Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Dia gadis hebat.


__ADS_3

''Jika, kau keponakannya mengapa dia meminta kau bekerja sama dengan dia? Harusnya dia melindungi kau dari masalah besar seperti ini.'' Bruno meletakkan jarinya dibawah dagu, dia berjalan memutari Lea yang berdiri sembari terus menikmati anggur yang di ambil dari kebun itu.


''Katakan dengan jelas siapa yang kau maksud? Aku yakin kita bisa bekerja sama dengan baik jika kau bisa berkata jujur." Lea meyakinkan Bruno. Dia juga begitu penasaraan dengan Robert.


''Kau tidak boleh ikut campur terlalu dalam tapi mari ikut kami. Kau harus menjelaskan kepada kami bagaimana kondisi rumah Robert. Maksud aku, dimana letak kamarnya, kantor mungkin ada di rumah itu juga, bukan?'' Bruno memukul-mukul pistol ditangannya.


''Aku tahu kalau soal begitu. Paman memiliki satu ruang khusus dimana dia melarang orang selain dia sendiri yang masuk. Di kamarnya juga terdapat sebuah nakas dengan laci yang tidak boleh disentuh termasuk itu anaknya sendiri.'' Lea mulai paham mengapa Robert sempat menghukum dia karena dia sempat menarik gagang pintu kamar itu.


''Nah, ayo kita ke sana.'' Bruno tersenyum.


Semua ini atas saran David. Kemarin waktu di intrograsi David mengatakan jika Lea itu benar-benar keponakan dia. Jika Bruno ingin mengetahui Robert lebih banyak. Dia harus mengajak Lea kerja sama. Dan, hari ini saran David sedikit berguna untuk Bruno.


''Kemana?'' Lea mengernyit.


''Ke rumah pamanmu, emangnya mau kemana lagi?" ketus Bruno.


''Tapi, sekarang jam berapa?'' Lea benar-benar tidak tahu sekarang jam berapa karena Robert memiliki jam tertentu dia berada di rumah.


''Oh Nona Lea, mengapa kau suka sekali mengulur waktu.'' Bruno mengacak kasar rambutnya.


''Kau ingin mendapat hasilnya. Maka kau harus mengikuti saranku.'' sahut Lea.


''Baiklah.'' Bruno akhirnya mengalah, dia menatap jam ditangannya, "Sekarang pukul sebelas pagi.'' Bruno menatap tajam Lea.


''Baiklah. Sekarang ayo kita sana, paman biasanya pulang pukul dua atau tiga sore.'' Lea begitu bersemangat. Lea berjalan lebih dulu diikuti kedua detektif tua itu.

__ADS_1


''Jangan terburu-buru kita harus memastikan dia benar-benar tidak ada dirumah itu. Kau jangan sama, 'kan kebiasaan dia hari ini dan kemarin.'' tegur Bruno.


"Jangan kwatir paman, dia biasa pulang jam begitu.'' Lea meyakinkan. Gadis itu sangat antusias dengan penangkapan Robert.


Bruno kesal dia menarik tangan Lea, ''Aku bilang dengarin apa kataku!'' Bruno sedikit membentak


Lea menepis tangannya dari cengkraman Bruno, " Sebenarnya apa mau mu, Paman? Kau mengajakku bekerja sama sekarang aku sudah mau lalu apalagi yang kau ragukan?" Lea tampak kesal dia berdiri merapatkan tubuhnya dengan Bruno. Lea sedikit menjijit karena Pria itu sangat tinggi. Lea, naikkan sudut bibir atasnya, sorot matanya menatap tajam Bruno. Bruno kaget dia menggeser kepalanya sedikit kebelakang.


George yang melihat itu hanya menahan tawa, jujur ini pertama kalinya bagi seorang Bruno ada gadis berusia lima belas tahun berani menantang dia dengan saling bertatap mata seperti itu.


''Aku yang mengenal dia dari sejak aku berusia lima tahun. Ya kau benar, walaupun aku tinggal berpindah-pindah seperti bola yang digilir tapi sedikit banyak aku mengenal dia. Sekarang, terserah kau mau ikut aku atau tidak. Jika tidak, aku ingin kau bebaskan aku dari tawananmu. Aku juga ingin pergi jauh dari tempat terkutuk ini.'' Lea kembali menjauhkan tubuhnya dari Bruno. Dia menendang daun-daun anggur yang kering dihadapannya untuk melepas kekesalannya.


Brune menghembuskna napas kasar, dia berusaha menormalkan emosinya. Sungguh dia tidak menduga gadis ini begitu tegas dan tidak takut mati.


"Kali ini kenapa kau kalah dengan gadis itu?" ledek George.


"Buktinya seperti itu," gumam George.


Bruno mengusap kasar wajahnya, ''Baiklah.'' Bruno bersemangat dia menarik kasar tangan Lea dan diikuti George dari belakang.


Lea hanya mengikut kemana Bruno membawa dia. Sekarang mereka sudah berada dibelakang rumah Robert. Benar kata Lea, Robert tidak ada dirumah. Namun, terdengar suara jatuhan beling didalam rumah.


"Apa pria itu sudah pulang?" Bruno berbisik.


''Oh, lupakan itu Albert. Anak pemalas yang hobi bermain perempuan.'' ujar Lea. Dia mengayunkan tangannya meminta Bruno dan George mengikuit dia. Ketiganya berjalan mengendap-endap dan benar saja diluar dugaan Bruno. Lea gadis yang cukup cerdas. Dia membawa Bruno dan George melewati pintu belakang mereka masuki rumah itu dengan topeng diwajah.

__ADS_1


"Paman, kau berdiri dibawah sini. Pasang kuda-kuda." titah Lea pada Bruno.


George hanya menahan tawa, karena Bruno menurut seperti sapi dicocok hidungnya.


"Jangan bertindak konyol." bisik Bruno.


"Ikuti saja perintah ku," Lea menatap Bruno.


Karena tidak ingin berdebat Bruno akhirnya menurut dia berjongkok dibawah jendela tepat dibawah kamar Robert, dia mulai memasang kuda-kuda. Lea, mulai menginjak paha Bruno tangannya meraih kusen jendela. Robert memang sengaja membiarkan jendelanya selalu terbuka, itu untuk mempermudah wanita itu bisa kekuar masuk kamarnya tanpa pengetahuan orang dirumahnya.


''Hap,''


Lea melompat masuk ke dalam kamar Robert. Dia melirik kebawah, melihat Bruno yang menatap tidak percaya kepada Lea.


"Lihat disini, siapa yang lebih cerdas," ledek George.


"Sial**an," gerutu Bruno.


"Masih bergosip dibawah situ? Ayo naik!" titah Lea, dia menatap George dan Bruno yang masih menunggu diluar dibawah jendela.


Bruno dan George naik keatas jendela. Mereka pun mengikuti Lea masuk melalui jendela. Ketiganya sudah berada di kamar Robert. Mereka mulai melakukan aksi, lemari Robert di geledah dan sama sekali tidak menimbulkan bunyi. Bruno mulai mencari-cari berkas-berkas penting lalu berkas yang penting dimasukkan ke dalam ransel yang dibawa dia dan George.


"Bagaimana kita bis masuk ke kantornya?" tanya Bruno, dia mendekatkan bibirnya dengan telinga Lea.


"Kita tunggu sebentar. Tunggu Albert pergi menemui wanitanya." Lea membalikkan tubuhnya dia ingin menatap Bruno, " Duh, sakit!" rintih Lea dia memegang keningnya.

__ADS_1


"Makanya hati-hati," gumam Bruno karena sebenarnya bibir bawahnya pun sakit karena berbenturan dengan kening Lea.


__ADS_2