
"Kau makan saja. Karena, aku masih butuh jawaban dari kau." sahut Bruno kesal.
"Itu pun kalau aku sembuh." sergah Lea, dia meneguk kuah soupnya langsung dari mangkok soup hingga tandas.
Mata Bruno mengikuti mangkok dan gerakan tenggorokan Lea. Dia tidak habis pikir ada manusia yang makan seperti Lea.
"Jika kau tidak sembuh maka aku punya cara sendiri untuk membuat kau cepat sembuh." sahut Bruno. Ia mengernyit melihat Lea meletakkan mangkok soup kosong diatas nakas, " Sudah habis? Kau menghabiskan dalam sekejap?" Bruno menggelengkan kepalanya.
"Ya, terus harus bagaimana?" jawab Lea santai.
"Kau, gadis aneh. Benar-benar aneh, lihat saja cara makanmu seperti orang yang hidup di hutan. Aku heran kemana makanan itu masuk? Kau makan sangat banyak, porsi makanmu tadi sama dengan porsi makanku dua kali tapi badanmu kecil dan perutmu tetap rata, jangan-jangan kau piara naga didalam perutmu?" celetuk Bruno.
"Hahaha," Lea tertawa
__ADS_1
Bruno pikir gadis secantik Lea, yang memiliki pendidikan tinggi harusnya tahu cara makan yang anggun dan menarik layaknya gadis-gadis lulusan sekolah tinggi. Tapi, yang Bruno lihat berbanding terbalik dari pemikiran dia selama ini terhadap Lea. Apakah data tentang pendidikan Lea yang dia terima, benar-benar sudah disurvei dengan benar?
"Apa ada cara makan yang lebih baik dari cara makan aku?" Lea meletakkan mangkok itu ke dalam baki, dia mengelus perutnya yang sudah kenyang.
"Menurutmu?" sahut Bruno.
"Ternyata kau memiliki banyak keahlian. Salah satunya menilai cara makan wanita." ledek Lea. Dia menaikkan bahunya.
Persetan jika Bruno mau marah, asal sekarang dia sudah kenyang. Kalau dihukum lagi, besok dia kan cari akal lagi untuk mendapatkan air dan makanan. Lea pikir terlalu simpel merayu Bruno.
"Oya, paman, aku ingin tahu mengapa Kau matikan air di kamar mandi? Kenapa kau begitu kejam dengan aku? Kau tidak pikir aku sakit perut, atau kebelet pipis? Seperti pagi tadi aku harus menahan pipis sampai sekarang. Jangan, bilang kau tidak bisa membayar tagihan air? Makanya, aliran airmu diputuskan Pemda." Lea berdiri dari kursi. Dia menggerakkan kakinya karena dia benar-benar tidak menahan ke*ncingnya lagi.
"Kau jangan mengalihkan perhatian aku. Kenapa kau melepaskan tali dipergelangan kakimu?" Bruno menatap dingin Lea.
__ADS_1
"Tadi aku kebelet pipis, jadi terpaksa aku melepaskan tali itu. Apa kau tidak pikir jika aku tidak melepaskan tali bagaimana aku ke kamar mandi? Sayangnya, aku harus menahan sampai sekarang karena air di kamar mandi tidak ada, kran air juga mati. Jika Kau mau menghukumku karena aku melepaskan tali ini aku pikir itu nanti saja. Sebaiknya sekarang izinkan aku ke kamar mandi mu sebentar, sungguh aku benar tidak bisa menahannya lagi." jawab Lea santai.
"Huftt! Kau tidak boleh masuk kamar ku." bentak Bruno. Dia berdiri dari ranjang. Bruno berjalan ke kamar mandi lalu menekan salah satu tombol didekat dinding kamar mandi. Dia memutar kran air.
"Apa kau benar-benar tidak memiliki otak?" Bruno keluar dari kamar mandi. Karena air sudah mengalir.
Lea, tidak menjawab. Gadis itu langsung berlari melewati Bruno yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi. Bruno menatap punggungnya dengan kesal.
Karena menunggu Lea, yang lama keluar dari kamar mandi. Bruno akhirnya keluar dari kamar Lea. Seperti biasa dia mengunci pintu kamar Lea, lalu kuncinya dia masukkan ke dalam mantelnya. Kali ini dia tidak kwatir, karena teh diteko tadi masih ada, soal makanan Lea pasti masih kenyang. Lea tadi baru saja menghabiskan soup jamur satu mangkok besar dan bubur ayam satu mangkok besar juga.
"Bruno kau belum datang?" tanya George yang sudah berada di rumah Robert.
"Aku segera kesana. Awasi terus dia, hari ini kita harus mendapatkan bukti baru." Bruno naik keatas motor hitam besarnya. Bruno melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Hari ini dia bertekad akan mendapat bukti baru. Dia juga akan mematahkan keraguan tuan boss soal penyelidikan kasus Robert ini.
__ADS_1