
Lea menatap Bruno, ''Kopinya,'' Dia melirik kearah cangkir kopi yang disimpan diatas meja kecil depan mereka duduk.
''Terima kasih.'' Bruno meraih cangkir berisi kopinya, ia menyesapnya. Kemudian Bruno meletakan lagi cangkirnya diatas meja itu lagi.
''Apa kau mulai bosan?'' tanya Bruno dia menatap keluar jendela. Bruno tahu dari wajah Lea yang tidak bersemangat.
''Hmmm,'' Lea masih memegang cangkir kopinya.
''Baguslah.''
Lea mencebik.
''Aku tidak tahu cara menghibur orang. Kau juga bukan tamu disini, bukan?'' Bruno tersenyum.
Lea memutar bola matanya dia mendesah lirih.
''Kau, kenapa apa yang kau pikirkan.'' lanjut Bruno. Pria itu seakan mengerti dengan perasaan Lea.
''Pria pemalas itu sudah dipenjara? Kapan dia akn melakukan kerja paksa?'' Lea bersemangat. Dia memperbaiki duduknya menghadap Bruno.
__ADS_1
''Belum, masih dintrogasi.'' Bruno menarik napasnya.
''Lama sekali,'' sungut Lea.
''Semua butuh proses.'' Bruno tersenyum sinis.
''Apa kau tidak memiliki hak untuk menghukum dia?'' Lea menelengkan kepalanya mengamati wajah pria dingin itu dengan seksama.
''Ada. Tapi...'' Bruno menyugar rambut coklatnya.
''Tapi, apa?'' Lea sangat penasaran.
''Berapa usiamu? Kenapa kau sangat cerewet?'' Bruno mengalihkan pembicaraannya. Dia tidak ingin terjebak dalam pertanyaan Lea.
''Kenapa, kau tidak menikah saja?'' Bruno tetap tidak ingin menatap Lea.
''Aku berulang kali dijodohkan dengan pria hidung belang oleh Robert dan kedua saudaranya tapi aku menolak. Aku tidak ingin menikah tanpa adanya perasaan cinta.'' cerita Lea.
Lea tersenyum, membayangkan betapa harmonisnya kedua orang tuanya. Dia melihat ibu dan ayahnya tidak pernah cekcok. Ayahnya Charles, selalu memperlakukan Angelina ibunya dengan penuh cinta, Lea menghembuskan napasnya, hatinya merintih merindukan kedua orang tuannya yang meninggalkan dia dua belas tahun lalu, ''Aku hanya ingin menikah dengan cinta seperti kedua orang tuaku.'' tegas Lea.
__ADS_1
Bruno semakin penasaran. Dia semakin ingin tahu lebih dalam tentang gadis ini. Dia menatap Lea penuh arti. Dia ingin tahu mengapa Lea bisa bertahan hidup dengan Robert?
Lea tersenyum, saat manik coklat milik Bruno bertemu dengan manik kehijauan miliknya, keduanya saling mengunci sesaat, ''Lalu, mengapa kau tidak menikah saja, apa begitu sulit pekerjaanmu sampai kau melupakan untuk menikah?'' Lea benar, usia Bruno sudah sangat matang untuk menikah.
''Aku hampir saja menikah,'' lirih Bruno.
''Lalu mengapa tidak jadi?' maksudku apa yang terjadi?" Lea menarik kursi lebih mendekat dengan Bruno lagi.
''Dia meninggal,'' Bruno tersenyum getir. Matanya tidak bisa berbohong, didalam mata coklat itu masih tersimpan rindu yang besar untuk Sandra. Masih tersimpan cinta hanya untuk Sandra. Ia memejamkan matanya sebentar, dia merasakan matanya sangat panas. Bruno mengusap wajahnya dia berusaha menyadarkan dirinya bahwa Sandra telah tiada. Lalu ia kembali membuka matanya. Emosi yang tadi tersirat dimatanya sudah tidak terlihat lagi.
Lea menelan salivanya dengan kasar, spontan tangannya menyentuh punggung tangan Bruno, '' Aku ikut bersedih,''
Bruno mengangkat tangannya, dia memalingkan wajahnya menatap keluar jendela, ''Udaranya enak. Kau mau menemani aku berjalan-jalan diluar?'' tawar Bruno. Dia butuh tempat luas, dia butuh menenangkan pikirannya. Dia tidak mau menceritakan akhir tragis cintanya di kamar sempit ini. Itu membuat Bruno semakin merasa sesak didadanya.
''Baiklah.''
Tanpa menunggu persetujuan dari pemilik tangan itu, Bruno langsung menautkan jarinya dengan jemari Lea. Keduanya melewati koridor menuju taman bunga. Lea dan Bruno duduk ditaman ditengah-tengah bunga, menikmati angin malam, menghirup wangi bunga mawar, dan melati membuat hati tenang, ditemani sinar bulan dan kerlap-kerlip bulan semakin menambah ketenangan.
''Apa yang ingin kau ceritakan? sekali lagi aku ikut bersedih.'' Lea menggenggam tangan Bruno. Dia bisa merasakan kesedihan Bruno. Pria itu membiarkan Lea menggenggam tangannya, Lea mengusap punggung tangan dingin itu.
__ADS_1
Bruno menatap wajah Lea, dia melepas genggaman Lea. Tangan Bruno menyentuh pipi gadis itu lembut. Bruno sadar semakin hari dia berada didekat gadis itu dia semakin hilang akal. Lea memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan lembut dari Bruno. Jari-jari Bruno bergerak turun ke leher, pria dingin itu menikmati kehangaan kulit gadis berambut ikal itu, ''Apa kau tidak keberatan?'' Bruno semakin hilang akal, dia dibuat gila oleh Lea.
🌹🌹🌹🌹🌹