Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Lea pergi dari rumah.


__ADS_3

Lea berdiri dari sofa gadis itu tidak suka harga dirinya diinjak. Iya, 'kan dengan cara Bruno meminta George mengusir dia dari ruangan itu sama saja Bruno sudah menginjak harga dirinya. Lea tidak suka itu.


''Tidak perlu diusir aku bisa pergi sendiri, tuan George.'' Lea menatap tajam Bruno, "Dasar pria aneh!" gerutunya. Lalu ia beralih menatap George, "Terima kasih," ucapnya pada George.


Kemudian, gadis itu berlari keluar dari ruang kerja Bruno, dia menyusuri koridor naik ke lantai tiga sampai di depan kamarnya, pintu kamar terkunci. Lea menutup wajahnya dengan kedua tangan dia bingung harus ke mana?


"Lea ayo pergi dari rumah ini, Robert sudah ditangkap bahkan sudah mati. Mungkin mereka tidak membutuhkan kau lagi." Ia berbicara dalam hati. Dia menganggukkan kepalanya. Lea sekarang mengerti mungkin ini cara Bruno mengusir dia dari rumahnya. Dia cukup tahu diri selama ini Bruno baik kepada dirinya karena Bruno butuh informasi dari Lea. Setelah dia membantu Bruno menangkap Robert mungkin Bruno tidak membutuhkan dia lagi. Oleh karena itu, Bruno tega mengusir dia di depan George.


Kemudian, Lea berlari menuruni tangga melewati koridor ia bahkan tidak peduli tubuhnya bertabrakan dengan Marie. Nany yang dulu merawat dia waktu ia kecil dan wanita paruh baya itu sekarang bekerja dengan Bruno.


"Non, kau mau kemana?"panggil Marie. Karena tidak dihiraukan Lea wanita paruh baya itu bergegas mengejar Lea, dia ingin tahu kenapa gadis itu menangis. Marie tidak percaya jika Bruno berlaku buruk kepada Lea, dia tahu baik siapa Bruno karena sepuluh tahun lalu dia dibuang Bruno lah yang memungut dia dari jalanan ditengah malam dan mempekerjakan dia di rumahnya. Dia tahu baik gadis itu tidak memiliki rumah kalau pun ada rumah Lea tepatnya rumah orang tua Lea cukup jauh dari tempat mereka tinggal sekarang.


Namun, Lea tidak menghiraukan panggilan Marie. Dia terus berlari sesekali dia mengusap air matanya. Akhirnya Lea sampai ditaman bunga tempat yang pernah menjadi kenangan dia dan Bruno. Lea yang sudah cukup lelah karena berlari menjatuhkan tubuhnya diatas kursi panjang yang ada ditaman itu. Dia menangis sesunggukan, gadis itu menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


Marie pun datang duduk disampingnya.Wanita paruh baya itu masih gesit berlari walaupun usianya sudah setengah abad. Dia menepuk punggung belakang Lea.

__ADS_1


"Non, apa kau ingat aku?" tanya Marie sembari mengusap punggung anak asuhnya itu.


Lea menganggukkan kepalanya, dia lalu memeluk Marie penuh rindu. Marie pun membalas pelukan Lea. Keduanya melepas rindu sudah sepuluh tahun Lea tidak bertemu Marie begitupun dengan wanita paruh baya itu. Rindu, ia keduanya melepas rindu, Marie semakin mengeratkan peluknya sesekali dia mendaratkan kecupan di ujung kepala gadis itu. Air mata keduanya beriringan membasahi pipi mereka, tangis kebahagiaan ya Marie bahagia telah dipertemukan lagi dengan Lea, bayi yang dulu dia rawat penuh cinta. Begitupun Lea telah bertemu lagi dengan orang yang benar-benar mencintai dia selain kedua orang tuanya dia Nany, wanita tua yang sedang memeluk dirinya.


"Kesulitan apa saja yang sudah kau lewati seorang diri, Non? Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku menjagamu sampai kau menemukan pria yang bertanggung jawab untuk hidupmu. Tapi, aku pikir kau tahu alasan kenapa aku pergi. Semua itu diluar kemampuan aku," ucapnya tulus.


"Aku sudah tau semuanya bibi. Semua karena perbuatan ketiga pamanku, 'kan?" sahutnya masih terisak.


"Ya, Mereka membawa aku pergi malam-malam dari rumah itu dan aku diancam jangan pernah muncul lagi didepan kau, Non." cerita Nany.


"Mereka benar-benar kejam aku janji akan membalas semua perbuatan mereka suatu saat nanti," geram Lea.


"Tidak. Aku ingin pergi dia mengusir aku." Lea semakin menangis dia bingung harus kemana? Tidak mungkin dia kembali ke rumah Robert disana ada Albert. Tahu sendiri pria yang hasratnya tinggi itu akan senang kalau Lea dengan iklas kembali ke rumah itu. Dia juga lupa apakah rumah orang tuanya masih ada atau sudah di jual ketiga paman kurang ajar itu.


"Kau mau kemana? Bukankah rumahmu jauh dari sini? Kau harus melewati dua malam baru kau tiba dirumahmu. Apa kau tidak takut kau diculik ditengah jalan?" Wanita paruh baya itu mengerti betul betapa kejamnya daerah yang mereka tinggali itu pria-pria berandalan yang mabuk ditengah jalan akan senang melihat gadis belia seperti Lea berjalan sendiri. Atau para mucikari yang berkeliaran mencari mangsa akan merasa beruntung jika bertemu dengan Lea. Bisa saja mereka menghasut Lea lalu membawa Lea ketempat prostitusi? Tidak! Marie mengangguk cepat.

__ADS_1


"Persetan aku tidak peduli lagi. Aku tidak memiliki keluarga lagi. Kau juga tidak mencintai aku lagi.Lalu, apa yang aku takutkan aku seorang diri hidupku saja tidak tentu arah." lirihnya.


"Baiklah.Jika kau mau aku akan memberikan kunci rumahku, pergilah ke rumahku aku yang akan mengantar kau kesana. Rumah itu kosong karena aku hanya berkunjung jika aku mendapat liburan hari raya, tinggal saja di rumah itu, ini ada sedikit uang untuk kau, akhir pekan aku akan mengantarkan uang untuk kau lagi." Marie mengeluarkan kunci rumah dari kantong celananya lalu dengan beberapa lembar poundsterling dia memberikan untuk Lea.


"Kunci rumah saja aku tidak butuh uang," ucap Lea. Gadis itu hanya mengambil kunci dari genggaman Marie dia menolak lembaran poundsterling itu.


"Tidak.Kau harus terima uang ini juga, persediaan makanan dirumah itu tinggal sedikit." Marie memaksa.


Akhirnya Lea pun menerima uang itu. Marie menghela napas lega setidaknya dia bisa melindungi anak asuhnya itu. Membalas semua kebaikan Julia dan Andreas orang tua Lea yang dulu sangat membantu dia dan menghargai dia. Mereka tidak pernah membedakan status sosial dia yang sebagai seorang pelayan.


"Terima kasih, Bibi." Lea memeluk Marie sekali lagi.


"Sama-sama. Pergilah, aku akan mengunjungi kau setiap akhir pekan.Jangan takut rumah itu aman jauh dari kejahatan." pesan Marie.


"Baiklah.Aku pamit, bibi tidak perlu mengantar aku." sahut Lea.

__ADS_1


Gadis itu bergegas pergi dari taman bunga itu meninggalkan Marie yang masih bergeming menatapi Lea hingga menghilang dari pandangannya.


"Aku akan terus melindungi kau. Tuhan, terima kasih akhirnya kau pertemukan aku lagi dengan nona kecil." gumamnya.


__ADS_2