
George menatap Bruno, dia heran kenapa pria itu belum juga keluar dari ruang kerja. Padahal biasanya setiap habis olahraga dia langsung membersihkan diri dan langsung sibuk memikirkan pekerjaan. Tapi, akhir-akhir pria itu lebih sering dirumah, dia juga lebih banyak kerja dari rumahnya.
''Sebaiknya kau mandi terus kita segera selesaikan masalah ini,'' suruh George.
Bruno mencium baju yang dia kenakan, "Apa aku bau keringat?'' tanyanya. tersenyum usil.
''Kau pikir saja sendiri. Dimana-mana orang habis olahraga langsung membersihkan diri.'' sahut George. Dia berdiri menerima cangkir dan sandwich yang diantar pelayan untuknya.
''Baiklah.'' Bruno meninggalkan George diruang kerja. Dia bergegas ke kamarnya untuk membersihkan diri.
🌹🌹🌹🌹
Bruno berjalan menuju lantai bawah untuk mengambil teh pesanan dia tadi di maid. Belajar dari malam tadi Bruno tidak mengizinkan maid itu mengantar minum atau apapun ke kamar Lea.
''Mana tehku?'' tanya Bruno.
''Ini tuan," Maid itu mengambil baki berisi teh dan satu cangkir yang sudah tersusun rapi di dalam baki, dia memberikan kepada Bruno.
Bruno menatap heran, "Apa cangkirnya hanya tinggal satu?"
"Maaf, cangkirnya masih banyak tuan didalam kabinet." Maid itu berpikir Bruno tidak menyukai cangkir lama. Dia bergegas mengambil satu cangkir dari kabinet, untuk mengganti cangkir yang baru.
"Tidak perlu diambil lagi cangkir itu. Aku butuh dua cangkir." Bruno mencegah maid itu untuk tidak mengembalikan cangkir tadi ke kabinet.
Maid itu menatap heran Bruno,'' Maaf.'' ucapnya. Bruno baru mau pergi. Tapi maid itu mengingatkan dia.
"Tuan, sandwichnya," Dengan sopan maid itu bertanya. Karena, Bruno tidak sembarang makan jika bukan dia yang minta dibuatkan.
''Baiklah dua buah sandwich. Tolong ditaruhkan dipiring saja.'' Bruno menunggu maid itu menata sandwich dalam baki.
__ADS_1
"Sudah." Maid itu menunduk.
Bruno tampak kesulitan membawa baki itu. Mengerti tuannya kesulitan maid itu menawarkan bantuan. ''Apa tuan butuh bantuan?'' Maid itu kembali tersenyum menggoda.
''Tidak perlu. Sebaiknya kau menyimpan bajumu dan tinggalkan rumahku ini.'' Bruno melirik maidnya dengan tatapan kesal.
''Maafkan aku tuan. Aku hanya ingin membantu anda.'' Maid itu tampak menyesali perbuatannya karena telah menggoda tuannya.
Tapi, Bruno mengabaikan ucapan maidnya. Pria itu terus berjalan menuju lantai tiga.
🥀🥀🥀🥀
Bruno sudah berdiri didepan pintu. Di tangannya ada teko dan sandwich untuk Lea dan dirinya. Entah kenapa akhir-akhir ini Bruno lebih nyaman sarapan bersama Lea dikamar kecil itu. Bahkan, dia juga sering membiarkan George sarapan atau makan sendirian.
''Apa kau masih tidur?'' Bruno meletak'kan baki diatas meja. Dia menatap Lea yang masih berada dibawah selimut.
''Lalu mengapa kau tidak bangun?'' Bruno heran dengan Lea.
''Ada perlu apa pagi-pagi kau sudah datang kesini?" Lea menahan malu setengah mati. Bayangan tadi malam masih memenuhi memorinya.
''Apa kau tidak ingin sarapan? Bangun sarapan dengan aku. Setelah itu aku akan pergi.'' Bruno menarik kursi dia menunggu Lea bangun.
Lea mengintip Bruno dari bawah selimut. Benar pria itu sudah duduk manis dikursi, satu kursi dia sediakan didekatnya, pria itu sedang menunggu Lea bangun. Perlahan Lea menyibak selimutnya. Lea turun dari ranjang, wajahnya merah padam dia sangat malu untuk menatap Bruno, Lea berjalan dengan menundukkan kepala menuju meja.
"Ayo sarapan aku sudah sangat lapar,'' Bruno ingin menuangkan teh panas dicangkir untuk Lea dan dirinya. Tapi, dia tidak sengaja menuang hingga teh itu tumpah didalam baki.
Lea tersenyum, melihat Bruno yang kesulitan menuangkan teh kecangkir.
"Aku saja yang melakukan itu," Lea mengambil teko dari tangan Bruno. Tangan Lea menyentuh tangan Bruno. Keduanya saling menatap sesaat.
__ADS_1
"Maaf, aku tidak sengaja." ucap Lea.
"Tidak apa-apa," Bruno tersenyum. Dia berusaha membersihkan teh didalam baki itu dengan tissu.
"Aku selalu gagal melakukan ini. Marie yang mengatakan itu,'' Bruno tersenyum.
Lea menatap wajah Bruno dia meletakan lagi baki itu, '' Perempuan? Dia pacar barumu atau mantanmu? Terdengar kamu seperti akrab sekali.'' Lea menyesap tehnya. Begitupun Bruno.
''Bukan, dia pelayan rumah ini.'' jelas Bruno. "Janga katakan kau mulai cemburu dengan wanita yang berada disekitar ku," Bruno tersenyum menyeringai.
Pria itu pikir dengan kejadian tadi malam, Lea mulai cemburu dengan dia.Tapi, Lea mengabaikan ekspresi Bruno.
''Marie?'' Lea mengulangi pertanyaannya. Tangannya masih memegang cangkir tehnya.
''Ya,''
''Dia seperti tidak asing,'' gumam Lea.
Bruno mengabaikan gumaman Lea, dia sudah curiga antara Lea da maidnya itu seperti ada hubungan.Tapi dia belum tahu hubungan apa diantara mereka. Bruno menggeser sandiwich itu didekat Lea.
Lea melihat dua buah sandwich dengan isian yang cukup banyak.Perutnya langsung bergejolak untuk memakan sandwich itu, ''Untuk aku semua?'' tanya Lea tidak percaya.
''Iya untuk kau semua. Karena aku tau, kau tidak bisa makan satu saja. Perutmu tidak akan kenyang," sahut Bruno dengan nada ledekan. Dia menyesap tehnya lagi.
''Apa perutku seperti gajah?'' Lea mencebik. Tapi, tangannya menyuapkan sandwich itu ke mulutnya terus. Menikmati setiap isian yang ada didalam sandwich itu.
''Mungkin,'' sahut Bruno dingin.
Lea sangat kesal dengan ucapan Bruno. Tapi, dia tidak marah dia menyukai sikap Bruno yang semakin hari semakin baik kepadanya. Walaupun, dia tahu Bruno masih tetap dingin kepadanya.
__ADS_1