
Lea penuh percaya diri, dia mulai membuka ventilasi kamar. Dia ingin memastikan jika dimalam hari apakah diluar terang atau gelap? Lea tahu benar biasanya di tepi laut ada lampu mercusuar dimalam hari jadi Lea yakin di luar sana tidak menakutkan seperti apa yang disampaikan Bruno. Laut biasanya terlihat sangat indah jika di lihat dengan malam hari apalagi ada kapal bersandar di pelabuhan itu sangat menghibur mata memandang.
Tak...tak...tak...
Lea tersenyum bahagia, ternyata membuka ventilasi dirumah seorang Bruno tidak lah sulit. Dua kali gesekan grendel dan sekali dorongan jendela itu terbuka dengan lebar tanpa ada penghalang trali atau semacamnya seperti orang-orang jahat pada umumnya.
''Bodoh, kau!'' Ia mencoba mengintip kebawah jendela, "Oh God!" Lea kaget dia memejamkan matanya sembari tangannya mengelus dada. Ternyata benar jarak ke bawah sekitar lima belas meter, "Huftt." Lea menyeka keringat dinginnya.
Lea tidak habis akal, Ia mencoba meraba-raba dinding dibawah jendela tidak ada tangga atau sejenis bongkahan batu sebagai pijakan untuk turun ke bawah.
''Sialan dia benar-benar cerdik. Aku akui, kau Paman Es permainanmu patut diacungi jempol.'' Lea kembali ke ranjang. Dia sama sekali belum menyerah apalagi mengantuk karena tadi Lea sudah banyak tidur.
''Ahaa...'' Lea mengangkat jari telinjuknya keatas ada ide baru muncul di kepalanya.
Dia berdiri dari ranjang, dia berjalan mendekati pintu. Lea iseng membuka pintu kamar. Mata Lea membulat, rasanya dia ingin melompat, gegas dia menutup lagi pintu itu tapi hanya setengah tidak rapat karena Lea harus mengecek isi di dalam tas usangnya.
Dia membuka laci nakas tangannya mengeluarkan tasnya dari dalam sana. Lea membuka tas itu untuk mengecek isi tasnya ternyata surat-surat penting dan lainnya lengkap tidak ada yang kurang. Lea mengeluarkan pakaian dalam, dia menggulung pakaian dalam itu sekecil mungkin lalu dimasukkan ke dalam kantong mantelnya begitu juga dengan uangnya dia masukkan kedalam sepatunya.
Lea mendoangkkan kepala keatas langit-langit kamar, dia melihat diatas ada jarak antara sebuah papan tipis dengan papan lainnya ditambah lagi seperti ada garis berbentuk segiempat. Lea tahu dia harus melakukan apa, dia mengambil kursi lalu diletakkan di atas nakas.
Sakit ditangannya tidak seberapa dengan kebahagian dia saat ini, dengan hati-hati Lea naik di nakas lalu kaki kirinya mulai menginjak kursi itu tangannya menahan di dinding kamar. Tangan kanan yang tidak sakit mencoba mendorong papan tipis itu, papan itu bergeser terlihat ada celah besar, Lea tersenyum. Ternyata di kamarnya ada loteng yang bisa untuk bersembunyi dan tidur didalam sana
''Ck, kenapa paman bisa membuat loteng diatas kamarku? Baiklah. Lea, berpikirlah sebelum ketahuan paman es, sebaiknya aku melihat isi loteng apa bisa untuk bersembunyi.'' Lea beruntung tadi Bruno tidak matikan lampu di kamarnya, cahaya lampu itu sangat membantu Lea.
Lea melihat di dalam loteng itu tidak ada apa-apa disana semua masih kosong yang ada hanya tebalnya debu. Lea sudah menemukan ide yang terlintas diotaknya. Lea bergegas turun dari loteng, ia berhasil turun dengan selamat.
Lea tersenyum. Dia meraih tas usang miliknya yang tadi dia letakkan begitu saja diatas ranjang. Lea melingkarkan tas dilehernya, ia membawa tasnya kembali naik ke atas kursi. Dia mulai menggeser papan tipis itu lalu Lea memegang sisi kiri-kanan loteng itu supaya ia bisa masuk ke dalam loteng sana. Lea sudah didalam loteng dia melihat sekitar loteng.
Dengan percaya diri Lea mengikat tali tasnya di kuda-kuda rumah yang berada di dalam loteng itu, "Kau harus sanggup melindungi dirimu sendiri. Aku pasti akan mengambil kembali dirimu, setelah semua aman baru lah aku membawamu pergi." Lea berbicara sendiri lalu tangannya menepuk-nepuk tasnya, yakin surat-surat penting itu aman didalam loteng itu. Lea bergegas turun dari loteng sebelum ketahuan oleh Bruno.
__ADS_1
Hap...
Lea sudah turun, karena tangannya yang sangat kotor ia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tangannya. Lea menatap jam di dinding kamar, ternyata baru pukul tiga pagi berarti peluang untuk dia kabur masih bisa. Dia mulai mengendap-endap keluar dari kamar, melewati koridor.
Lea, tidak menyadari ternyata ada seorang pria bertopeng, berbaju serba hitam sedang mengikuti dia dari belakang. Lea membungkukkan badannya sembari ia terus berlari kecil, sesekali dia menoleh ke arah kiri dan kanannya, tanda-tanda Bruno mengikuti dia tidak ada.
Lea kini sudah berada di ruang parkir bawah tanah, matanya terus mengawasi kedatangan Bruno. Namun, baru saja kakinya menginjak keluar pintu tiba-tiba terdengar.
Dorr... Dorr...
"Dam***'n it!" umpat Lea, dia menunduk menghindari peluru yang bertubi-tubi datang melewati kepalanya. Lea meraba-raba pinggangnya ternyata pistolnya sudah disita Bruno, "Brengs**ek! Oh God, kenapa aku lupa pistol ku sudah disita." umpat Lea.
Pria bertopeng itu memberi kode kepada temannya untuk bergabung dengan dia. Lea menempelkan badan kecilnya di mobil hitam milik Bruno sembari bergeser pelan-pelan menjauh dari para pria penjahat itu. Tapi, tiba-tiba terdengar langkah sepatu boots mendekati arahnya. Lea gemetaran dalam hati dia berharap orang-orang jahat itu tidak menemukan dia dibalik mobil itu.
"Oh God please help me now!" Dia mengatupkan tangan di dada lalu menatap keatas memohon perlindungan Tuhan.
Sementara lima pria lainnya terus mencari keberadaan Lea dengan pistol siap tembak. Salah satu dari lawan itu menunduk dibawah mobil tempat Lea bersembunyi, pria itu tersenyum dia melihat kaki Lea dibalik mobil hitam Bruno.
"Kau, harus ikut dengan aku, oh aku tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi bos tuan melihat keberhasilan ku!" Mata pria itu menyala-nyala. Dia sudah membayangkan reaksi pria tua itu.
"Diam, jangan bersuara!" Tiba-tiba pria bertopeng itu membekap mulut Lea dengan tangannya lalu mengangkat tubuh kecil Lea ala bridal style pergi dari ruang bawah tanah. Lea memukul belakang pria itu karena dia tidak mau dibawa kembali ke kamar itu lagi.
Sementara, George sudah bergabung dia menembak pistol kearah musuh.
Dorr...dorr..dorr...
Suara tembak-menembak saling bersahutan. salah satu pria yang sementara memukul pistolnya karena pelurunya habis, gusar.
"Lepas topengmu!" perintah Goerge. Pistol ya dia arahkan di kening. Namun, pria itu menolak, dia memilih kabur dari hadapan Goerge.
__ADS_1
Dorr...
George melepas satu tembakan tepat dikepala pria itu.
Pria itu tewas ditempat. Keempat teman pria itu bergegas naik keatas motor mereka yang tadi diparkir diluar pagar rumah Bruno pergi meninggalkan temnanya yang sudah tewas.
George membuka penutup wajah pria yang berbaring dibawah, "Shi**ft" maki George. Ternyata dugaan dia dan Bruno benar. Dia menggeret pria itu keluar pagar karena dia tahu teman-temannya pasti akan kembali untuk mengambil jasad teman mereka.
♥️♥️♥️♥️
Sementara didalam kamar Lea.
Brugh...
Bruno menendang pintu dengan kasar, pintu terbuka. Dia masuk ke dalam kamar dengan amarah meliputi dirinya.
Brugh...
Bruno melempar tubuh kecil Lea diatas ranjang, " Ternyata kau diampuni justru bertindak diluar dugaan aku!" Bruno benar-benar marah. untung saja dia cepat sadar waktu mendengar bunyi langkah kaki Lea melewati kamarnya. Dia juga sudah mengetahui dari cctv-nya, ada lima pria yng mengawasi villa itu sejak Lea berada di villanya. Ya tujuan mereka ingin menculik Lea dari Bruno.
Lea, tidak menjawab dia hanya diam. Selain takut karena hampir saja tertembak dia kesal kenapa Bruno kembali membawa dia ketempat ini. Lea tahu dia pasti akan dihukum lagi.
Bruno mengambil tali lagi, dia mengikat Lea dengan sangat kasar, kali ini bukan hanya tangan tapi kaki kiri Lea juga di ikat.
"Jangan bergerak, jika kau terus bergerak maka kakimu akan terluka seperti pergelangan tangan kirimu!" bentak Bruno.
Lea memalingkan wajahnya dari Bruno. Lea ingin bertanya hanya dia masih malas bicara dengan pria tua ini.
"Mana tanganmu, jangan menyembunyikan tanganmu, kalau tidak aku akan mengikat lagi pergelangan tangan kirimu yang terluka ini!" ancam Bruno.
__ADS_1