
''Ya, aku Lea. Kau kaget mengapa aku bisa disini lagi? Kenapa, mustahil?'' Lea tersenyum, dia menatap sinis Robert.
Robert berusaha melepas dirinya," Kau harus menikah dengan Albert!" tegasnya.
Bruno membulatkan matanya. Dia menatap tajam Lea, seakan dia ingin bertanya kenapa kau tidak menceritakan masalah ini kepadaku. Bruno merasa ada yang aneh dengan perasaannya. Mengapa dia ingin marah mendengar Lea mau dinikahkan dengan Pria lain?
"Aku tidak mau. Aku yakin semua wanita di Spanyol ini juga pasti tidak akan mau menikah dengan putra anehmu itu!" Sarkas Lea.
"Lihat saja kau akan menyesal karena telah mengkhianati aku, Pamanmu." Robert ingin menampar gadis ini. Gadis durhaka yang tidak takut melawan Pamannya sendiri.
"Aku tidak akan menyesal tapi aku pastikan kau dan kedua saudaramu yang akan menyesal karena telah menyiksa anak berusia lima tahun. Apa kau tidak merasa bersalah selama sepuluh tahun kau menyiksa aku?" balas Lea.Persetan dengan status Paman. Salah Robert sendiri yang membuat Lea tidak menghargai dia. Lea yakin kalau Ibunya masih hidup, ibunya juga tidak akan marah melihat sikap kurang ajar dia terhadap Robert.
"Kau!" Robert ingin sekali menampar Lea sama seperti biasanya dia menghukum Lea. Tapi, dia tidak bisa karena kedua tangannya sudah diborgol.
Bruno dan George menarik kasar tubuh Robert. Mereka memaksa dia untuk bangun dari lantai.
"Tuan, bangun atau kami akan menembakmu disini," ancam Bruno. Pria dingin itu masih bersikap profesional, dia tidak menunjukkan sikap dendamnya dihadapan Lea. Bruno tidak ingin masalah pribadinya diketahui Lea. Gadis itu cukup tahu Bruno menangkap Robert karena pria itu terlibat kasus perdagangan manusia ilegal dan pembunuhan. Tapi, bukan pembunuhan terhadap Sandra kekasihnya.
"Aku mau dibawa kemana?" Robert sudah berdiri tapi dia tetap tidak mau melangkah.
__ADS_1
"Tidak perlu tahu kau dibawa kemana. Kau cukup diam dan ikut kami.Kau harus mempertanggung jawabkan semua perbuatanmu yang sudah kau lakukan kepada negara." bentak Bruno.
"Aku mau lihat seberapa berani kau melawan atasanmu?" Robert tersenyum penuh misteri.
"Ya. Buktikan saja disana. kekuatan hukum atau kekuatan atasan yang kau andalkan itu. Aku juga ingin tahu atasan siapa yang melindungi kau." Bruno mendorong kasar tubuh Robert hingga pria berusia lima puluh enam tahun itu menubruk badannya di dinding kamar. Bruno semakin penasaran pimpinan siapa yang selalu menjadi dinding berlindungnya Robert?
"Argh," rintih Robert karena dadanya sangat sakit saat menabrak dinding tadi.
Bruno tersenyum sinis saat mendengar Robert merintih kesakitan. Sumpah, Bruno ingin menembak kepala pria brengse*k ini tapi dia masih menahan dirinya. karena ada Lea bersama mereka. Seandainya, Lea tidak ikut bersama mereka mungkin Bruno sudah membunuh pria ini. Pria yang sudah melenyapkan kekasih tercintanya. Bruno ingin membalas dendam atas kematian Sandra, Bruno ingin membuang jasad Robert ke dalam laut sama seperti Robert membuang jasad Sandra kedalam laut. Tapi, dia harus menahan diri. Bruno menatap Lea, dia menghela napas kasar.
''Kita bawa dia ketempat biasanya.'' suruh Bruno. Dia memijit keningnya.
''Tidak. Apa kau mau diproses...'' George menghentikan ucapanya ketika matanya bertemu Lea, ''Oh Tuhan, Bruno kau hampir saja membuatku kecoplosan. Argh.'' George menarik kasar tubuh Robert memaksa pria itu ikut bersama mereka.
Lea, mengikuti Robert dari belakang dia bersyukur akhirnya Robert sudah ditangkap. Tinggal dua Pamannya saja yang masih berkeliaran bebas diluar sana. Dalam perjalanan menuju tempat interogasi, Lea terus tersenyum dia sudah membayangkan bagaimana Robert dihukum. Dia membayangkan bagaimana Robert kerja paksa.
♥️♥️♥️
Setelah perdebatan dan perlawanan panjang dari Robert. Akhirnya mereka sampai juga di rumah Bruno.
__ADS_1
"Kau urus dia. Aku masih mengurus gadis ini." Bruno menarik tangan Lea kembali membawa gadis itu ke kamarnya di lantai tiga. Sementara, George membawa Robert ke ruangan khusus Bruno, ruang introgasi.
"Kau akan mengurungku lagi?" tanya Lea, ketika keduanya melewati koridor.
"Ya. Kau pikir aku bodoh membiarkanmu berkeliaran bebas dirumah ku? Kau bisa sajakan membebaskan pamanmu." Bukan Bruno namanya kalau tidak memikirkan efek kedepannya.
"Aku, tidak bodoh." sela Lea.
"Ya, mau bodoh atau tidak kita lihat saja nantinya." sahut Bruno.
Karena berdebat dengan Bruno. Lea tidak menyadari ada seorang wanita paruh baya tengah berkaca-kaca melihat dia dari batas dinding dapur. Ya wanita itu tidak sengaja pas mengangkat wajahnya, dia melihat gadi berambut ikal itu tangannya ditarik Bruno melewati depan dapur.
"Dia?" Hatinya berdebar-debar. Dia berharap semoga yang dilihat benar gadis yang dia rindukan selama sepuluh tahun ini.
🌹🌹🌹
Mampir juga dikarya othor yang baru "Izinkan aku menjadi ayahnya. Boleh klik diprofil othor. Makasih 🙏.
Aku seperti biasa tidak layak minta bunga mawar atau vote. Aku hanya minta tolong setelah baca kasih like dan komen 🙏 itu support yang sangat berharga untuk kami penulis 🙏. Terima kasih, hatur nuhun, 🙏♥️🥰😘.
__ADS_1