Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Masak Perdana.


__ADS_3

Bruno sudah selesai mengoles minyak dipergelangan tangan Lea. Ia meletakkan minyak itu diatas nakas.


''Sekarang sudah malam, kamu tidurlah, esok pagi kita bahas lagi jika ada yang masih mau kamu bahas lagi.'' Bruno sama sekali tidak ingin menatap wajah Lea.


Lea, masih menunduk, dia masih malu menatap Bruno.


''Tunggu!''panggil Lea. Berhasil menghentikan langkah Bruno yang sudah sampai di depan pintu.


''Ada apa? Katakan." Bruno sama sekali tidak menoleh ke belakang dia masih menundukkan kepalanya.


''Aaaaku, laaapar.'' jawab Lea, terbata.


Hei ini Lea. Gadis yang tidak mudah menyerah atau menjatuhkan harga dirinya didepan orang yang menganggap dia seorang penjahat. Namun, sementara rasa gengsi dan malu dia singkir demi cacing-cacing di perutnya yang sudah memberontak minta segera di beri makan.Bruno menoleh dia menatap Lea.


''Jadi, kau belum makan? Sudah larut malam seperti ini maid belum memberikan kau makan sama sekali?'' tanya Bruno. Dia tidak tahu siapa yang salah tapi kali ini dia ingin memberi hukuman kepada maid.


''Bagaimana aku bisa dapat makan, sementara pintunya kau kunci, dan kunci kau bawa?" Lea mencebik.


"Ya, iituu, aku kwatir kau kabur." Sahut Bruno menunduk malu.


Ya, Bruno sama sekali tidak peka harusnya tadi sebelum mengintrogasi Lea dia tanya terlebih dulu apakah Lea sudah makan atau belum?

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar aku akan meminta maid menyiapkan makan untuk kau." Tanpa menunggu jawaban dari Lea, Bruno kembali menutup pintu dia pergi meninggalkan Lea, sesuai janjinya dia akan perintahkan maid menyajikan makanan untuk Lea.


Lea hanya menghembuskan napas kesal, " Dia laki-laki yang tidak berperasaan." Lea memilih membaringkan tubuhnya diatas ranjang sembari menunggu makanannya datang.


Sesuai janjinya kepada Lea, Bruno pergi ke kamar maid sayangnya para maid sudah pulas hingga tidak mendengar panggilan dari Bruno. Bruno berdecak kesal, terpaksa dengan berat hati, dia yang harus menyajikan makanan untuk Lea. Bruno masuk ke dapur dia bingung dimana tempat menyimpan makanan karena selama ini semua urusan dapur dia sama sekali tidak urus. Yang Bruno tahu dia hanya memberikan uang setelah itu semuanya urusan maid. Bruno berjalan ke arah kabinet dapur dia mencoba membuka kabinet ternyata ada pasta. Bruno mengambil satu bungkus pasta untuk satu porsi.


Bruno segera memasak air panas ia menunggu hingga mendidih lalu Bruno masukkan pasta dia benar-benar mengikuti resep yang ditulis dibalik bungkus pasta itu. Ia mulai motong bombay dan daging asap yang tadi dia ambil di lemari pendingin, sambil menunggu pastanya masak.


Setelah pastanya masak, Bruno mulai meniriskan lalu menumis daging asap dan bombay tadi tidak lupa ia masukkan keju mozarela dan sedikit susu setelah semua, sudah siap barulah Bruno masukkan pastanya.


''Sudah selesai. Kenapa aku jadi bodoh menyiapkan makanan untuk dia?'' gerutu Bruno. Tangannya membuka laci kabinet dia mengambil piring untuk menyajikan pasta ala Bruno jika dicium dari aromanya sangat menggugah selera. Tapi, entah jika dimakan Lea. Gadis yang pintar memasak itu, semoga saja Lea tidak menghina masakan Bruno dan itu pasti akan mengundang amarah Bruno.


Bruno menatap hidangan pasta yang sudah ia sajikan diatas meja, dia bingung harus meminta Lea makan diruang makan atau dia mengantarkan ke kamarnya saja? Lama berpikir akhirnya, ''Argh...dia benar-benar merepotkan aku saja.'' Lalu Bruno membawa piring berisi pasta itu kepada Lea. Bruno mulai menaiki anak tangga untuk sampai kamar Lea di lantai tiga.


''Apa kau sangat kelaparan? Lihat dirimu menangis seperti anak kecil.'' Bruno meletak'kan pasta itu diatas nakas lalu dia menarik kursi untuk Lea.


''Bangun dan makanlah keburu pastanya dingin.'' Bruno duduk di tepi ranjang. Dia menunggu Lea memakan. Eh, tepatnya Bruno menunggu mungkin sedikit pujian dari Lea soal masakan pasta dadakan dari dia?


Lea yang sudah sangat lapar bergegas bangun dia berjalan kearah nakas lalu duduk di kursi. Lea memandangi pasta itu, ia tidak tahan lagi Lea menelan salivanya dengan kasar dari toppingnya saja pasta itu sunggu menggugah selera, lelehan keju mozarelaz daging asap yang besar dan tipis bergulung-gulung, sungguh membuat Lea tidak bisa menahan diri untuk makan.


''Kau yakin, tidak memasukkan sesuatu yang membuatku mati? Mengingat dari awal kau menangkapku saja dan tadi kau menyelidikiku, kau seperti menginginkan aku mati ditanganmu.'' Lea menatap tajam Bruno.

__ADS_1


''Terserah kau saja, mau makan atau tidak, aku sudah berbaik hati membuatkan pasta untuk kau tapi kau masih saja menuduhku." Sahut Bruno kesal.


Kriuk...


Perut Lea sudah berbunyi lagi. Dia bergegas mengambil garpu yang sudah disediakan Bruno juga. Lea segera menyuapkan di mulutnya, Lea mengernyit. Bruno bergegas mendekati Lea, "Kenapa? tidak enak?" Dia begitu penasaran dengan jawaban Lea, "Bagaimana ada racunnya?Atau ada beling yang akan memotong-motong ususmu?" Bruno menaikkan satu sudut bibirnya keatas.


"Bukan itu Paman es, tapi kau sangat pintar, masakan pastamu seperti masakan ibuku." Lea menangis sesunggukan sembari terus menyuapkan pasta dimulutnya.


Bruno menghela napas lega, "Gadis bodoh apa kau pikir aku ibumu? Kau benar-benar membuat ku kesal." Bruno menggerutu. Dia berharap rasa terima kasih dari Lea bukannya menyamakan masakannya dengan ibunya Lea.


Lea tidak peduli dengan komentar dari Bruno, saat ini dia hanya mau makan untuk mengisi perut dan menyiapkan tenaganya. Selesai makan Lea memandangi sisa pasta satu sendok itu.


"Paman es, kau sungguh pintar membuat pasta. Apa Kau yakin, ini kau yang masak sendiri dengan kedua tanganmu itu?" Lea tersenyum sinis. Sungguh dia tidak percaya jika Bruno yang masak sendiri, mengingat Bruno pria dingin nan kaku bayangkan saja seorang pria dingin bisa memegang alat dapur? Lea, menyuapkan suap terakhir pasta ke mulutnya.


''Kau pikir aku tidak bisa masak? Kau tidak tau pekerjaanku, aku harus pintar dalam segala.'' sombong Bruno, " Bukannya tadi sudah kau puji aku kenapa kau kembali meragukan keahlian aku ini?" Bruno kesal.


''Termasuk salah menangkap target dan mengintrogasi dengan kasar?'' Lea meledek lalu meletakkan garpu diatas piring. Dia memutar badannya menatap Bruno.


''Kau sementara memancing amarahku? Jika benar sebaiknya kau hentikan karena dikamar ini hanya aku dan kau, dan aku sudah lama tidak menyakiti musuh. Kau tau, ' kan maksudku.'' Bruno berdiri dari ranjang, dia keluar meninggalkan Lea dengan membawa piring kotor bekas makan Lea tadi.


Lea, tertawa puas akhirnya mudah sekali memancing amarah seorang Bruno. Lea mengintip dari lubang kunci pintu, ternyata Bruno benar-benar pergi. Lea kembali ke ranjangnya dia mulai mengambil tas usangnya.Lea memeriksa isi tas itu, surat-surat penting, pakaian dalam dan beberapa lembar poundsterling dan koin yang dia dapat dari Albert semua masih ada.

__ADS_1


Lea menghela napas, merasa lega karena semua isinya utuh tidak kurang satu apapun. Lea, mengamati jendela, dia mengetuk-ngetuk jendela yang terbuat dari kayu khusus.


"Hah...kita lihat siapa yang kalah dan siapa yang menang paman es!" Lea menaikkan satu sudut bibirnya.


__ADS_2