuan Robert tewas diruang kurungannya." George menarik napas panjang.
Lea kaget, ya walaupun Pamannya itu menyebalkan selalu ingin menikahkan dia dengan Pria yang lebih tua, selalu memukul dia bahkan sampai memaksa Albert untuk memperkosa dirinya tapi demi Tuhan, Lea tidak menginginkan kematian pamannya.
''Tewas? Maksudmu mati? Dan kamu berdua tidak mengetahui semua itu? Atau itu rencana dari kalian berdua?'' Lea mencerca mereka dengan banyak pertanyaanya.Lea Kaget dia masih belum percaya pamanya itu telah tewas, suara Lea meninggi.
Bruno menatap Lea, '' Bukannya kemarin kau menginginkan dia tewas?''
''Tidak. Kau salah tuan Bruno, aku tidak menginginkan dia tewas tapi aku ingin dia masuk penjara merasakan kerja paksa, dan hukuman lainnya seperti di pukul teman-temannya,'' sahut Lea ia sedikit membentak. Lea emang dari dulu ingin melihat Robert da kedua saudaranya masuk penjara bukan menginginkan mereka mati.
''Sama saja!'' sahut Bruno tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Bruno marah kenapa Lea masih saja memaafkan pria itu.Mata Bruno mulai memanas menahan emosi di dalam dadanya.
Lea menahan tangisnya, matanya sudah berkaca-kaca, '' Aku pikir kau cerdas tapi aku salah!'' sahut Lea tersenyum sinis. Bruno menatap tajam Lea, ia mengepal untung saja Lea wanita kalau tidak Lea pasti sudah merasakan pukulan dari Bruno.
''Bruno, kontrol emosimu.'' sela George. Pria itu tau jika Bruno sampai membentak berarti pria itu sudah sangat emosi.
''Kontrol emosiku?!'' bentak Bruno, dia sudah mulai kehilangan akal sehatnya.
''Apa kau sudah lupa dia...'' Bruno berdecih dia memalingkan wajahnya kesamping kiri.
''Hampir memperkosaku. Tapi, aku membiarkan dia hidup. Kau tau Albert itu putranya. Pemuda itu pasti sedih mendengar ayahnya tiada.'' sahut Lea.
''Aku tidak peduli soal Albert,'' sahut Bruno. Dengan emosi dia berdiri dari sofa, dia menatap George yang masih tenang saja, '' Suruh dia pergi dari sini,'' Bruno memejamkan matanya. Pria itu bisa mendengar nama 'Albert' tapi dia tidak bisa menerima Lea hampir diperkosa atau Lea mengatakan 'Robert ingin menikahkan dia dengan pria lebih tua darinya'. Dia tidak tau setiap dengar pernyataan itu emosinya bisa meledak-ledak.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
__ADS_1