Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Menangkap David.


__ADS_3

''Robert, tolong aku.'' David berteriak karena dia tidak bisa berlari lagi. Matanya mengedar di sekeliling halaman depan rumah mencari keberadaan Robert. Tapi, dia sama sekali tidak menemukan Robert.


'Kemana dia?' batin David.


Bukannya tadi dia dan Robert masih sama-sama berdiri, mengangkat tangan keatas karena sudah didatangi Bruno dan George. Tapi, sekarang dia menghilang entah kemana seperti memiliki ilmu menghilang?


David sudah jatuh tersungkur dibawah pohon cemara. Ia merintih kesakitan, darah merah pekat terus mengalir dari betisnya. Berkali-kali David menarik napas dan menghembuskan dengan kasar. Ia, menutup lukanya dengan kedua tangan tapi tetap saja tidak menghilangkan rasa sakit.


"Argh." David mendoangakkan kepalanya keatas, dia memejamkan matanya. Ia menutup bekas tembakan itu dengan kedua tangannya.


''Jangan bergerak, letakkan senjatamu.'' Bruno perlahan mendekati David, Dua tangannya membawa borgol, sementara George tetap bersiaga dengan pistol mengarah ke rumah Robert.


''Anda, kami tangkap dengan tuduhan perdagangan manusia.'' Bruno mulai memasang borgol ditangan david.


''Mohon kerja samanya. Jangan melawan.'' lanjut Bruno lagi.


''Apa-apaan? Siapa yang melakukan perdagangan manusia? Apa anda punya bukti? Berani-aninya anda menangkap saya. Dimana tuduhan yang memberatkan saya sebagai tersangka perdagangan manusia?'' David geram. Dia bertanya kepada Bruno dan George.


Bruno, tersenyum sinis dia mengabaikan pertanyaan bodoh dari David. Ia memejamkan matanya, Bruno berusaha mengontrol emosinya. Dia mulai mengunci borgolnya, lalu kunci borgol itu dimasukkan ke dalam kantong mantelnya. Hatinya lega, perlahan kasus ini mulai ada titik terang pikir Bruno.


''Anda bisa menjelaskan semuanya di kantor. Mengenai surat penangkapan, anda benar, kami tidak bawa. Target utama kami bukan anda, tapi, tuan Robert. Tapi, untuk sementara anda bisa ikut bersama kami ke kantor sebagai saksi. Jika, terbukti anda tidak terlibat, kami akan melepaskan anda tentunya sesuai dengan hukum yang berlaku. Jadi, saya mohon anda jangan mencoba-coba melawan kami.'' Bruno menatap tajam David. Dia menaikkan sudut bibir atasnya.


''Baik. Tapi, kaki saya sakit. Saya tidak bisa berjalan.'' David meringis. Pelurunya masih berada didalam betisnya.


Bruno menatap betis David yang tertembak, benar bekas tembakan itu terus mengeluarkan darah, jika tidak segera ditolong David bisa kehilangan banyak darah. Bruno menatap George, mereka tahu cara menghadapi keadaaaan darurat.


''George, lakukan.'' perintah Bruno.


''Baiklah.'' George mulai berjongkok, dia menurunkan tas ransel yang berada dipunggunya diletakkan diatas tanah, pistolnya ia letakkan disampingnya. Lalu, George mulai mengeluarkan belatih kecil serta pemantik elektrik. David, gemetaran melihat belatih kecil ujungnya sangat tajam berwarna kuning.

__ADS_1


''Tuan, apa yang ingin Anda lakukan?'' David menarik tubuhnya kebelakang, ia memejamkan matanya. Dia pikir George akan membunuh dia. Sial apa dia hari ini, dia datang ke rumah Robert untuk menanyakan kabar Lea. Tapi, justru dia berada dalam masalah.


'Oh Tuhan, salahkan aku mencari keberadaan keponakanku?' batin David.


''Aku hanya ingin membantu anda bisa kembali berjalan. Bukannya tadi, anda mengeluh luka ini membuat Anda tidak bisa berjalan? Sekarang kami akan membantu mengeluarkan pelurunya, anda jangan kwatir kami tidak membunuh anda.'' Bruno menatap David.


''Tidak perlu,'' tolak David. Ia menggelengkan kepalanya cepat.


George mengabaikan pernyataan David, dia mulai memanaskan ujung belatih dengan pemantik elektrik. Lalu, ia mendekatkan belatih di luka tembakan itu.


"Jangan!" David berteriak seraya menggeserkan kakinya. Ia berulang kali menarik napas untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Tuan, David. Anda jangan mengulur waktu kami." bentak Bruno.


David, pasrah percuma melawan kakinya sudah ditahan Bruno. David memejamkan matanya, sesekali dia membuka matanya mengintip apa yang akan dilakukan kedua pria aneh ini. George perlahan mendekatkan ujung belatih ke betis.


"Krekk," George mencongkel ujung belatih di luka tembakan. Lalu, peluru itu pun keluar dari betis David.


"Sakitnya hanya sebentar." bentak George.


"Kau melakukan tanpa memberi bius?" David menatap tajam George.


"Itu hanya membuang waktu kami. Tidak pakai bius pun anda tidak mati, 'kan?" George menggelengkan kepalanya.


"Huft..." David membuang napas kasar, keringat dinginnya mengucur dari keningnya. Benar Bruno, kakinya terasa lebih baik tidak sesakit tadi.


George mulai memberikan salep lalu menutup luka itu dengan forban. Kemudian ia merapikan kembali ranselnya. Bruno mengambil peluru itu lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik yang sudah tersedia, peluru itu disimpan didalam ransel. Usai merapikan ranselnya, mereka membawa David ke tempat biasa mereka menyembunyikan motor keduanya.


"Kau, menyuruhku naik motor?" David menatap Goerge. Sungguh, dia tidak percaya bagaimana kakinya bergantung dibawah sampai ditempat tujuan? Syukur-syukur kalau dekat bagaimana jika tempat itu jauh? David tidak memahami jalan kota Barcelona karena dia lebih suka hidup di pedesaan.

__ADS_1


"Ikuti saja.Kami sudah biasa menangkap tersangka dan membawa mereka menggunakan motor." sahut Bruno.


Ini gila, seumur hidup David baru melihat ada agen menangkap tersangka dengan motor? Dia menggelengkan kepala, mengikuti perintah Bruno dengan isyarat anggukkan kepala.


"Ya. Baiklah." David dibantu Bruno, dia duduk dibelakang, dibonceng George.


Bruno mengawasi dari belakang. Kedua motor itu mulai beriringan menuju rumah Bruno.


******


Lea keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum lega, sembari tangannya menggosok-gosok handuk kecil dikepalanya, mengeringkan rambut ikal panjangnya. Tadi, setelah melakukan ritual, Lea memilih membersihkan tubuhnya. Lea, tidak masalah dia tidak mengganti baju asal tubuhnya bisa merasakan air hangat. Maklum, sudah dua hari ditempat Bruno, Lea sama sekali belum mandi.


Lea duduk dikursi yang di sediakan di kamarnya. Dia menatap keluar jendela melihat banyak orang yang lalu lalang di bawah sana. Ada kapal-kapal yang datang dan ada yang pergi. Lea, menghela napas dia seperti berada di dalam sangkar, tidak bisa menikmati kebebasan diluar sana.


Lea memejamkan matanya membayangkan betapa bahagianya dia bisa berlari, melompat bebas di taman yang ada bunga-bunga indah, atau berlari diatas hamparan pasir putih dilaut itu. Pasti menyenangkan.


Pukulan ombak mengenai karang terdengar hingga ke kamar Lea, dia memperhatikan buih ombak yang tersisa di hamparan pasar.


"Hmmm...kapan aku bisa bebas menikmati semua keindahan itu?" Lea, menarik beberapa hela rambut ia memperhatikan rambut ikalnya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan Nanny menyisir rambutnya atau Angelina mengusap-usap kepalanya.


"Kau akan bebas jika kau bisa membantu aku." Suara berat itu muncul dibelakang Lea.


"Kau? sejak kapan kau datang? Kenapa aku tidak mendengar bunyi pintu? Jangan bilang dari tadi kau bersembunyi dibawah kolong tempat tidur untuk mengintip aku mandi?" Lea menatap tajam Bruno.


"Aku sudah bilang tubuhmu tidak menarik." sanggah Bruno. Dia berdiri didepan jendela, kedua tangannya ditopang di atas kayu kusen itu. Matanya menatap indahnya laut biru dibawah sana.


"Kau sudah bisa bicara?" Bruno masih enggan menatap Lea, sikapnya masih dingin.


"Seperti yang kau lihat dan dengar, Paman es."

__ADS_1


"Bersiap-siaplah, sepuluh menit lagi kau ikut dengan aku." Bruno menarik napas, " Aku akan segera kembali." Pria itu keluar dari kamar begitu saja.


Lea tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya menatap punggung Bruno saat Bruno keluar dari kamar.


__ADS_2