Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Joging pagi.


__ADS_3

Ditepi pantai Bruno sedang berlari diatas hamparan pasir mengenakan celana pendek, kaos tipis tanpa lengan dipadu sepatu sneaker putih dikakinya membuat pria itu sempurna. Pria itu berlari mencari keringat melawan dinginnya udara pagi serta hembusan angin pantai dari pukul lima pagi tadi.


Sesekali dia melompat kecil, menarik napas menghirup udara sejuk khas pantai. Ia mengangkat kaki kirinya lalu ditekuk sampai ke dadanya, ia menjatuhkan kaki kirinya lagi bergantian dengan kaki kanannya. Selesai meluruskan otot kakinya. Bruno berlari lagi membiarkan hembusan angin lembut menyapu keringat yang mengucur dari pelipisnya. Ia menggerakkan kedua tangannya merenggangkan otot tangan dan lehernya. Pikirannya yang semalam suntuk kembali fresh, tubuhnya yang semalam sakit kembali bugar.


Hidup didekat pantai, joging ditepi pantai sudah menjadi rutinitas bagi seorang Bruno. Ia tidak mengenal musim dingin atau musim panas kecuali musim hujan terpaksa memaksakan dia harus berolahraga dirumahnya saja. Pagi ini cuaca Spanyol sangat dingin, dimana kebanyakan orang masih nyaman berada dibalik hangatnya selimut. Namun, berbeda dengan Bruno, pria itu sudah satu jam berlari mencari keringat ditepi pantai.


Bruno akui sejak kejadian tadi malam, membuat Bruno tidak bisa tidur dengan baik, kepalanya pening karena tidak menuntaskan has*ratnya. Karena itu pukul lima pagi, Bruno memutuskan joging. Ia beristirahat sebentar dengan duduk diatas hamparan pasir, menyaksikan gulungan ombak pagi yang begitu tenang membuat suasana hati Bruno ikut merasakan ketenangan.


Dia menoleh, mengarahkan pandangan ke arah rumahnya. Matanya menangkap sosok yang sedang mengamati dia dari balik jendela itu. Siapa lagi kalau bukan Lea, gadis beramput ikal panjang itu. Yang akhir-akhir ini mengobrak-abrik hati dan pikirannya.


Bruno tersenyum, dia berjalan kembali kerumahnya. Bruno langsung menuju lantai bawah. Disana para maid tengah sibuk membuat sarapan pagi.


''Pagi, tuan.'' sapa wanita paruh baya itu yang tengah mengaduk secangkir susu panas pesanan George.


''Pagi. Tolong seduhkan teh panas untuk aku.'' pesan Bruno sembari menerima jus tomat tanpa gula dari maidnya. Minuman rutinitas setiap pagi Bruno selesai berjoging.

__ADS_1


''Teh lagi, tuan? Aku harap aku belum melupakan kebiasan tuan yang suka kopi dipagi hari.'' tanya wanita paruh baya itu menahan tawa.


"Aku memang suka kopi. Tapi, hari ini aku ingin teh panas. Aku harap kau tidak melupakan bayaranmu dirumah ini.'' Bruno mendekatkan wajahnya ditelinga wanita paruh baya itu. Dia memperingati maidnya awal mereka sepakat membawa dia bekerja dengan Bruno.


''Aku tidak melupakan itu. Apa aku harus membuat teh diteko yang besar?'' lanjut kepala maid dirumah Bruno itu.


Bruno tersenyum kecut. Dia tahu maidnya itu bukan ember bocor yang hobi bergosip. Karena, perjanjian dia dan maidnya sangat kuat membuat Bruno tampak begitu santai. Wanita tua itu tidak akan mengatakan kepada siapa saja jika ada seorang gadis dilantai tiga, ''Sekalian saja pakai tempayan besar. Tempat yang kau gunakan untuk menangkap ikan dilaut.'' Bruno pergi meninggalkan dapur sembari tangannya menggosok handuk putih kecil dileher dan dahinya untuk mengeringkan keringat sisa joging tadi.


"Pagi, " sapa Bruno ketika dia masuk keruang kerja menemui George sahabatnya.


"Hmm...Aku tidak bisa tidur." ungkapnya.


"Bisa dilihat dari kantong matamu yang hitam. Kau seperti panda jantan yang tengah berada diatas pohon bambu," celetuk George.


"Masa? Aku pikir kantong mata menghitam sama sekali tidak mengurangi pesona ku," timpal Bruno.

__ADS_1


"Pesona saja percuma kalau tidak ada wanita yang terpikat," George tertawa.


Bruno mengambil kertas diatas meja kerja lalu membentuk bola melempakan ke wajah George, "Kau lihat saja aku yang akan menikah lebih dulu dari kau," ucap Bruno.


"Apa kau bicara serius? Aku harap wanita itu bukan Nona Lea karena dia akan mati tertekan menghadapi pria dingin seperti kau." ledek George.


"Terserah kau saja. Ngomong-ngomong bagaimana dengan Robert, si pria tua itu?" Bruno tampak serius dia teringat permintaan Lea tadi malam. Entah mengapa Bruno merasakan kecemasan yang dirasakan Lea malam itu.


"Dia masih tetap diam mengenai gadis yang membantu dia melancarkan bisnis ilegalnya," Jelas George.


"Apa kau berhasil mengintrograsi Lea?" Kali ini George yang serius menatap Bruno.


"Aku pikir dia tidak berbohong. Dia mengatakan yang sejujurnya, kau juga tahu selama aku kurung dia disini. Kita juga masih melihat ada wanita masih bertemu dengan Robert, kan?" tekan Bruno.


"Dia bahkan bercerita, Robert berulang kali menjodohkan dia dengan pria hidung belang. Aku tahu Robert hanya ingin uang dari pria itu tapi dia tidak memikirkan perasaan Lea. Entah hubungan apa diantara mereka tapi aku bisa lihat dari mata Lea ada kebencian yang mendalam di mata gadis itu," Bruno mendesah.

__ADS_1


🌹🌹🌹🌹


__ADS_2