
Setelah kematian Robert. Bruno dan George disibukkan dengan penelitian racun yang digunakan Wiliam untuk menghilangkan nyawa Robert.
''Wow, Bruno sini kau lihat hasilnya,'' panggil George. Saat hasil laboratorium sudah keluar. Bruno yang sibuk mengetik dokumen, bergegas menghampiri George.
''Sudah?'' tanyanya sembari membaca semua hasil yang tertera dilembaran kertas putih yang dia terima dari tangan George.
George, lulusan fakultas kedokteran dengan hasil terbaik di sebuah universitas terkenal di California. Jadi, tidak perlu diragukan lagi semua hasil penyelidikan laboratoriumnya.
''Pria itu itu benar-benar licik. Ayo, kita harus bertemu dia sekarang.'' Bruno mengepal setelah mengetahui kandungan yang terdapat diracun itu. Hingga tanpa ia sadari kertas hasil laboratorium itu sudah kumal diremasnya.
''Baiklah.'' sahut George.
Bruno dan George segera berjalan menuju ruang parkiran bawah tanah. Keduanya memacukan motor besar masing-masing menuju mansion Wiliam. Tentunya dengan persiapan matang. Sepuluh tahun berkecimpung didunia detektif bersama Wiliam membuat Bruno paham benar kelemahan Wiliam.
Wiliam yang sudah mengetahui kedatangan Bruno dan George tidak berdiam diri. Pria itu sudah menggerakan tujuh orang anak buah terbaiknya untuk berjaga disekitar kompleks mansionnya.
Sesampainya di depan gerbang pertama yang terbuat dari besi serba hitam itu, tampak tujuh pria berbadan kekar sedang berjaga dengan senjata berlaras panjang siap menembak. Bukan George namanya jika tidak memikirkan solusinya. Dia melemparkan granat asap kedalam pagar membiarkan tujuh pria itu pingsan. Lalu Bruno mulai membuka pintu pagar. Keduanya masuk tidak lupa Bruno dan George memberikan suntikan bius dosis tinggi, membuat mereka pingsan lebih lama.
Keduanya meneruskan perjalanan menuju mansion. Bruno dan George segera turun dari motornya. Keduanya berjalan masuk dengan pistol ditangan. Di pintu masuk lagi-lagi ada tiga pria berbadan kekar sedang berjaga dengan senpi berlaras panjang siap mengarahkan ke kepala musuh termasuk itu Bruno dan George . Namun, Bruno dan Georga tidak kalah licik, George benar-benar menerapkan ilmu kedokterannya disaat-saat genting seperti ini.
__ADS_1
Dia segera menembakkan cairan yang bisa menyebabkan mata perih sebelum tiga pria itu melepas tembakan ke arah mereka.
Benar saja, ketiga pria itu jatuh sembari menggosok mata mereka. Bruno dan George mendekati tiga pria itu mereka segera memberikan suntikan bius, membiarkan mereka tidak sadarkan diri satu hari. Karena, dosis yang George beri melebihi dosis untuk orang dewasa namun tidak membahayakan nyawa manusia.
Wiliam yang sudah melihat semua anak buahnya jatuh pingsan dari camera pengawas yang dipasang disetiap sudut mansion. Sudah bersiap-siap untuk kabur.
''Berhenti!'' Tiba-tiba suara itu mengagetkan Wiliam yang baru saja menginjak anak tangga kedua untuk menuju ROOFTOP.
Wilian menghentikan langkahnya sebentar, pria itu menoleh dengan senyum menyeringai. Kemudian, dia bergegas berlari keatas. George segera melepaskan satu tembakan dikaki Wiliam, sayangnya tembakan itu meleset membuat Wiliam berhasil lolos naik keatas rooftof disana sudah ada helikoper berwarna putih yang siap membawa Wiliam pergi.
''Hei kejar aku. Jika, kalian berdua bisa. Dasar kacung!'' Hinaan Wiliam berhasil memantik emosi Bruno.
Bruno melepaskan satu tembakan tapi lagi-lagi meleset. Dia pun mengejar Wiliam yang sudah menginjak tangga helikopter. Benar saja Wiliam yang baru saja mengendalikan Cyclic control helikopter kalah cepat dengan lompatan Bruno.
"Jangan kabur! Aku tidak akan membiarkan kau bebas begitu saja!" Bruno langsung mendekap leher Wiliam, satu tangannya lagi menodongkan pistol di kepala Wiliam.
"Bruno! Jangan main-main kita bisa celaka." teriak Wiliam saat helinya mulai oleng.
"Hahaha...aku tidak peduli, lebih baik kau dan aku mati bersama." balas Bruno sembari tertawa jahat.
__ADS_1
''Tidak, kau mati aja sendiri jangan ajak-ajak aku.'' bentak Wiliam.
''Hahaha, pecundang seperti kau takut mati? Kenapa?'' Bruno ingin menyentuh Cyclic control heli tapi tidak bisa karena Wiliam terus menghalangi Bruno.
''Bruno, lu jangan bermain-main dengan maut.'' tegur Wiliam.
''Pecundang lu! Kau bunuh seorang gadis, tidak takut tapi giliran ajalmu datang kau menolak.'' Mata Bruno memanas membayangkan kematian kekasihnya itu, dia mengeratkan tangannya dileher Wiliam hingga membuat Wiliam batuk-batuk. Dan helikopter mulai oleng hampir saja menabrak gunung.
"Lepaskan Bruno!" bentak Wiliam.
''Aku peringati, kau jangan macam-macam Bruno!'' Wiliam memperingati Bruno. Sumpah Wiliam hanya manusia dia juga takut kematian, apalagi berada didalam helikopter seperti saat itu.
''Tapi aku mau. Bagaimana? Kau setuju?'' Seperti tidak ada rasa takut akan kematian Bruno justru merasa seperti tertantang, Dia tertawa, Dia menatap wajah Wiliam dari pantulan kaca helikopter.
"Apa maumu?" Wiliam menyerah.
"Lakukan pendaratan darurat!" perintah Bruno.
"Apa kau sudah gila? Ini diatas gunung!" Wiliam tidak percaya dengan perintah konyol Bruno.
__ADS_1
"Lebih gila mana? Kita jatuh bersama-sama dari atas gunung itu atau kau mati dengan terhormat?" penawaran gila yang ditawarkan Bruno membuat Wiliam pasrah.
"Baiklah." sahut Wiliam.