
''Kau begitu percaya diri, sementara posisimu sedang tidak menguntungkan.'' sela Bruno. Dia berdiri dari duduknya, satu sudut bibir atas dinaikkan.
''Terserah apa penilaian kau paman es, tapi satu yang perlu kau catat baik-baik aku tidak suka diikat, disumpal, diseret dari kebun anggur dan diikat di tiang tempat tidur,'' Lea berhenti sesaat, ''Di paksa untuk pasrah saat kau memeriksa tubuhku untuk menemukan senjata tajam.''
Bruno menatap manik mata hijau milik Lea. Lea pun balik menatap bola mata coklat miliki Bruno, kedua bola mata berwarna itu saling mengunci sesaat. Bruno memejamkan matanya dia tidak percaya gadis yang dia hadapi sangat cerdik, '' Aku hampir saja tidak percaya nona Lea Andrea, kau bisa berpikir untuk kabur. Kau bertindak layaknya seorang profesional tanpa kau berpikir kau sedang berada dirumah seorang detektif sepertiku. Sekarang apalagi yang mau kau elak lagi?'' Bruno tersenyum sinis.
Lea menggigit bibir bawahnya, sorot matanya menatap tajam Bruno seakan dia ingin menegaskan dia 'BUKAN' gadis yang Bruno cari.
"Aku masih menunggumu untuk bicara jujur." lanjut Bruno.
"Aku tidak ada bahan untuk bicara lagi, aku juga tidak tau cara bicara jujur seperti apa yang kau inginkan dariku? Karena ini kejujuran ku, namun jika kau meminta kejujuran yang lain. Maaf, aku pikir kau akan kecewa karena itu tidak akan kau dapat dari aku!" bentak Lea.
"Baiklah. Aku pikir kau akan bicara setelah beberapa hari kau tidak akan diberi makan dan minum,'' Bruno tersenyum misterius.
''Ha? Kau bermaksud membuatku kelaparan lagi?.'' cela Lea.
''Lagi? ya lagi tapi kemarin itu karena ketidak sengajaan. Namun, kali ini sengaja aku hukum seperti itu. Aku pikir itu hukuman yang layak untuk orang yang berbelit-belit seperti kau. Karena, kau gadis yang kuat jadi semakin perutmu kosong maka semakin kuat pula kau bertahan dengan kebohongan mu itu," ujar Bruno.
__ADS_1
Lea tidak menyangka dia akan dihukum tidak diberi makan dan minum. Awalnya Lea pikir Bruno pasti akan memukul dia, berteriak ditelinganya. Lea menghela napas. Oke, mungkin lapar Lea masih bisa tahan tapi minum? Mana ada manusia tahan haus? Ini ide gila!
''Aku harap kau akan pertimbangkan lagi hukumanku ini. Hukuman ini akan berlaku mulai besok pukul tujuh pagi sebelum pukul tujuh kau boleh membatalkan dengan memberi aku jawaban yang jujur.'' Bruno menjentikkan jarinya.
''Aku lelah, silakan tinggalkan aku sendiri.'' Lea menatap Bruno. Matanya berkaca-kaca. Percuma berdebat seperti apapun Bruno tidak akan mengerti.
''Wow...kau lelah? Tapi, sayang aku tidak akan meninggalkanmu apalagi membiarkan kau bisa tidur enak. Aku tidak akan meninggalkanmu seorang diri disini, lagi. Jika, kau mengantuk tidurlah aku akan menjaga kau disini.'' Bruno tersenyum sinis,
''Terserah kau saja paman es, aku mau tidur.'' Lea memejamkan matanya.
Dia membuka matanya sedikit, melihat Bruno yang berkali-kali memperhatikan lekuk tubuhnya otak licik Lea mulai bekerja. Lea sengaja melengguh, membiarkan mantelnya terangkat ke atas. Ia memamerkan perut rata putih mulusnya.
"Gadis bodoh, lihat cara tidurmu seperti orang sedang latihan bela diri." Bruno menarik kasar mantel itu menutupi kembali perut Lea.
Bruno kembali duduk dikursi. Dia menopang kedua tangannya di atas nakas. Lea menghela napas, Bruno tidak melakukan pelecehan terhadap dirinya. Namun, otak licik Lea tidak berhenti disitu. Dia sengaja menaikkan kaki kanannya di dinding kamar. Bruno memejamkan matanya, jarinya memijit kening. Pusaka milik Bruno sudah mirip tongkat security yang berdiri tegang.
Entah bagaimana dan apa yang sudah Lea lakukan, tiba-tiba paha putih mulusnya terekspos begitu saja. Kaki jenjang yang indah, dambaan para pria itu terpampang didepan Bruno. Dua hari gadis itu tinggal di tempatnya dia sama sekali belum pernah melihat sedikit pun kulit atau tubuh Lea. Namun, malam ini semua terekspos tanpa Bruno paks? Di subuh seperti ini dimana ada peneliti yang mengatakan jika melakukan dengan subuh suasananya akan berbeda dengan malam hari, "Oh...Dam***n it." Bruno melihat dengan mata kepalanya sendiri.
__ADS_1
Bruno mendesah halus, sungguh wajahnya memerah beberapa kali dia menelan salivanya dengan kasar, rambutnya di tarik tanpa sebab. Dia pikir lebih baik dia tidak menunggu gadis ini dikamar ini lagi, dia takut dia tidak bisa mengendalikan dirinya, Bruno takut dia bisa jatuh jika menuruti hasrat yang sedang bergelora didalam sana.
"Gadis licik!" gerutu Bruno
Bruno berdiri dia mengambil kunci lalu mengunci pintu kamar Lea. Bruno merutuk dirinya mengapa dia gampang sekali bergairah ketika bertemu dengan Lea? Bruno memilih duduk didepan kamar Lea dengan pintu terkunci daripada dia menemani gadis itu di dalam kamar sana itu bisa berakibat buruk dan dia bisa jatuh dalam dosa.
🌹🌹🌹
Di mansion berdesain serba hitam itu, sedang terjadi sidang besar-besaran. Pria dingin tanpa ekspresi yang biasa dipanggil tuan Boss itu tengah mengintrogasi keempat orang suruhannya.
"Bagaimana kerja kalian berlima? Percuma memiliki badan kekar, makannya aja banyak tapi bisa dikalahkan gadis yang badannya kecil mirip bambu kering?" Pria itu sangat marah, dia melipat tangannya kebelakang sembari memutari keempat pria yang sedang berbaris didepan dia, kepala mereka tertunduk, takut. Dalam hati mereka berhadap semoga Tuhan memberikan dia kemurahan hati untuk mengampuni mereka, sehingga tidak sampai mencabut nyawa mereka. Mereka iklas dipukul atau dipecat tapi jangan sampai mengirim nyawa mereka ke neraka sebelum mendapat panggilan dari Tuhan.
''Lihat teman kalian tertembak berarti George dan Bruno sudah mengetahui identitas kalian.'' Pria itu menatap tajam salah satu dari mereka yang menjadi ketua dikelompok kelima pria itu.
''Pokoknya saya tahu gadis itu harus segera kalian culik dan bawa ke sini. Biarkan Bruno kebingungan disana. Dia tidak tahu dia telah melakukan__ karena sebenarnya wanita yang dia tangkap bukan gadis yang dimaksud pihak kepolisian.'' Tuan boss itu menaikkan sudut bibirnya keatas. Dia memukul pistolnya ditelapak tangannya.
''Saya sengaja melakukan itu karena saya sudah capek melihat dia yang selalu sukses . Membuat dia tinggi diri dan lupa banyak teman-teman seperjuangannya yang sedang berjuang untuk mencapai jabatan seperti dia." sambung tuan bos lagi.
__ADS_1
Tuan Boss, nama yang biasa dipanggil anak buahnya. Namun, nama sebenarnya bernama Wiliam. Dia yang di tugaskan untuk memerintahkan Bruno menangkap seorang gadis yang bernama Lea Andre. Gadis itu diduga telah bekerja sama dan membantu proses pengiriman paket dari Roberto ke inggris. Lea seorang gadis tamatan universitas Oxford terkenal cerdas dan licik.