Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Kopi.


__ADS_3

''Oke, baik aku akan jawab.'' Robert mengangkat tanganya keatas, dia menyerah.


Bruno tersenyum sinis, ''Atasan siapa yang kau maksud?'' Bruno tetap mengarahkan pistolnya kearah Robert.


''Wiliam! Dia yang membunuh Sandra. Aku hanya membantu membuang Sandra ke laut.'' Robert berkata jujur.


Dorr...


Bruno menarik pelatuk dia melepas satu tembakan ke atas. Robert menunduk dia menutup kedua telinganya. Pria itu pikir dia sudah mati tertembak peluru Bruno. Perlahan dia membuka matanya, Robert meraba-raba tubuhnya ternyata dia masih hidup.


''Kenapa dia membunuh Sandra?'' Bruno masih memberi satu kesempatan kepada Robert. Bruno mengangakt tangan, dia menunjukkan jarinya satu-persatu keatas.


''Wiliam tidak menyukai keberhasilanmu.'' sahut Robert tegas. Sebelum jari ketiga ketiga diangkat Bruno.


Benar dugaan Bruno selama ini Wiliam memang tidak menyukai keberhasilan dia. Bruno melempar map itu membiarkan semua berkas berhamburan diruangannya.


Pria itu akhirnya menangis. Dia menangis bukan karena kebencian Wiliam terhadap dirinya tapi karena dia menyesal tidak bisa menolong Sandra, saat detik-detik terakhir Sandra membutuhkan bantuan dari dia.


Bruno menarik napas kemudian menghembusnya dengan kasar. Bruno berusaha menerima kematian Sandra. Bruno berjanji dia akan menuntaskan kasus ini demi Sandra.


"Kau jaga dia," ucap Bruno kepada George.


"Baiklah."


Bruno berjalan keluar dia pergi kepantai. Bruno merenung semua yang dia lakukan selama ini.

__ADS_1


"Aku tidak pernah melukai perasaan Dia. Tapi. kenapa dia membunuh Sandra? Aku berhasil karena aku kerja." Bruno menarik kasar rambutnya. Dia mengambil dompetnya dari kantong celananya, Bru o membuka dompet berwarna coklat itu, dia menatap foto berukuran 3x4 yang terselip didompetnya. Tangannya mengusap pelan foto itu, tanpa ia sadari air matanya pun kembali jatuh. Bruno menangis. Mulai hari ini, detik ini dia melepas Sandra. Tapi, tidak cinta dan dendanya.


"Beristirahatlah, aku yang mengurus mereka," Dia berdiri. Bruno kembali ke rumahnya.


🌹🌹🌹🌹


Lea sedang duduk ditepi ranjang dia mengedarkan pandang disekitar kamar. Bosan, jenuh. Lea memikirkan ide yang tadi ditawarkan Bruno, dia pikir nanti Bruno datang dia akan meminta Bruno membelikan dia perlengkapan untuk menyulam.


Lea berjalan kearah jendela, Lea membuka jendela melihat ke arah laut pancaran lampu mercusuar benar-benar memanjakan matanya. Indah. Lea mulai mengeluarkan kepalanya keluar jendela, dia tersenyum merasakan angin meniup setiap helai rambutnya menutupi wajahnya. Karena, menikmati Lea pun mengeluarkan tangannya dengan tangan satu memegang erat kusen jendela. Dia tertawa sendiri menikmati dinginnya udara malam menyentuh tubuhnya.


Karena, asyik menikmati udara malam Lea tidak menyadari ada seorang yang membuka pintu. Pria itu sudah berdiri diambang pintu memperhatikan tingkah kekanak-kanakan Lea.


''Ehem.'' Pria itu berdehem.


''Aku hanya mengantarkanmu roti,'' ucap pria itu dingin. Bruno meletakan piring itu diatas nakas.


''Terima kasih.'' Lea datang langsung mengambil roti itu.


Bruno berjalan kearah jendela dia melirik ke arah laut. Dia pun baru tahu ternyata yang dilakukan gadis itu menyenangkan. Tidak peduli dengan keberadaan Bruno, Lea langsung menyuapkan roti ke mulutnya.


''Kau mau air? Kopi? Teh?'' tawar Bruno. Dia terus membelakangi Lea.


Malam ini dia butuh teman cerita entah mengapa teman itu jatuh pada Lea. Lea, menatap sisa potongan rotinya dengan sedih.


'' Aku mau kopi aja,'' sahut Lea.

__ADS_1


''Baiklah.'' Bruno menepuk kedua tangannya.


Tidak menunggu lama wanita paruh baya itu masuk dengan dua cangkir kopi. Lea mengerjap, tanpa ia sadari roti itu tertelan begitu saja hingga membuat Lea tersedak.


''Uhuk, uhuk,''


Wanita paruh baya itu pun tak kalah kaget, dia sampai lupa cara menaruh cangkir diatas meja. Tangannya gemetaran, dia ingin memeluk Lea, tapi dia takut kepada Bruno yang sejak tadi mengamati tingkah kedua wanita didepannya.


''Apa kau tersedak? Kenapa tidak kau minum kopi dpyang dibawa pelayan itu?'' bentak Bruno.


Lea, sadar dia bergegas mengambil cangkir dari tangan wanita paruh baya itu tanpa pikir panjang Lea langsung menyesapnya.


''Letakkan cangkir satu itu, dan keluar dari kamar ini,'' suruh Bruno. Pria itu merasa ada yang aneh dengan gelagat maidnya. Dia pikir nanti setelah dia dari kamar Lea dia harus menanyakan sikap pelayannya itu.


Bruno semakin waspada, semua yang mendekati dia ternyata banyak yang berkhianat. Bruno menggelengkan kepalanya dia berusaha berpikir yang baik-baik saja.


Lea sudah selesai makan rotinya. Dia membawa dua cangkir kopi ke arah jendela menemani Bruno disana.


'''Musim dingin enaknya coklat hangat,'' sindir Lea sembari menyesap kopinya.


''Aku butuh kopi untuk menahan kantuk,'' sahut Bruno.


''Oh,''


Keduanya kembali diam, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2