Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Menggunakan perasaan?


__ADS_3

''Ya, tentu George harus merapikan kembali semuanya. Karena, kita tidak tahu kapan lawan datang menyerang.'' Bruno tampak santai berbicara, matanya kembali fokus di benda panjang dan bulat itu. Sesekali dia mengarahkan ke halaman depan sesekali dia mengarahkan ke jalanan.


''Apakah, aku pun harus terlibat dengan urusanmu yang aku sendiri tidak mengetahuinya?'' Lea ingin menendang batu kecil didepannya, berharap mengenai kepala pria dingin itu. Sayangnya, tidak bisa karena kakinya masih terikat dengan tali plastik.


''Nona Lea Andrea, apa kau benar-benar tidak ingin jujur?'' George mendekati Lea. Dia berbisik tepat di telinga Lea, dan berharap tindakan dia ini tidak diketahui oleh Bruno.


Lea mengabaikan bisikan George, dia menatap Bruno nanar. George berdecih kenapa Lea, mengabaikan dirinya. Sementara, jelas-jelas dia berkata tepat ditelinga Lea apakah gadis itu tidak mendengar perkataan dirinya?


''Lantas, sampai kapan aku terus berada didalam jebakanmu, paman es?'' Lea lupa, pertanyaan ini sudah berapa kali dia tanyakan dan sudah berapa kali pula diabaikan dua pria misterius berbaju serba hitam ini.


''Aku sudah bilang, berarti aku tidak ingin mengulangi perkataan yang sama lagi. Dengarin, baik-baik, kata siapa kami berdua dan kau akan pergi dari tempat ini?'' Bruno menoleh dia balik bertanya kepada Lea.


''Lalu? Jika tidak pergi dari sini, kau mau ngapain disini?'' Lea memotong pembicaraan Bruno. Sungguh gadis cerdas menurut Albert ini kenapa berubah jadi bodoh didepan Bruno?


''Kita akan menginap digubuk ini. Dan kau membantu kami untuk menangkap Roberto,'' Bruno tersenyum.


"Kau gila. Aku tidak mau!" tolak Lea.


"Kau hanya menjadi umpan. Bukan kah kau dan Robert berkerja sama?" Bruno mengernyit.

__ADS_1


''Umpan, maksudmu? Aku membantu kau menangkap Roberto? Demi Tuhan, kau lupa aku baru saja kabur dari tempat terkutuk itu. Tapi, tunggu sebentar maksud mu Roberto penjahat? Mengapa kau menuduh dia penjahat?'' Lea menatap tidak percaya kepada Bruno. Sumpah, berita yang dikatakan pria dingin ini berita yang sangat menggembirakan bagi Lea. Karena, jika terbukti Robert bersalah berarti si tua pemalas itu pasti akan dipenjara atau dihukum pancung, dan dia bebas berkeliaran di kota Spanyol tanpa harus waspada kepada Roberto dan kedua saudaranya yang kapan saja bisa menangkap dia. Tapi, jujur dia tidak menyangka jika pamannya itu orang jahat.


''Jadi, selama ini aku tinggal dengan seorang penjahat? Mengapa aku tidak menyadari itu semua? Oh, Tuhan mungkinkah aku terlalu naif?'' Lea bersungut. Dua tangannya memegang kepalanya. Ya, Lea bukan tidak percaya mengingat Roberto setiap pulang selalu dalam keadaan mabok tapi ini sungguh konyol. Lea tertawa sembari mengendikkan bahunya.


''Berpura-pura saja terus nona Lea Andrea,'' gumam Bruno kesal.


George yang sudah tidak tahan dengan sikap Lea yang menganggap remeh mereka. Yang berkata semaunya, lalu menertawakan mereka seenaknya. Dia menatap tajam Lea, ''Jangan berpura-pura tidak tahu nona Lea Andre!'' bentak George.


Kali ini George benar-benar tidak tahan lagi dengan sikap Bruno yang terkesan santai walaupun dia bersikap dingin terhadap Lea namun George merasa Bruno kali ini menangani kasus ini dengan main-main. Bisa saja Bruno menggunakan perasaan? Itu tidak boleh terjadi karena seorang detektif hidupnya dihabiskan dengan menyelidiki masalah sampai tuntas.


"Kau jangan meneriaki aku!" Suara Lea pun naik satu oktaf. Dia lupa saat ini dia berada di kebun anggur dekat rumah Roberto.


Lea mengabaikan ancaman George, dia berada dalam pikirannya sendiri. Lea tidak menyangka Roberto seorang penjahat. Sebentar, lalu bagaimana dengan Albert? Pemuda polos itu apakah dia mengetahui ayahnya seorang penjahat? Lea, melebarkan matanya, memori lamanya kembali berputar di otaknya.


''Ini menarik, sangat menarik.'' Lea berdecih. Dia, tahu aturan Spanyol jika seseorang yang terlibat kejahatan maka dia akan dihukum dan setiap hari akan kerja paksa.


Namun, saat dia sedang memikirkan hal indah itu. Tiba-tiba Bruno datang menghampiri Lea, Dia menarik pergelangan tangan Lea, sontak membuat gadis itu kaget.


''Kau harus ikut dengan ku.'' Bruno mencengkram pergelangan tangan Lea dengan kasar.

__ADS_1


''Hei, bisa kah kau berlaku sedikit lembut kepada seorang gadis sepertiku?'' Lea membentak, dia berusaha membebaskan cengkraman Bruno. Namun, tenaganya kalah dengan tenaga Bruno.


''Jangan melawan! Atau kau akan menelan satu buah peluruku.'' Bruno menatap tajam Lea.


Lea, menoleh mencari pria kaku itu, George. 'Kemana pria itu? Dia menghilang?' batin Lea kwatir.


Lea, tidak percaya hanya semenit dia berada dalam pikirannya. Dia pria kaku itu menghilang tanpa tau dia kemana? Lea, menatap Bruno dia takut dugaan dia benar, tentang Bruno yang seorang ped***ofil? Lea menghentikan langkahnya dia menolak ikut dengan Bruno.


''Jalan, sekarang!!!'' ucapan Bruno bukan permintaan tapi sebuah perintah. Pria, yang tadi menurut Lea sedikit lebih lembut kini kembali dingin seperti salju yang membeku, wajahnya datar penuh misteri. Lea ingin menangis namun dengan cepat Bruno menyumpal mulut Lea dengan kain yang entah Bruno sendiri dapat dari mana atau sudah disediakan? Lea, tidak mengerti.


Kini mulut Lea sudah disumpal. Bruno membawa Lea tiba di ujung jalan. Di sana ada sebuah mobil berwarna hitam mahal, Bruno menarik Lea mendekati mobil itu. Mata Lea melebar ketika ia melihat didalam mobil sudah ada George sebagai pengemudi. Bruno membuka kap mobil, dia mengambil tali lalu mengikat kedua tangan Lea, lalu dengan ringannya Bruno menggendong tubuh kecil Lea. Bruno membaringkan gadis itu ke dalam kap mobil. Lea, memberontak tapi percuma tidak ada yang mendengar teriakan dia.


Setelah melihat Lea berbaring dengan baik di dalam kap mobil berwarna hitam itu, Bruno tersenyum, '' Jangan melawan.''


Lea menatap tajam Bruno, pelupuk matanya penuh butiran kristal. Lea berdecih dan berhasil sumpalan kain itu terlepas dari mulutnya.


''Kau kejam, paman es!'' Lea memberontak, dia menggerakkan tubuhnya berusaha melepaskan ikatan di kedua pergelangan tangan dan kakinya. Namun, tidak dihiraukan Bruno. Pria berbaju serba hitam itu menutup kap mobil dengan kasar. Lalu, dia berjalan ke depan menuju pintu mobil bagian depan kanan. Bruno membuka pintu, lalu ia masuk dan duduk tidak lupa Bruno memasang sabuk pengaman dengan baik karena George pasti akan memacukan mobilnya seratus dua puluh kilo meter perjam.


Mobil hitam mewah itu mulai meluncur ke sebuah rumah berada di tepi laut. Sementara di dalam kap mobil Lea yang sudah berhasil melepas sumpalan dimulutnya itu mencari benda tajam apa saja yang didekatnya untuk memotong tali plastik yang mengikat kedua pergelangan tangan dan pergelangan kakinya.

__ADS_1


''Sial**an,'' teriak Lea. Karena apa yang dia cari tidak ia temukan. Lea, menangis, meratapi nasibnya niat ingin kabur dari dekapan pamannya namun kini dia terjebak dengan pria misterius ini?


__ADS_2