Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Tamu tidak di duga.


__ADS_3

Setelah petugas Damkar pulang, Lea dan Jenifer masuk ke dalam rumah. Keduanya duduk di sofa. Lea menatap Jenifer yang sejak tadi hanya diam tidak ada tanda-tanda untuk pergi dari rumah pengasuhnya. Bukan tidak mau menerima tamu tapi dia saja menumpang dirumah Marry. Bagaimana jika Marry datang melihat ada Jenifer? Apalagi Marry sudah berjanji akhir pekan nanti dia akan berkunjung, '' Oh ya ampun hari ini akhir pekan.'' Lea mengumpat dalam hatinya. dia baru sadar ini akhir pekan, berarti sebentar lagi Marry datang.


Tidak


Marry tidak boleh melihat ada Jenifer di sini. Lea berusaha mencari kata-kata yang tepat setidaknya tidak melukai perasaan wanita asing ini.


Lea menarik napas lalu menghembuskan pelan merasa siap akhirnya Lea pun bertanya, '' Maaf, jika aku boleh tau tujuan kau, mau kemana?''


Jenifer tersenyum, ''Aku mau berkunjung ke rumah kakak laki-lakiku. Dia sudah lama tidak pernah pulang ke rumah, adik perempuanku satu minggu lagi akan menikah. Ibu ku pun sangat merindukan dia. Ahh...Aku kadang bingung seberapa cinta dia dengan pekerjaannya hingga dia melupakan kelurganya sendiri?'' Jenifer menghela napas dia meluruskan kakinya lalu menyenderkan tubuhnya di sofa, '' Lihat saja jika aku bertemu dia nanti akan ku cabut rambut dia hingga botak.'' geram Jenifer.


Lea terkekeh melihat reaksi Jenifer yang gemas dengan sang kakak.


''Kau bisa memberitahuku ciri-ciri kakakmu itu dan gambaran rumahnya siapa tau aku bisa mengantar kau ke rumah kakakmu itu. Aku memang baru disini tapi sudah lumayan mengetahui jalan di sini.''


Lea benar, dia memang sudah lama disini sudah enam bulan dia di tahan Bruno, dua minggu kabur dari tahanan Bruno waktu yang cukup lama bukan?


''Dia pria dewasa umurnya sudah kepala empat. Kakakku itu gila kerja. Tapi, dia tidak beruntung soal cinta.'' Jenifer tersenyun sinis dia sekarang tau apa yang harus dia lakukan.


''Dia pernah gagal dalam cinta dan berjanji tidak akan jatuh cinta lagi. Sialnya, masalah ini dia tidak memberitahukan kepada ibuku jadi ibu ku masih berharap dia segera menikah dan memiliki anak.'' Jenifer melirik Lea.


Lea, mengernyit dia membandingkan ciri yang disebut Jenifer sama persis dengan Bruno. 'Gagal dalam cinta, gila kerja dan tidak akan jatuh cinta lagi.'


Oh Good.

__ADS_1


Lea berdiri dari sofa dia berjalan ke arah dapur tenggorokannya mendadak kering. Dia harus bagaimana, salah menawarkan bantuan. Lea mengisi air mineral di cangkir lalu meneguknya hingga tandas, keringatnya tiba-tiba mengucur.


''Dia paman es? Tidak! Aku tidak boleh ke sana enak saja dia yang mengusirku harusnya dia yang datang mencari aku.'' Lea mengigit jari telunjuknya mencari alasan tepat supaya dia tidak jadi mengantarkan Jenifer ke rumah Bruno.


Akan tetapi, Jenifer pun tidak kalah licik dia sudah merencanakan sesuatu. Gegas dia berdiri dari sofa lalu menyusul Lea ke ruang makan.


''Nona Lea, '' panggilnya.


''Ah.. kau mau minum juga?'' Lea mengangkat gelasnya menujukkan ke arah Jennifer.


''Oh tidak aku tidak haus. Aku datang ingin mengatakan kau cepatlah bersiap-siap kita harus segera ke rumah kakakku.'' Setelah mengatakan itu Jenifer tersenyum lalu meninggalkan Lea yang masih bergeming di dapur.


''Aku ikut? Argh...bodohnya kau, Lea.'' Lea menunjuk dirinya sendiri lalu membanting pelan kakinya di lantai.


''Nona Lea...Apa kau tidak ingin mengantarkan ku?'' teriak Jenifer menahan tawa.


''Ya...ya...ya baiklah aku akan mengantarkan mu sampai depan taman rumahnya.'' balas Lea.


''Terima kasih. Kau gadis baik hati.'' puji Jenifer.


Lea tidak menjawab lagi. Dia hanya menggeleng seraya mengikuti Jenifer dari belakang keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pintu masuk.


🤍🤍🤍🤍🤍

__ADS_1


Sementara di rumah berbentuk L itu seorang pria tanpak tidak tenang sudah beberapa hari ini dia tidak bisa tenang dia masih saja mengingat bagaimana dia mencium Lea.


Argh...


Rasanya seperti ini kehilangan untuk kedua kalinya sesekali dia melihat ke bawah jendela dia berpikir Lea sedang memanggil dia dari bawah sana Bruno menunduk begitu lama namun gadis ceroboh itu tidak ada.


''Kau sudah gila Bruno.'' desisnya marah.


Bruno menutup jendela lagi berharap tidak membayangkan gadis itu lagi. Dia menutup seluruh tubuhnya dengan selimut bekas Lea pake. Ya, karena saat ini semenjak Lea kabur Bruno lebih nyaman tidur di kamar Lea walaupun sempit dan tidak ada pemanas ruangan tapi Bruno begitu tenang.


Namun, baru saja memejamkan matanya lagi, sepertinya dia harus bangun ada suara berisik dibawah sana yang menggangu tidurnya.


Damn it


''Siapa orang-orang tidak tau diri itu? Apa mereka tidak tau sekarang baru pukul sepuluh pagi? Masih ada orang yang tidur.''


Namun, keributan dibawah sana bukannya berhenti tapi justru semakin mendekat suara cempreng dan...


''Sialan! Kenapa aku harus punya maid yang kurang ajar tidak tau diri.'' Ia beranjak dari ranjang tangannya menarik pintu. Bruno ingin memberi pelajaran kepada para maidnya.


Ceklek..


''Kau?''

__ADS_1


__ADS_2