
Bruno masuk ke kamarnya dia mendesah kesal, Dia mengingat lagi pahanya dan paha Lea berbenturan. ''Sialan gadis itu seperti menggodaku,'' Ia pikir dia sudah terlalu tua untuk membalas godaan seorang gadis. Usianya tiga puluh delapan tahun, masih tergolong muda. Tapi, sepuluh tahun bekerja sebagai detektif, membuat Bruno merasa lelah dan letih. Mengingat teman-teman sekolahnya ada yang sudah memiliki anak bahkan ada juga yang sudah memiliki cucu. Sementara dia? Masih menikmati masa jomblonya? Atau menjadi pria dingin untuk selamanya?
Ibu Bruno pun, setiap Bruno pulang dia selalu menanyakan 'kapan menikah, kapan membawa seorang gadis untuk mengenalkan kepadanya.'
Tapi, Bruno selalu menjawab, 'Ya nanti saja, dia tidak memiliki waktu yang cukup untuk mencari gadis yang sesuai dengan kriteria dia, Bruno juga menginginkan gadis yang cocok dengan dia.'
Dia selalu berbohong karena sejujurnya wanita yang ia cintai itu telah pergi untuk melanjutkan studi magister tiganya di California, setidaknya itu yang dia dengar dari bisik-bisik orang tentang wanita itu. Karena, dia sendiri tidak mengetahui kemana Wanita itu pergi. Wanita itu hanya meninggalkan luka terdalam untuk Bruno, hingga pria itu bersumpah tidak akan jatuh cinta atau menikah.
''Baiklah, setelah kasus ini tuntas aku juga akan pensiun dari pekerjaan ini. Aku ingin menghabiskan masa tuaku dipedesanan. Aku ingin menjauh dari keramaian dan hiruk pikuk dunia ini.'' gumam Bruno. Ia menghela napas panjang.
Dia kembali menutup kamarnya. Bruno pergi ke parkiran bawah tanah, dia sedikit berlari karena George terus saja menghubungi dia. Bruno segera menstarter motornya lalu Ia melajukan motornya dengan kencang menuju rumah Robert.
🏞️🏞️🏞️🏞️🏞️🏞️🏞️
George menunggu Bruno dengan gelisah ditempat biasa mereka bersembunyi, kebun anggur tempat andalan mereka untuk mengawasi Robert. Dia mengarahkan teropong kearah rumah Robert. Tampak disana Robert sedang beradu mulut dengan seorang pria berkumis tebal.
''Dia, David? Kenapa mereka seperti sedang berdebat?'' gumam George.
''Siapa yang berdebat?'' Bruno menepuk punggung George.
Detektif itu tiba-tiba sudah ada dibelakang George. George menoleh, refleks tangannya langsung mengambil pistol dipinggangnya dan mengarahkan tepat dikening Bruno.
__ADS_1
''Eit's, kalem bro.'' Bruno mengangkat kedua tanganya keatas. Dia sempat kwatir temannya khilaf karena kaget lalu melepas tembakan di kepalanya.
''Kau, kagetin aku. Sejak kapan kau tiba disini? Lain kali jangan kagetin seperti itu, untung aku tidak langsung menarik pelatuk.'' George mendesah kesal.
''Hehehe... Baru saja datang. Ada apa? Sepertinya kau sangat serius melihat pria pemalas itu.'' Bruno pun berdiri bersebelahan disamping George. Dia mulai mengambil teropong besarnya lalu mengarahkan ke rumah Robert juga.
''Lihat, Robert. Dia dan saudaranya, David sedang berdebat.'' George berkata, matanya tetap fokus diteropongnya.
''Ya, aku sudah melihatnya.'' sahut Bruno.
''Kau, sudah melihatnya. Mengapa tadi masih bertanya kepadaku?'' geram George.
''Ya, aku bawa. Tapi, ngomong-ngomong sejak kapan kau jadi pelawak?" George menautkan kedua alisnya.
"Sejak aku bertemu dengan ga__" Bruno terkekeh.
"Hmmm..."
"Udah lupakan!" sambung Bruno lagi.
Keduanya bergegas ke rumah Robert. Sesampainya di samping Rumah, terdengar suara debatan Robert dan David semakin jelas. Kedua detektif itu tertarik untuk menguping sebentar.
__ADS_1
''Aku dengar dari Andreas, katanya kau telah menjual gadis itu?'' David menatap tajam Robert.
''Kata siapa? Aku juga sedang mencari dia. Albert, juga tidak mengetahui kemana gadis itu pergi. Lalu, mengapa kau datang langsung menuduh aku?" Robert balik menuduh David.
"Aku hanya heran saja, masa seorang gadis tinggal bersama kau dirumah ini. Selama dua puluh empat jam, tiba-tiba menghilang tanpa sepengetahuan kau?" blasa David.
"Terserah, apa pendapat kau tentang aku. Tapi, aku juga tidak duduk diam saja. Aku sedang berusaha mencari dia." Robert menggelengkan kepala, dia juga heran kenapa Lea begitu cepat sekali menghilang dari negara Spanyol?
"Mereka sedang membicarakan siapa?" tanya George.
"Nona Lea." sahut Bruno, dia mengeluarkan senjatanya lalu mengokang. Bruno mengarahkan psitol tepat di kepala Robert.
"Jangan lari, menyerahlah!!! Rumah ini sudah dikepung." Bruno dan George saling menempelkan belakang, keduanya mendekati Robert dengan pistol terus mengarah ke depan. Sesekali mereka memutar badan untuk berjaga-jaga kwatir ada musuh baru yang datang menyerang mereka dari arah yang tidak terpantau, pistol tetap mengarah ke Robert dan David.
David, perlahan mengeluarkan granat asap dia mulai melempar kearah Bruno dan George. Lalu kabur, Bruno dan George menutup hidung untuk mencegah asap masuk kedalam hidung dan mulut bisa menyebabkan mereka pingsan.
Dorr...Dorr..Dorr...
"Aduh!" rintih David. Dia berlari dengan satu kaki.
"Saya perintahkan berhenti disitu. Saya mohon kerja sama kalian berdua!" tegas Bruno.
__ADS_1