Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Flashback


__ADS_3

Sementara Lea yang ditangkap bukan gadis yang berpendidikan. Melihat Inggris saja belum pernah apalagi kuliah di universitas yang menjadi dambaan semua anak sekolah.Benar, karena Lea baru berusia lima tahun sudah ditinggal mati kedua orang tuanya karena sebuah kecelakaan pesawat yang menjadi uji coba ayah Lea.


Waktu itu, ayah Lea mengajak ibu Lea untuk menemani dia ikut uji coba layak terbang pesawat yang dirancang ayah Lea dan teman-temannya.


"Ayah, ajak aku terus bagaimana dengan Lea anak kita, yah?" tanya Angelina.


''Bukannya, Lea ada pengasuh? Bukannya selama ini kita kerja Lea bersama pengasuh? Lalu, mengapa hari ini kau begitu banyak alasan menolak ikut dengan ku?'' Nada bicara Charles naik satu okatf.


''Ya, ya, ya aku ikut denganmu. Sebentar aku panggil pengasuh dulu,'' sambung Angelina.


''Ya, cepatan sebentar lagi pesawat harus segera take off.'' sambung Charles dengan seulas senyum bahagia.


''Lea, bermainnya sama Nanny dulu. Ibu pergi sebentar.'' ujar Angelina.


''Lea, boleh ikut?'' tanya Lea.


''Nggak boleh, sayang. Tapi, Ibu janji, Ibu kembali nanti, Lea, Ibu ajak main ditaman.'' Angelina menyentuh kedua bahu Lea.


Lea memang anak penurut juga manis, semasa ia masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Dia tersenyum, memamerkan deretan gigi susu putihnya.


"Manis sekali anak ibu."


''Baiklah. Hati-hati ibu.'' Lea melambaikan tangan, bibir tipis kecilnya tersenyum.


"Terima kasih, sayang."


Angelina pun mendaratkan kecupan dikening, kedua pipi dan bibir kecil Lea. Entah mengapa kali ini Angelina berat sekali meninggalkan Lea bersama pengasuh dirumah berdua saja, padahal biasanya Lea tinggal bersama pengasuh.

__ADS_1


Angelina terus melambaikan tangan hingga pintu pesawat tertutup. Lea, tersenyum dengan tangan masih melambaikan ke arah pesawat yang mulai berjalan. Tangan Lea, digandeng pengasuh, Lea mengedipkan matanya ketika pesawat perlahan naik ke atas udara.


''Nanny, Ibu nanti lama pulangnya.'' ucapnya sembari menitikkan air matanya. Gadis itu seperti merasakan kedua orang tua nya akan mengalami hal buruk. Namun, apa itu Lea tidak tahu yang ia rasakan hatinya sangat sedih melihat kedua orang tuanya pergi.


''Ngga boleh bicara begitu, Lea. Ayah sama Ibu hanya pergi sebentar karena ada pekerjaan dadakan. Lea, anak pintar, nggak boleh nangis ya.'' Pengasuh Lea memang sangat menyayangi Lea. Dia menggendong Lea masuk kembali dalam rumah.


''Lea, makan ya. Nanny ambilkan makannya. Lea, duduk disini.'' Pengasuhnya mendudukkan Lea di kursi, ia menyetelkan televisi mencari saluran film kartun tentang kisah princes dan pangeran Lea sangat menyuki film kartun itu. Lea asyik menonton sementara Nanny ke dapur.


Akhirnya pengasuh datang membawakan makan untuk Lea. Dia meletakkan piring berisi pasta dan meatball kesukaan Lea.


''Ini, dimakan sampai habis nggak boleh ada sisa seperti kemarin lagi.'' pesan pngasuh.


''Baiklah. Nany, tolong bukain tutup saosnya.'' pinta Lea, sembari menyuapkan pasta ke mulutnya.


Pengasuhnya mulai membukakan tutup botol saos, lalu menuangkan di samping meatball milik Lea, " Udah. Lea makan dulu Nanny beres-beres didapur nanti setelah selesai baru nanny kesini temani Lea makan, Ya." Nany mengusap lembut kepala Lea.


"Baiklah."


Nany, menutup mata Lea, dia bergegas menggendong Lea ke taman belakang agar Lea tidak melihat berita barusan. Pengasuh nya takut Lea sedih dan menangis.


"Nany, Lea lagi makan." Lea menolak.


"makannya ditaman sambil lihat-lihat burung." Ia mulai mengalihkan perhatian Lea.


Lea akhirnya menurut. Pengasuh menarik napas lega. Ia pun berdoa dalam hatinya berharap sang majikan kembali dengan selamat, ia tidak tega melihat Lea yang masih kecil harus kehilangan kedua orang tuanya, namun takdir siapa yang bisa menolak jika yang kuasa sudah berkehendak?


Sepuluh hari kemudian orang tua Lea ditemukan tewas mengenaskan dengan kondisi pesawat hancur berkeping-keping. Di sebuah desa terpencil di kota Barcelona.

__ADS_1


Lea, setiap hari menangis mencari keberadaan orang tuanya namun sang Pengasuh selalu mengalihkan perhatian Lea. Hingga kedua jasad orang tua dimakamkan, Lea tetap dijaga pengasuh nya. Kehidupan Lea berjalan seperti biasanya, karena sang pengasuh sama sekali tidak berubah sikapnya kepada Lea.


Namun Setelah tiga bulan Lea tinggal bersama pengasuh, nasib baik tidak lagi berpihak kepada Lea. Pada suatu malam tiba-tiba ada tiga pria bertopeng masuk ke rumah Lea mereka menculik pengasuh Lea entah dibawa ke mana Lea tidak mengetahui sampai saat ini.


Paginya Lea bangun, Lea sudah berada di gubuk paman Andreas. Lea menangis mencari Nany namun pamannya selalu memberi alasan kepada Lea, ia mengatakan sang pengasuh itu jahat, dia mencuri uang ayah Lea, Charles dan membawa kabur.


Lea akhirnya percaya apa yang disampaikan ketiga paman itu. Dia akhirnya membenci sang pengasuh dan tidak ingin mencari tahu wanita berambut pirang itu, bagi Lea lebih baik dia tidak melihat manusia pengkhianat itu lagi, karena dia tidak ingin menoreh luka lebih dalam lagi walau sebenarnya Lea sangat merindukan sang Pengasuh namun bisikan kebencian dari paman-paman membuat Lea akhirnya benar-benar melupakan sang Nanny.


Karena, Itu Lea diasuh oleh paman-paman dari ibu dan ayahnya, bergantian untuk menunggu usia Lea tujuh belas tahun. Wiliam yang licik sudah mengetahui hal itu lebih dulu. Dia tau ada seorang gadis di rumah Robert. William dengan mudahnya, dia membuat identitas dan skema wajah yang mirip dengan Lea untuk ditangkap dan interogasi pihak kepolisian Barcelona, Spanyol.


Bruno yang dikenal sebagai detektif yang ulet dan disiplin bekerja ditunjuk untuk meneliti kasus ini, namun ada syaratnya jika dia salah maka dia akan dihukum dan di skors untuk berhenti melakukan penyelidikan dalam kasus apapun. Dan Wiliam yang ditunjuk sebagai ketua utamanya untuk mengawasi pekerjaan Bruno.


"Aku kasih kalian satu kesempatan lagi, untuk mendapatkan gadis itu." ucap Wiliam.


"Baik tuan, akan kami berusaha semampu kami." jawab ketua itu.


"Harus! bukan semampu kamu! Paham?" sergah Wiliam kesal.


"Maafkan, kesalahan saya yang salah mengucap!" sahut ketua itu.


"Ya, kali ini aku maafkan kau!" sahut Wiliam lagi.


Wiliam menunduk menatap anak buahnya yang tewas ditembak George. Mayat itu sudah diambil oleh keempat anak buahnya saat ini dibaringkan didepan mereka.


"Kubur teman kalian yang tidak berguna itu, dibelakang kebun gandumku. Jangan ribut agar tidak di curigai masyarakat sekitar." perintah Wiliam.


"Baik Tuan."

__ADS_1


Keempatnya mulai membawa mayat temannya itu ke kebun gandum belakang mansion Wiliam. Mereka mulai menggali dan memasukkan mayat itu ke dalam lubang yang sudah digali, lalu menutup kembali seperti tanah rata biasa. Tidak membentuk gundukan layaknya sebuah kuburan untuk menghilangkan jejak.


Setelah dikubur, mereka kembali ke ruangan untuk mendengarkan perintah selanjutnya. Wiliam sedang mengatur strategi bagaimana caranya dia menjatuhkan Bruno tanpa ada kecurigaan dari Bruno sendiri.


__ADS_2