
Matahari mulai muncul diufuk timur. Perutnya berbunyi , Lea mengerjap tangannya perlahan menyibak selimutnya, kelopak matanya belum terbuka penuh, dia mengucek matanya, setelah bola matanya terbuka Lebar. Lea, menatap kearah nakas berharap ada sebuah cangkir berisi air mineral dan satu slide roti tawar atau roti gandum. Tapi, harapan Lea sia-sia, tidak ada cangkir ataupun teko berisi air mineral apalagi roti tawar diatas nakas.
Lea menghela napas, ''Dia benar-benar menghukum aku.'' desis Lea.
Lea yang merasa tenggorokannya kering, mencoba turun dari ranjang tapi kakinya terikat dengan kaki ranjang. Otak licik Lea mulai bermain, masa bodo dengan pria itu tidak peduli dengan amarah Bruno nantinya. Lea nekat melepas ikatan tali dipergelangan kakinya.
Tali dikakinya sudah terlepas, Lea tersenyum bahagia. Dia turun dari ranjang, Lea bergegas ke kamar mandi tujuannya mencari air di kamar mandi, sialnya air dibak kamar mandi kosong. Lea mencoba memutar kran air itu pun tidak keluar air.
"Dia mematikan saluran air di kamar ini.Oh kejam sekali pria ini!"
Lea mengusap kasar wajahnya, dia tidak akan menyerah atau sampai memohon kepada Bruno untuk membatalkan hukuman ini demi air atau makanan.
''Lea, semangat terus bertahan kau pasti bisa.''
Lea menendang dinding kamar mandi melepas kekesalannya. Lea, semakin kesal karena kantong tengahnya berbunyi.
__ADS_1
Kriuk...
Lea memegang perutnya.
''Argh...kalian tidak bisa bekerja sama! Tidak tahu kah kalian aku sedang berusaha mencari solusi?'' geram Lea.
Dia menggigit bibir bawahnya menahan amarah didalam jiwanya, matanya memancarkan amarah didalam sana. Mata Lea tertuju di wadah yang diletakkan diatas bak mandi, Ia keluar membawa gayung dari kamar mandi dia meletakkan gayung itu dibawah kusen jendela untuk mengumpulkan air hujan. Karena, pagi ini Spanyol gerimis. Lea, berharap gayung itu bisa terisi dengan penuh tidak peduli air hujan terasa pahit asal bisa melegakan tenggorokannya Lea sudah bersyukur.
Setelah meletakkan gayung itu, Lea kembali ke ranjang, sembari menunggu wadahnya penuh dia memilih membaca sebuah buku novel yang ia ambil dari laci nakas.
Lea mendengar ada bunyi langkah di koridior luar kamar tapi dia tidak bisa berteriak karena percuma berteriak minta tolong tidak ada yang akan mendengarkan dia, kamarnya terdapat peredam suara, atau bisa saja yang berjalan di koridor itu pria yang tidak ada belas kasihan itu.
Lea batuk-batuk
''Sialan, kenapa aku terus batuk seperti ini?'' Dia memegang tenggorokannya yang terasa makin sakit. Lea, berjalan lagi ke arah jendela berharap wadah yang dia simpan tadi dibawah kusen sudah terisi denga air hujan, tangannya terus memegangi tenggorokannya.
__ADS_1
Lea tersenyum meraih wadah itu, bibirnya yang tadi tersenyum berubah mencebik. Ternyata Lea, tidak memperhatikan genteng rumah itu menutup melewati kusen jendela otomatis air hujan tidak bisa masuk ke dalam wadah yang ia simpan.
Brugh...
Lea kesal dia melempar gayung itu kebawah, dia berharap gayung itu mengenai kepala seseorang dibawah sana lalu orang itu datang dan menolongnya membawa dia pergi jauh dari Bruno.
Lea kembali ke tempat tidur perasaan kesalnya masih meliputi hatinya, dia duduk diatas tempat tidur dengan kedua kaki menekuk dan kedua tangan memeluk kedua kakinya, wajahnya ia tumpukkan diatas kedua lututnya.
Pagi ini dia sangat menderita batuknya tidak berhenti, Lea berusaha menahannya, tapi tenggorokannya sangat gatal hingga memaksa Lea terus batuk. Lea merasakan tenggokannya teramat sakit. Lea, mendengar ad alangkah kaki mendekati pintunya, ia beringsut turun dari tempat tidur.
Lea, mengintip dari lubang kunci ia melihat ada manik coklat itu sedang menatap tajam ke arah pintu. Tangannya sedang memutar kunci kamar. Lea, bergegas ke ranjang dia berbaring lagi dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Lea mulai batuk-batuk bahkan sengaja memaksa untuk batuk.
Kantong matanya yang terlihat menghitam membantu alasan dia nantinya.
CEKLEK...
__ADS_1
Bruno yang mendengar Lea batuk menghentikan langkah kakinya. Bruno terdiam di tepi ranjang sembari mengamati gadis itu seperti orang kedingin dibalik selimut sana.
"Kau sakit? Tubuhmu gemetar, kau juga batuk-batuk." tanya Bruno kwatir.