Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Menikah?


__ADS_3

''Kau mau membawa aku ke mana, paman dingin?'' Lea berusaha melepas tangannya dari cengkramanan Bruno.


''Kau mau tau?'' desis Bruno.


Dia mendekatkan mulutnya tepat ditelinga Lea.


''Apa?'' tanya Lea. Dia tetap mengikuti Bruno walaupun ia merasa lengannya seakan mau terlepas dari bahunya.


''Kita ke kamar.'' sahut Bruno masa bodoh.


Lea membelalakkan matanya.


''Semua bukan salahku tapi itu salahmu yang mengusirku.'' sahut Lea cepat.


Bruno tidak mendengarkan ucapan Lea. Detektif tua karatan itu hanya tersenyum sinis seraya tangan satunya membuka pintu kamar.


''Masuk!'' perintah Bruno.


Dia mendorong tubuh Lea hingga wanita itu terpental diatas ranjang.


''Kau sangat kasar!'' bentak Lea. Dia memegang pantatnya yang sakit karena terkena ujung ranjang.


''Diam!'' Bruno membentak. Tidak lupa dia mengunci pintu kamar dari dalam.


Lea menutup dadanya dengan tangannya dia terus bergeser mundur ke belakang berharap Bruno tidak berbuat nekat.

__ADS_1


"Jangan macam-macam aku bisa berteriak. Ingat aku masih lima belas tahun paman!" ancam Lea.


''Hahaha...'' Bruno tertawa ia datang duduk ditepi ranjang. Tangannya menarik kasar kaki Lea.


''Cepat kemari!'' ujar Bruno.


Lea pun akhirnya menyerah karena ia merasa pergelangan kakinya susah mau lepas karena tarikan Bruno yang kasar.


Dia menggeser tubuhnya mendekat ke arah tepi ranjang. Gadis itu menatap tajam Bruno.


''Ehem,'' Bruno berdehem. Kali ini dia yang merasa tidak nyaman.


"Kenapa kau membawa ku ke kamar ini lagi? Apa kau mau adikmu mengetahui kalau kau pernah menyekap aku disini?" Lea menatap Bruno menuntut jawaban dari Detektif itu.


''Apa yang harus ku lakukan denganmu?'' tanya Bruno. Dia mengosok-gosok dagunya memikirkan bagaimana caranya dia menjelaskan semuanya kepada adiknya, Jenifer.


''Aku tidak tahu. Aku tentu tidak bisa tinggal di rumahmu ini selama adikmu disini. Aku juga masih marah karena kau sudah mengusirku dari rumahmu,'' Lea mencebik.


''Aku minta maaf untuk itu. Aku terlalu cemburu melihat kau membelah pria itu. Tapi, kau harus menjelaskan mengapa kau pergi ke tempat club' malam? Mengapa kau minum alkohol di club malam?'' Bruno tidak bisa tidak marah. Ini kesalahan fatal yang Lea lakukan.


"Aku mencari kekasih." Lea melempar pandangan dari tatapan Bruno.


"Kau. Apa kau bodoh pria-pria disana itu hidung belang? Mereka bisa saj menerkam kau begitu saja. Dan kau akan kehilangan kegadisanmu!" Bruno mendekap Lea. Kali ini dia tidak memberi ampun lagi. Enak saja dia mencari pria lain disana sementara Bruno tersiksa di vila?


Bruno mencium Lea dengan penuh cinta. Tangannya menarik kasar kancing baju Lea. Dia memberikan tanda merah di bagian leher Lea.

__ADS_1


"Tidak! Kau benar-benar lupa adikmu sedang menunggu kita dibawah." Bruno baru sadar dengan cepat dia melepas Lea.


"Rapikan lagi pakaianmu itu. Aku akan segera mengurus pernikahan kita." ujar Bruno.


"Nikah? Aku tidak salah dengarkan paman?" sahut Lea.


"Tidak. Aku tau mengapa adikku ke sini. Ibu ku pasti sedang menunggu aku membawa pendampingku untuk aku kenalkan kepada dia. Jadi, kau harus segera menjadi istriku." Setelah mengatakan begitu Bruno keluar dari kamar. Dia berjalan turun ke bawah membiarkan Lea bergelut dengan pikirannya sendiri.


***


"Kenapa dia gampang sekali mengambil keputusan? Dia pikir dia siapa? Aku tidak mau aku harus menolak pernikahan ini." gerutu Lea.Dia membenarkan lagi kancing baju yang tadi dilepas Bruno.


"Lihat ada tanda merah dileherku.Apa dia tidak tau aku ini masih gadis suci?" Lea menggosok lehernya dengan tangan yang ia basahi dengan air. Sayangnya, bekas merah keunguan itu tidak menghilang justru lehernya yang terasa perih.


Bruno yang masih menguping didepan pintu tersenyum semirik.


"Kau pikir aku bisa melepaskan mu? Tidak! Kau telah menjadi milikku tidak ada satupun yang berani mendekati mu." Setelah mengatakan demikian Bruno berjalan melewati koridor menuju lantai bawah untuk berbicara dengan adiknya Jenifer.


"Tuan?" sapa Merry.


"Arhhh..kau hampir saja membuat aku jantungan." balas Bruno yang kaget dengan kehadiran Merry yang tiba-tiba berada dibelakangnya.


"Maafkan saya Tuan." Marry menunduk.


"Apa kau mendengar semuanya. Jika iya, aku harap kau harus pura-pura tidak mendengarnya jika tidak ingin gajimu bulan ini hilang." ancam Bruno. setelah mengatakan demikian Bruno pergi meninggalkan Marry yang bergeming didepan pintu.

__ADS_1


__ADS_2