Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Robert tewas.


__ADS_3

Acara minum teh pagi ini sedikit canggung meskipun tadi sempat ada candaan tapi shanya sebentar mencair kemudian kembali kaku. Lea menikmati sandwichnya. Begitupun dengan Bruno. Pria itu terus menuangkan tehnya ke cangkirnya lalu menyesapnya hingga tandas. Kemudian, dia meletakkan lagi cangkir itu diatas. meja


Usai minum teh Bruno langsung pergi meninggalkan Lea. Tanpa meninggalkan ucapan apapun. Lea hanya bisa memandangi punggung Bruno.


Gadis itu bingung kenapa sikap Bruno berubah-ubah. Malam tadi Lea bisa pastikan ciuman mereka itu bukan tanpa sadar. Dia rasakan ciuman tadi malam begitu hangat dan nyaman. Lea juga merasakan percikan lain yang baru dia rasakan aneh tapi berdebar. Lea pikir mungkin Bruno mulai menyukai dia namun melihat sikap Bruno barusan meninggalkan dia tanpa pamit Lea hanya bisa mendesah kecewa.


♥️♥️♥️♥️♥️


Bruno dan George sibuk membaca dokumen yang akan mereka kirim ke pusat. Selesai menyiapkan semuanya untuk dikirim. Bruno tiba-tiba memikirkan Robert.


''Ayo, kita coba intrograsi dia lagi. Aku ingin kasus ini cepat selesai," ajak Bruno.


''Baiklah.'' George merapikan semua dokumen-dokumen diatas meja kerja dengan rapi. kemudian, mereka berdua keluar menuju ruang kurungan Robert.


Namun, ada yang aneh dengan ruangan itu. Tampak pintu terbuka, George ingat betul tadi dia datang membawakan sarapan untuk Robert. George mengunci pintu itu lagi, dia juga menutup pintu luar. Tapi, kenapa pintu luar terbuka dan Robert?


Bruno dan George mempercepat langkah mereka mendekati ruangan kecil dengan pintu terbuat dari trali besi.


George cepat menarik laci dia mengambil kunci kamar Robert dikurung. George, membuka kunci pintu, dia dan Bruno masuk. Tidak lupa keduanya memakai sarung tangan. Tampak Robert tengkurap, jarinya mencakar lantai kamar mulut Robert sudah mengeluarkan busa putih, bibir, kuku, tangan pun membiru semua.


Keduanya saling menatap bingung, Bruno menganggukkan kepalanya. Pahamkan isyarat dari Bruno. George pun mengangguk setuju.


"Baik,"

__ADS_1


Kemudian, George dan Bruno membalikan tubuh Robert yang sudah kaku. Keduanya membaringkan tubuh Robert dengan benar dengan posisi telentang.


"Kau periksa dia.Aku bereskan alat makan ini," suruh Bruno kepada George.


"Baiklah,"


Bruno mulai membungkus cangkir dan piring tadi pagi Robert untuk sarapan kedalam kantong putih. untuk bukti dan penyelidikan lebih lanjut. Tentunya penyelidiak personal tanpa melibatkan atasan dan kantornya.


George memeriksa seluruh tubuh Robert, pria lulusan fakultas kedokteran itu tidak menemukan luka lebam ataupun tusukan hanya saja leher Robert bengkak dan kaku. George juga menemukan bekas kuku dileher dan kedua pipi Robert.


Bruno datang menghampiri George yang tengah mengambil gambar di beberapa bagian tubuh Robert, ''Bagaimana kau sudah menemukan bukti?'' tanya Bruno seraya ikut berjongkok disamping George.


''Sejauh ini aku belum menemukan luka atau bekas pukulan. Hanya saja kedua pipi dan lehernya ada bekas kuku. Kuat dugaan dia dicekik dan dipaksa minum atau memakan sesuatu.'' jelas George. Dia menghela napas baru kali ini keduanya kecolongan ada yang bisa masuk ke rumah ini tanpa pengetahuan mereka.


''Aku harap kita memikirkan hal yang sama,'' sahut George.


''CCTV.'' Bruno langsung berdiri. Dia menuju ruang monitor.


Sementara George masih berada di dalam ruangan itu menjaga Robert. Dia juga memulai menyiapkan perlengkapan yang dibutuhkan untuk menghilangkan jejak Robert.


Bruno fokus di layar monitor komputer. Benar dugaannya ada seorang wanita berpakaian serba hitam ditemani seorang pria berbadan kekar. Keduanya memakai penutup wajah dan topi. Bruno menghentikkan durasi rekaman itu. Dia memperbesar layarnya.


Ternyata kejadian itu waktu dia menemani Lea di lantai tiga. Sementara George sedang sibuk diruang kerjanya.

__ADS_1


"Siapa mereka?"


Bruno melanjutkan lagi, Rekaman itu berjalan lagi, Sesampainya diruangan Robert, William melepaskan topi dan kaca hitamnya. Dia sempat tersenyum didepan camera. Terlihat Wiliam mengajak Robert berbicara, tapi Robert menolak dan terjadilah Wiliam membuka paksa mulut Robert, lalu wanita cantik itu memasukan serbuk ke dalam mulut.


Wiliam kembali menutup paksa mulut Robert. Mereka, memaksa Robert menelan serbuk itu. Karena, Robert yang terus menolak wanita itu mengambil minuman di gelas itu dia menuangkan kemulut Robert. Wiliam kembali menutup mulut Robert untuk memaksa pria itu menelan racun yang ia berikan. Yakin, Robert sudah menelan barulah keduanya meninggalkan Robert diruangan itu.


Robert berguling kesana kemari karena racun itu sudah mulai bekerja. Bruno menutup mulutnya ketika melihat Robert melambaikan tangan ke camera, dia juga sempat menyebut nama.


"Wiliam otak dari semua ini." teriaknya. Lalu suaranya perlahan menghilang.


Bruno mengepal, " Brengs*ek!" Dia segera mengeluarkan file itu lalu kembali menemui George.


"Benar dugaan kita. Wiliam otak dari semuanya. Dan Robert tadi sempat berteriak menyebut nama Wiliam." Bruno meletakkan file yang sudah dia ambil tadi ke atas meja.


"Kita dipermainkan!" geram George.


"Kita pikirkan ini nanti. Sekarang kita bereskan pria itu terlebih dahulu." sahut Bruno.


Bruno dan George mulai mmpembawa tas berwarna hitam itu menuju laut.Sesampainay di laut sudah ada perahu milik Bruno yang selalu siap ditepi pantai. Tas hitam itu dinaikkan ke atas perahu.


Bruno dan George mulai mendayung perahu menuju tengah laut. Sesampainya ditengah laut Bruno membuka resleting tas lalu jasad Robert dibuang perlahan ke dalam laut.


"Maafkan kami, tuan."

__ADS_1


Bruno dan George membungkuk kan badan mereka memberi penghormatan terakhir. Ritual yang keduanya lakukan setiap ada tawanan mereka yang meninggal.


__ADS_2