
Para maid yang sedang sibuk di dapur menghentikan aktifitas mereka. Saat melihat Bruno masuk ke dapur ini momen langkah dan ini juga pertama kali mereka melihat pria dingin ini masuk ke dapur. Mereka perlahan mundur kebelakang, Bruno membuka laci kabinet dia mencari teh herbal lalu mengambil panci dan memasak air.Para maid itu memperhatikan Bruno yang berkutat dengan alat dapur, namun pria itu mengabaikan tatapan para maidnya. Bruno menaruh teh herbal ke dalam teko lalu menuangkan air panas ke teko.
"Tolong buatkan bubur ayam dengan soup jamur untuk wanita yang tinggal dikamar lantai tiga. Letakkan saja di depan pintu nanti aku yang ambil sendiri." Pesan Bruno.
"Baik, Tuan."
Bruno mulai menyusun teko dan cangkir ke napan. Kemudian, Bruno membawa napas itu dengan hati-hati. Dia menaiki anak tangga menuju lantai tiga, kamar Lea.
Sesampainya didepan pintu, Bruno meletakkan napan itu diatas meja depan pintu kamar Lea. Dia memutar kunci dilubang pintu, lalu membuka pintu, Bruno masuk dengan membawa napan berisi teh herbal panas.
"Bangun! Minum teh herbal ini setelah itu aku yakin kau pasti langsung sembuh." titah Bruno.
Lea, bangun dari tempat tidur. Dia lupa kalau dia sudah melepaskan ikatan tali di kakinya tanpa seizin pria di depan dia ini. Bruno mengernyit, dia belum terlalu tua jadi tidak layak jika dia menjadi pikun. Bruno mengamati kaki Lea, lalu melihat ke arah ranjang. Bruno tersenyum sinis, 'Kau cukup cerdik,' batin Bruno.Dia menaikkan satu sudut bibir atasnya.
__ADS_1
Lea, meraih teko itu dia menuangkan teh herbal ke cangkir dengan tidak sabaran.Ya, tenggorokannya sangat kering menuntut dia untuk segera membasahi dengan teh didepan dia ini, dari aromanya saja Lea bisa menebak teh ini harganya sangat mahal. Kemudian, dengan tidak sabar Lea langsung meneguknya tanpa dia berpikir teh itu panas.
Huek...
Lea memuntahkan teh itu.
"Kau mau membunuh ku?" bentak Lea. Dia meletakkan cangkir itu dengan kasar diatas nakas.
Lea, membersihkan bajunya yang basah terkena teh tadi dengan tangannya. Dia menjulurkan lidahnya yang melepuh ia mengibas-ibas dengan tangan nya, "Kau tidak iklas mengobati aku." lirih Lea. Sekarang lidahnya pun terluka karena terkena teh Panas. Lea tadi memaksa dirinya batuk biar tenggorokannya merah, supaya bisa mendapatkan air dan makanan dari Bruno .Tapi, justru dia terkena jebakannya sendiri.
"Aku tidak suruh kau meminum teh yang panas. Tapi, aku suruh kau bangun untuk minum teh. Kau itu cerdas, harusnya kau bisa membedakan dua kalimat perintah yang berbeda arti." Bruno duduk ditepi ranjang, dia melihat jam ditangannya, waktunya dia mengawasi rumah Robert. Tapi, gadis ini belum sarapan, bubur pesanan dia tadi belum diantar maid. Jika, dia meninggalkan gadis ini maid tidak bisa membawa soup dan bubur masuk ke kamar Lea. Karena, pintu kamar Lea dia pasti kunci dan kuncinya dia bawa.
Tok...tok...tok...
__ADS_1
Bruno berdiri dari tempat tidur, dia tahu itu maid yang mengantarkan bubur untuk Lea. Bruno membuka pintu, dia menerima baki yang di atasnya tersusun soup panas dan bubur ayam panas. Maid itu kembali ke dapur, Bruno membawa masuk baki itu lalu menutup pintu kamar lagi.
"Makan buburnya dulu selagi panas, ada soup jamur juga. Makannya jangan rakus, karena itu masih panas." suruh Bruno.
Lea, menatap Bruno. Dia menerima baki itu dengan bersemangat, " Terima kasih." ucapnya cepat.
Lea, tidak perlu menunggu jawaban dari Bruno. Dia langsung menyerbu soup panas dan bubur ayam itu. Sebelum menyuapkan ke mulutnya, dia menghirup aroma soup jamurnya sebentar, aroma itu mengingatkan dia dengan wanita berambut pirang itu.
"Soup ini, sama persis dengan soup buatan Nani." gumamnya pelan.
Kemudian, dengan rakus Lea menyuapkan bubur dan soup jamur berganti kemulutnya. Dia mengabaikan tatapan misterius dari Bruno.
"Apa kau mau makan juga?"
__ADS_1