Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Cemburu?


__ADS_3

''Kau? Kenapa datang tidak mengabari terlebih dahulu?'' Bruno kaget melihat sang adek yang sudah berdiri di depan pintunya.


Setahu Bruno Jenifer tidak mengetahui jalan ke rumahnya. Karena, adik perempuannya itu waktu diajak ke rumahnya ia masih berusia sembilan tahun. Man bisa dia mengingat jalan ke rumahnya. Sementara Jenifer sekarang sudah berusia dua puluh tahun.


''Kenapa kaget? Kau heran aku bisa sampai di rumahmu?'' Jenifer melipat kedua tangannya di dada.Dia menatap sang kakak dari ujung kepala hingga ujung kaki. Berantakan. Tidak serpai biasanya. Dia tau pasti sang kakak sedang ada masalah namun dia mengurungkan niat untuk bertanya masalah apa yang sedang di hadapi sang kakak.


"Tentu. Aku sangat kaget.Tidak mungkin maid mengantarmu ke sini? Atau ibu yang menulis peta untukmu?" Bruno menutup pintu kamar Lea. Dia menarik tangan sang adik mengajak Jeniffer kembali ke lantai tiga di bawah. Karena setahu dia sang ibu tidak bisa melihat dengan baik lagi. Dan maid di rumahnya? Tidak ada yang tau alamat rumahnya.


"Aku di antar seorang gadis baik hati," sahut Jenifer dia melepas tangan sang Kakak yang sedari menggandeng tangannya.


"Lalu? Kemana orang itu? Aku ingin tahu siapa dia hingga dia bisa mengetahui rumahku?" Bruno penasaran. Setahu dia rumahnya ini sangat rahasia mengingat pekerjaan dia yang tidak umum. Membuat dia menutup rapat identitas dirinya namun siapa yang bisa mengetahui rumahnya? Dia harus berhati-hati lagi bisa-bisa ini mata-mata dari musuhnya?


Keduanya melewati koridor. Sepanjang perjalan menuju lantai bawah Bruno terus menggaruk kepalanya dia frustasi ternyata dugaan dia salah. Tadinya dia berpikir itu Lea ternyata bukan. Ahh...gadis itu benar-benar membuat Bruno kesal.


''Siapa yang menyuruh kau datang ke sini?" Bruno memberi jalan untuk sang adik menuruni anak tangga lebih dulu.


''Kau harusnya berbahagia adikmu ini bisa datang menjenguk kau.'' Jenifer menuruni anak tangga dengan hati-hati, "Tangga rumahmu ini sangat kecil salah injak kita bisa jatuh dan mati." Protes Jenifer. Ia memegang besi pinggir tangga dengan hati-hati.


''Siapa yang meminta kau datang? Bukannya sudah aku katakan jika aku cuti pasti aku pulang ke rumah?'' Bruno tidak ingin di salahkan terus.


''Alah... Kapan waktu cutimu kau ambil? Kau itu gila kerja hingga melupakan keluargamu. Asal kau tau saja ibu setiap hari menangis memikirkan dirimu. Ibu sekarang sangat tua karena stres,'' sela Jennifer dia memutar mata malas.


''Kau ini cerewet sekali. Jawab pertanyaan ku tadi siapa yang mengantar ka...'' Bruno tidak melanjutkan bicaranya. Lidahnya keluh, mulut Bruno masih terbuka membentuk huruif 'O' tenggorokannya tiba-tiba kering ketika matanya menangkap sosok yang sudah berapa bulan ini menghilang dari sisinya. Gadis itu belum menyadari kehadiran Bruno dan Jenifer. Dia masih asyik bercerita dengan George.


George yang melihat reaksi Bruno dia menyenggol tangan Lea dengan sikunya. Lalu melihat kearah Bruno.


Lea pun terpaku dia yang tadi bercerita dengan George bergeming. Bruno ingin pergi dari ruang tamu tapi kakinya tidak bisa melangkah. " Jangan pergi gadis itu sudah datang." Begitulah ucapan kakinya.

__ADS_1


Dada Bruno bergemuruh, ada perasaan aneh di hatinya apalagi matanya melihat langsung tadi George menyenggol tangan Lea. Gestur tubuh mereka seperti sangat akrab.


Lea lalu tersenyum tapi mata gadis itu tidak ada rasa penyesalan di sana. Bruno tidak bisa melihat gadis ini yang tidak ada rasa menyesal telah menyiksa dia selama ini gadis itu justru sedang bercerita sembari tertawa bersama George bahkan keduanya begitu akrab. Dadanya bergemuruh.


''Si*alan! Jangan-jangan George dibalik kehilangan Lea selama ini?'' batin Bruno.


Lea berpura-pura tidak mengenal Bruno. Sementara Bruno tidak ingin menatap Lea. Jenifer mengernyit dia menganggukkan kepala kepada George memberi isyarat ada apa dengan kedua orang ini?


Sementara George tidak menjawab dia hanya mengangkat kedua bahunya lalu menaikan kedua alisnya menandakan dia juga tidak tahu.


"Hei...kau kenapa diam, Kakak? Apa kau tidak ingin berkenalan dengan gadis yang sudah mengantar aku ke sini?" Jenifer menepuk bahu sang kakak.


"Tidak perlu. Aku tidak ingin berkenalan dengan orang asing." Bruno memasang wajah datar.


"Ayolah, Kakak. Bukannya tadi kau begitu penasaran dengan siapa yang sudah mengantarkan aku ke rumah mu ini?" Jennifer menarik tangan Bruno lalu meraih tangan Lea yang masih membeku di tempat. Dia meletakkan tangan Bruno diatas punggung tangan Lea.


"Kakak, kenalin ini Nona Lea Andrea. Gadis yang rela mengantar aku ke rumah mu ini. Jika tanpa bantuan dia aku pasti akan hilang di tengah hutan menuju rumahmu." Jenifer tersenyum dia menatap Lea sembari tersenyum.


Sementara yang dikenalkan masih sama-sama membeku.Tidak ada senyum atau respon dengan ucapan Jenifer. Sementara George menahan tawa dia memilih pergi meninggalkan tiga orang itu di ruang tamu.


Jenifer yang melihat sikap dingin sang kakak. Dia mencubit pinggang Bruno pelan, " Bicara sepatah dua kata.Tidak sopan banget. Gadis ini sudah membuang waktu demi mengantarkan adikmu ke sini lalu mengapa kau bersikap dingin seperti itu? ihh...Aku tau kau pasti menyukai dia, ' kan?" Ia mendekatkan bibirnya di telinga Bruno.


Detektif tua itu hanya menatap tajam sang adik. Dia lalu memaksa senyum kepada Lea.


"Di mana kau bertemu dengan adikku?" Tanya Bruno formal.


"Kami bertemu di club. Saat aku berdansa kami tidak sengaja saling bersenggolan lalu aku berkenalan dengan Nona Jenifer. Aku penasaran dengan gadis yang baik hati ini. Setelah berkenalan dia orang yang asyik untuk berteman lalu aku mengajak dia minum, tapi dia menolak hanya aku yang minum hingga tidak sadarkan diri. Dan kau tau, adikmu ini sangat baik dia menolongku mengantarkan aku pulang ke rumah bibiku. Aku tidak tahu jika tanpa bantuan Nona Jenifer aku pasti sudah di gilir pria-pria mesum di club' itu." Lea mengarang cerita bebas.

__ADS_1


Bruno menggertakkan giginya kedua tangan punya sudah dikepal hingga buku-buku tanganya mengeluarkan urat. Bisa-bisanya Lea bersenang-senang di club. Berdansa dan beralkohol? Sementara dia hampir gila di rumahnya?


"Gadis nakal. Lihat saja wajahnya seperti ********* yang suka menggoda pria," batin Bruno.


Entah mengapa saat dia mendengar penjelasan Lea otak dia sudah memikirkan hal menjijikan. Menurut Bruno, Lea pasti sudah melakukan ahh...Dia menarik kasar rambutnya, sudut bibir atasnya terangkat matanya menatap sinis Lea. jijik.


Lea menyadari kalau Bruno sudah terpancing dengan karangan bebasnya. Gadis itu semakin menjadi.


"O ya..Nona Jenifer terima kasih atas bantuan tadi malam." Dia mendekati Jenifer tangannya menepuk pelan bahu Jenifer. Sebagai tanda terima kasih karena Jenifer tadi sama sekali tidak menyela pembicaraan dia.


Jenifer bingung dia tidak menjawab hanya mengisyaratkan dengan bahasa tubuh. Mengangkat bahunya.


"Aku pamit pulang." Lea mengambil tasnya di atas sofa dia meletakan diatas bahunya. Kakinya hendak mengayun untuk pergi namun dengan cepat Bruno mencekal lengan Lea.


"Ikut Aku." bukan permintaan namun perintah.


Kaget. Lea tidak menyangka Bruno senekat ini didepan Jenifer.


"Kau?" Lea akhirnya hanya mengikuti kemana Bruno membawa dia pergi.


Tidak peduli ada Jenifer tapi dia harus memberi pelajaran kepada gadis itu. Enak saja sudah kabur dua bulan mau pergi begitu saja. Dia sudah membuat hati Bruno panas lalu tidak ia dinginkan?


Jenifer memijit dagunya dia seperti tahu gerak tubuh kedua manusia di depan dia ini namun dia masih belum yakin. Bukannya tadi di rumah Lea, gadis itu seperti tidak mengenal Bruno sama sekali? Namun, melihat kejadian barusan dia sangsi dengan drama keduanya tadi berkenalan?


"Menarik!" gumam Jenifer dia menjatuhkan tubuhnya diatas sofa dengan tangan menopang dagunya, menunggu kejadian apa yang akan terjadi selanjutnya.


Masa bodo dia tidak memikirkan sang kakak lagi. Dia justru merasa menang karena dengan begini sang kakak bisa membuka hati untuk wanita lain. Melupakan wanita itu yang pergi tanpa ada kabar.

__ADS_1


"Ikut aku!" Bruno menarik kasar tangan Lea. karena gadis itu masih menoleh menatap Jenifer. Bruno membawa Lea menuju lantai tiga.


Sementara Jenifer justru menyuruh Lea menurut saja apa yang akan dikatakan Bruno. Dia menggerakkan tangannya ke arah Lea jika Bruno berlaku kasar maka teriak dia pasti akan datang menolong tapi Jenifer juga memberi isyarat kalau sang Kakak, pria yang baik hati.


__ADS_2