Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Bruno tak berdaya.


__ADS_3

''Apa keningmu masih sakit?'' tanya Bruno perhatian.


''Sedikit lebih baik. Lupakan itu, mari lanjutkan misi kita karena sebentar lagi paman sudah pulang.'' Lea memperingati Bruno.


"Baiklah," sahut Bruno sedikit kesal karena perhatiannya seperti tidak ada arti untuk seorang Lea.


Lea, Bruno dan George kembali menggeledah isi kamar Robert. Namun, terdengar didepan pintu ada suara langkah kaki. Lea menunduk dia mengintip dari lubang kunci ternyata itu hanya Albert.


''Sssttt,'' Lea meminta kedua detektif itu diam. Dia meletakkan jarinya dibibirnya.


"Siapa?" bisik Bruno di telinga Lea.


"Si pemain wanita." Bruno mengernyit dia bingung siapa lagi yang disebut Lea. Gadis itu dengan seenaknya memberi julukan kepada orang tanpa seizin pemilik nama.


"Kau, itu mengubah nama orang seenakmu." desah Bruno.


Lea menoleh melirik Bruno, dia menaikkan satu sudut bibirnya, "Kau ini suka sekali protes. Ingat untuk saat ini aku bosnya aku yang pegang kendali jadi jangan protes apapun yang aku katakan," Lea menatap tajam Bruno.


"CK, jangan ngegas santai aja," Bruno tersenyum geli melihat sikap sok hebat Lea.


Lea kembali menegakkan tubuhnya .Setelah yakin Albert menuruni anak tangga, ketiganya perlahan membuka pintu.


''Kalian berdua keluar lebih dulu aku masih mengambil kunci kantor, biasanya paman menyimpanya dilaci nakas.'' Dia bergegas ke arah nakas tangannya menarik laci nakas benar disana ada sebuah kunci dipasang dimainan kunci berbentuk naga.


Lea, ingat dulu dia pernah melihat kunci ini di pintu kantor Robert. Tangannya meraih kunci itu lalu ia tersenyum, ''Kau harus membalas semua kejahatanmu Paman,'' gumam Lea.


"Sudah?" tanya Bruno ketika melihat Lea keluar dari kamar Robert.


"Beres." Lea mengangkat kunci keatas.


"Siip." Bruno pun mengangkat jempolnya keatas.


''Ayo,'' Lea berjalan lebih dulu lalu diikuti Buno dan George.


Lea memasukkan kunci itu dilubang pintu. Ia mulai putar kuncinya. Dia menarik gagang pintu.

__ADS_1


Ceklek...


Pintu kantor itu terbuka benar disana ada tumpukan banyak berkas. Bruno dan George saling menatap kemudian mereka menggelengkan kepala bersama. Bukan hanya Bruno dan George, Lea pun tak kalah terkejut dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


''Wow... Jujur sebelum aku kabur dari rumah ini. Aku tinggal disini enam bulan tapi aku nggak nyangka Robert bisa selicik ini dia menyembunyikan semuanya tanpa tercium oleh aku?'' Lea melipat kedua tangannya didada sembari menggelengkan kepalanya. Dia harus mengakui Pamannya memang sangat licik. Lea juga baru tahu Pamannya itu terlibat perdagangan manusia ilegal bukan hanya itu pamannya juga terlibat kasus pembunuhan. Tapi, sialnya selama dia tinggal di rumah terkutuk ini Lea sama sekali tidak melihat orang yang keluar masuk rumah ini seperti yang dikatakan Bruno dan George. 'Wanita' mirip dirinya bahkan nama juga sama dengan namanya. Lea geleng-geleng kepala.


Sementara Bruno dan George, mulai mengambil berkas yang menurut mereka penting untuk dijadikan bukti dalam persidangan nantinya. Namun, ada sebuah map biru menarik perhatian Bruno. Dia meraih map itu lalu perlahan membukanya.


Seketika mata Bruno membulat dia tidak percaya dengan apa yang barusan dia lihat. Tubuh Bruno bergetar, otot-otot tangannya mulai menonjol keluar. Ia memutar badan menatap sinis Lea, matanya pun kini memanas.


"Dia tidak melanjutkan studinya. Dia?" batin Bruno. Bruno mendekati Lea yang sibuk mengamati salah satu foto yang tersimpan diatas meja. Karena, dia tidak bisa membantu kedua pria itu. Dia tahu berkas apa yang dimaksud oleh Bruno dan George.


''Udah selesai?'' tanya Lea. Dia berdiri menegakkan tubuhnya, Lea menatap Bruno.


Bruno tidak menjawab. Dia semakin dekat dengan Lea, tangannya meremas map biru itu dengan kencang rasanya dia ingin melemparkan map biru itu diwajah Lea lalu menanyakan ke mana kekasihnya itu? Kenapa bisa sampai ditangan Robert?


George yang sudah curiga segera memanggil Bruno untuk menyadarkan Pria dingin itu, '' Bruno kau sudah selesai?'' Kali ini George yang tanya. Alhasil, Bruno sadar dari kuasa amarahnya.


''Sudah! Tapi, kita harus tangkap dia hari ini juga.'' tegas Bruno.


Lea merasa ada yang aneh dengan sikap Bruno tadi. Menurut Lea, Bruno seperti ingin membunuh dia tapi kenapa tidak jadi? Lea penasaran dengan map yang ditangan Bruno.


'Sebenarnya isi didalam itu tentang apa, sehingga Bruno seperti marah sekali,' batin Lea.


Bruno mulai dingin terhadap Lea. Padahal sebelumnya dia sudah sedikit mencair. George membawa Bruno duduk di kursi yang ada di dalam ruangan Robert.


''Sebenarnya ada apa?'' bisik George.


''Kau, tidak akan percaya dengan berkas didalam map biru ini,'' balas Bruno. Sorot matanya menatap tajam Lea.


''Berkas apa lagi yang aku tidak boleh tau?'' George merapatkan tubuhnya sedikit lebih dekat dengan Bruno.


''Aku harap kau memang benar-benar tidak tau tentang semua ini. Jika tidak, kepalamu akan aku penggal hari ini juga.'' Bruno berusaha mengontrol emosinya.


''Aku berani jamin aku tidak tahu apa-apa,'' George sedikit ketakutan ketika mulutnya mengucapkan sumpah tapi dia sangat penasaran dengan berkas di map itu walaupun dia menebak berkas itu bisa saja milik 'SANDRA' kekasih Bruno.

__ADS_1


Bruno membuka map itu pelan-pelan lalu dia menunjukkan berkas itu disana ada selembar foto yang menyayat hati Bruno. Sandra kekasihnya tewas ditepi laut. Wanita itu tengkurap. Gambar selanjutnya ada dua pria didalam perahu mereka melempar tubuh Sandra kedalam laut.


George mengerjap, tubuhnya gemetar tanpa ia sadari berkas itu jatuh dari tangannya. Alhasil, foto itu masih tertutup berkas jadi Lea tidak sempat melihat foto itu.


''Bagaimana aku bisa tidak tahu tentang semua ini? Apa aku buta dan oh, sungguh aku tidak bisa mengerti.'' Bruno mengusap kasar wajahnya, dia meluruskan kakinya dengan menyenderkan tubuhnya disenderan kursi. Tangannya masih ia tutupi wajahnya sesekali terlihat dia menggelengkan kepalanya.


George menunduk dia mengumpulkan lagi berkas itu, Ia menutup lagi map itu lalu dimasukkan ke dalam ransel Bruno.


''Kita harus usut tuntas ini setelah itu kita pensiun sudah cukup hidup kita dipermainkan atasan. Apa kamu yakin ini murni kerja Robert?'' George seperti memutar waktu Bruno kembali mengingat masa lalu mereka.


Bruno masih menutup wajahnya dengan kedua tangannya, '' Aku tidak bisa berpikir,'' desisnya. Air matanya sudah jatuh disudut matanya.


Bruno masih ingat benar, gadis berambut keriting berwarna pirang itu selalu ceria saat berada disamping Bruno. Waktu meraka masih sama-sama bekerja sebagai detektif gadis itu selalu menggoda dirinya hingga pada akhirnya Bruno pun menerima perasaan cinta Sandra.


''Ternyata kau disini?'' Gadis itu membawa dua minuman kaleng, '' Eh, kau nemu aja aku duduk dimana.'' Bruno mendongak dia menatap Sandra. Dia bergeser memberi tempat untuk Sandra duduk.


''Apa yang aku tidak tahu tentang dirimu.'' Sandra melemparkan senyum, lalu memberikan satu kaleng minuman untuk Bruno.


''Thanks.'' Bruno membuka minuman itu lalu meneguk.


''Hmmm, sama-sama.'' Sandra pun membuka minuman kalengnya lalu meneguk juga.


''Ngapain kau merenung disini?'' Sandra menatap lurus ke arah laut.


''Aku senang saja merenung disini. Aku berpikir sampai kapan aku bekerja seperti ini.'' Bruno meremas kaleng minumnya.


''Lalu, kau mau berhenti?'' Sandra menyenderkan tubuhnya senderan kursi panjang yang terbuat dari kayu itu. Kemudian, dia meneguk lagi minumnya.


''Hmmm, Aku ingin hidup dipedesaan.'' Bruno menarik napas panjang. Satu tangannya dia letakan di senderan kursi.


''Kau, berhenti apa kau tidak memikirkan aku? Maksudku perasaanku.'' Sandra pikir lebih baik dia jujur sekarang. Dia berharap dengan dia mengungkapkan perasaannya Bruno masih berpikir dua kali untuk pensiun.


"Maksudmu?" Bruno memperbaiki posisi duduknya.


"Aku jatuh cinta denganmu. Jujur, aku berharap suatu saat aku yang menjadi istrimu, aku juga yang akan melahirkan anak-anakmu hanya aku 'SANDRA' wanita yang kau puja dan kau cinta." Sandra menatap dalam Bruno . Dia tidak main-main dengan ungkapan perasaannya ini sudah lama dia pendamkan .

__ADS_1


"Kau masih sehatkan? Kau tidak sedang tidurkan?" Bruno mengerjapkan matanya. Dia benar-benar tidak percaya ada wanita yang menembak dia.


__ADS_2