
Benar saja tidak sampai satu jam mobil itu tiba di sebuah rumah berlantai tiga, tepat ditepi pantai. George membelok mobilnya langsung ke parkiran bawah tanah, ia menghentikan mobilnya di parkiran bawah tanah. Rumah berlantai tiga itu begitu sunyi hanya ada lima pelayan yang lalu-lalang mengerjakan pekerjaan mereka tanpa peduli dengan apa yang tuan mereka lakukan.
Bruno bergegas keluar dari mobil. Dia berjalan menuju kap belakang mobil, dia membuka kap itu lalu menatap Lea, Ia tersenyum sembari menghela napas lega. Gadis itu dalam keadaan baik-baik saja. Ya, walaupun rambut ikal panjang berwarna coklat itu sedikit berantakan itu tidak masalah, bisa disisir akan kembali rapi lagi. Bruno menarik kasar tubuh itu keluar dari kap mobil, dia kembali mencengkeram pergelangan tangan Lea dengan kasar.
''Jangan pernah bersuara, jika kau bersuara aku jamin kau akan menyesal karena mulutmu akan aku sumpal lagi.'' ancam Bruno.
Lea, mengabaikan ancaman Bruno. Dia mengamati parkiran bawah itu, lampu remang-remang setidaknya ini bukan dirumah Roberto. Tadi dalam perjalanan Lea berpikir dalam hatinya, Bruno benaran akan membawa dia kembali ke rumah Robert, menjadikan dia umpan namun Lea mengamati rumah itu tidak seperti rumah Robert, "Paman Es," panggil Lea. Seperti anak kecil yang bermanja kepada pamannya.
"Hmmm...Kenapa?" jawab Bruno dingin.
"Terima kasih kau tidak membawaku kembali ke rumah Robert." ucap Lea spontan dia sudah melupakan siksaan Bruno tadi, bahkan dia sudah melupakan bagaimana Bruno memasukkan dia ke kap mobil dengan kasar.
Gadis itu hapal betul setiap sudut rumah Robert. Dia menarik napas lega setidaknya pria dingin ini tidak mengantar dia kembali ke rumah Robert. Mungkin, kali ini dia akan mengikuti permainan Bruno seperti biasanya Lea akan berpura-pura naif didepan kedua pria misterius itu.
Bruno mengajak Lea melalui koridor belakang, anak rambut ikal coklat itu menutupi mata indah Lea, rasanya Bruno ingin menyingkirkan rambut itu dan mengatakan pada rambut itu 'jangan coba-coba menutupi wajah manis ini '. Namun, Bruno menolak perasaan aneh dari dalam hatinya. Dia hanya menghela napas kasar merutuki dirinya yang kali ini seperti main-main menyelediki kasus Robert.
Di koridor Lea dan Bruno bertemu dengan seorang maid paruh baya. Bruno memberi kode dengan gelengan kepala meminta maid paruh baya itu pergi dari koridor itu. Maid yang seperti sudah terlatih dengan kode-kode dari tuannya, menunduk lalu dalam sekejap wanita paruh baya itu menghilang dari pandangan Lea dan Bruno.
Bruno tersenyum, ''Jangan macam-macam mereka maidku. Tentu, mereka akan tunduk pada aturanku bukan rayuanmu.'' Bruno memperingati Lea.
''Kau jangan kwatir aku belum ada niat untuk kabur dari rumahmu ini. Walapun kau kejam padaku setidaknya aku masih lebih nyaman daripada dirumah Robert.'' tandas Lea.
"Berarti suatu saat kau akan kabur?" Bruno meneleng dia menatap wajah Lea.
__ADS_1
"Aku tidak berjanji," sahut Lea.
"Sebaiknya singkirkan niatmu itu jauh-jauh untuk kabur dari rumahku," selah Bruno.
''Naik tangga,'' perintah Bruno. Dia mengabaikan ocehan Lea. Karena mereka sudah berada dibawah kaki tangga.
Lea menatap Bruno ''Bagaimana aku bisa naik tangga, kakiku masih kau ikat.'' protes Lea. Dia menatap Bruno, dengan tatapan sinis.
Bruno tersenyum, dia mengutuk dirinya dalam hati, 'Kali ini aku dibuat bodoh oleh gadis ini,' batin Bruno. Dia pun berjongkok dan melepaskan tali diikatan kaki Lea.
''Terima kasi, paman es.'' Lea berkedip.
''Jangan pernah berniat untuk kabur. Aku tidak segan-segan untuk menembak kau disini. Karena, semua maidku di sini sudah terbiasa dengan kebiasaanku.'' Bruno menatap gadis itu, dia memperingati Lea.
''Paling atas,'' titah Bruno. Ketika melihat Lea yang hendak berbelok ke lantai dua. Bruno menunjuk dengan gerakan bola matanya, '' Naik lagi, kamarmu dilantai tiga.'' ujar Bruno.
Lea tidak menjawab, ia langsung menurut naik ke lantai tiga. Sesampainya dilantai tiga ada sebuah- kamar kecil nan sempit persis dengan kamar dia semasa di rumah Albert. Tapi, kali ini Lea merasakan kamar ini sangat nyaman.
Bruno, mendorong kasar tubuh Lea, hingga Lea terjatuh ditepi ranjang dikamar itu.
''Kau, dikamar ini agar kau tidak berniat untuk kabur dari sini.'' ujar Bruno, dia menunjukkan kunci yang sudah berada ditangannya. Lalu, memasukkan kedalam kantong mantelnya.
''Kamar ini tidak ada kunci cadangan. Kuncinya hanya ada satu dan tentu hanya aku yang berhak pegang.'' sambung Bruno lagi.
__ADS_1
Lea menatap kesal Bruno.
''Satu lagi yang perlu kau tau, kamar ini berada dilantai tiga, ketinggiannya lima belas meter dari tanah. Dan jika kau coba-coba melompat dari ventilasi seperti yang kau lakukan dirumah Robert itu kau salah besar. Karena, jika kau nekat maka bersiap-siaplah kau dimakan hiu, dan ikan-ikan buas lainya. Jendela ini terhubungan langsung dengan laut.'' Bruno menjelaskan panjang lebar seakan dia ketakutan Lea kabur dari dirinya.
Lea, tidak menjawab atau membantah. Lea, asyik mengamati tempat kunci dekat gagang pintu, sembari merintih kesakitan dipelipisnya karena benturan ditepi ranjang.
Setelah menjelaskan semua kepada Lea, yakin gadis itu mendengar semua omongannya. Bruno menarik tali yang masih mengikat pergelangan tangan Lea, lalu ia mengeluarkan tali panjang dari laci nakas dikamar itu. Dia mengikat dan menyambungkan menjadi lebih panjang lalu Bruno menarik dan mengikat di ujung kaki ranjang. Lea, mengabaikan semua itu, dia sama sekali tidak protes seperti mereka masih dikebun anggur.
Kemudian, Bruno menarik sebuah kursi kayu dari sudut kamar itu, dia meletakkan disamping ranjang.
"Jika kau bosan tidur, kau bisa duduk sembari mengamati dari sini pemandangan luar jendela ini sangat lah indah apalagi disore hari." Bruno tersenyum.
Lea mengendikkan bahunya. Ia acuh tidak menanggapi semua perkataan Bruno.
"Shif**t," umpat Bruno.
Bruno tidak mengerti dengan perasaannya. Bruno mengutuk dirinya, Ia kesal mengapa setiap dia berada disamping gadis ini, perasaan dia begitu aneh? Sebelum meninggalkan Lea sendirian dikamar, Bruno memeriksa lagi seluruh kamar itu. Dia kwatir ada benda tajam yang dapat dimanfaatkan Lea untuk memotong tali lalu kabur dari dekapan dia.
Lea berkedip kepada Bruno, " Duduk lah di sini bersamaku sebentar atau kau akan pergi lagi?" Lea memiringkan kepalanya dia menatap wajah Bruno bergaya seperti mereka saling mengenal dan bersahabat baik.
"Jangan mencoba merayuku dengan bersikap baik," sergah Bruno. Tubuhnya mulai panas dingin jika dia berlama-lama dikamar bersama Lea maka Bruno tidak bisa menjamin hal apa yang nanti akan dia lakukan bersama Lea.
Bruno segera keluar dari kamar Lea. Dia kembali bersama George karena agen sedang memanggil mereka untuk segera berkumpul ditempat rahasia mereka.
__ADS_1