
Bruno menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, dengan kedua siku tangan menopang diatas kedua pahanya.
"Kau tidak bisa menahan diri." ucap George.
"Bagaimana aku bisa menahan diri sementara dia tetap membela laki-laki yang selalu menyiksa dia?" sanggah Bruno.
George tersenyum, "Lalu sekarang kita gagal menjelaskan kematian Robert kepada Lea. Apa rencana kau selanjutnya?" tanya George dia menyenderkan tubuhnya disenderan sofa.
"Kita harus ke Oliver. Mengenai gadis itu biarkan saja, dia menenangkan dirinya dulu." Bruno lupa pintu kamar dia kunci. Dia pikir Lea tidur dikamar lantai tiga.
"Baiklah." George berdiri dari sofa mengambil dokumen dia memasukkan ke dalam tasnya.
"Ayo, berangkat." lanjut George.
Bruno menepuk kedua pahanya lalu berdiri dari sofa, keduanya berjalan keluar dari ruang kerja menuju parkiran motor. Bruno dan George memakai helm lalu mengendarai motor gede masing-masing menuju kantor, tempat Oliver ada.
******
__ADS_1
Lea sudah sampai dirumah itu. Dia, memasukkan kunci digagang pintu lalu memutar dan mendorong pintu itu, rumah Maria sangat rapi padahal wanita paruh baya itu hanya kerumahnya setiap akhir pekan. Lea tersenyum dia menyentuh setiap sudut ruangan memastikan ada debu yang menempel atau tidak, nyatanya TIDAK semua bersih. Dia melangkahkan kakinya menuju kamar, rumah itu ada tiga kamar Lea bingung Marie tidak memiliki keluarga namun mengapa dia membangun rumah dengan tiga kamar besar?
Dia masuk ke salah satu kamar, tanganya menyentuh tepi ranjang benar itu pun tidak terdapat debu. Lea tersenyum Marie dapat diancungi jempol soal kebersihan. Dia lalu merebahkan tubuhnya diatas ranjang melupakan sejenak pertengkaran dia dan Bruno.
"Dia siapa? Seenaknya mengusir aku?" gumam Lea. Namun, perutnya sudah berdemo Lea bergegas bangun dari ranjang dia berjalan ke dapur sesua ucapan Marie stok makanan dirumah itu tinggal sedikit. Lea mengamati isi lemari pendingin ada daging asap, sosis, dan beberapa lembar roti untuk burger ada juga pasta dan keju mozzarella.
Lea tersenyum dia menghitung roti itu lalu mengambil empat roti dan dua lembar daging asap serta keju mozzarella.
"Ini saja cukup aku tidak boleh menghabiskan uang Marie kasihan dia." gumamnya. Lalu, Lea mulai mengeksekusi semua bahan itu. Dia memang cukup lihai soal masak hanya saja dua bulan tinggal bersama Bruno membuat dia sedikit melupakan bumbu masakan.
Satu jam berkutat didapur akhirnya burger olahan Lea siap di santap. Dia menyajikan diatas piring datar dengan susu yogurt tawar di satu gelas. Dia membawanya dengan hati-hati menuju meja makan. Lea meletak'kan burger dan susu itu diatas meja lalu ia menarik kursi untuk menikmati masakannya sendiri.
*****
"Pagi," sapa Bruno.
"Pagi, ada apa kau datang ke sini?" tanya Oliver dingin.
__ADS_1
"Aku ingin pensiun," sahut Bruno santai.
"Pensiun? Siapa yang memaksamu untuk pensiun?" tanya Oliver dia meremas dokumen yang diserahkan George diatas meja.
"Aku pikir sudah waktunya aku berhenti. Aku ingin menikmati masa tuaku." Bruno tersenyum dia tidak bisa membayangkan ada seorang ayah yang tega membunuh putri nya sendiri hanya karena tidak menyetujui putrinya menikah dengan Dia, Bruno.
"Kau hanya butuh liburan aku akan memberi mu waktu libur sebulan. Aku menolak surat pengajuan pensiunmu." Oliver mengembalikan dokumen itu.
Namun, dengan tegas Bruno mengembalikan kepada Oliver.
"Terserah jika kau tidak mau.Aku anggap kau sudah menerima surat pengajuan pensiunku, kau ayah yang tidak tau malu teganya kau membunuh Sandra hanya karena kau tidak ingin Sandra menikah dengan ku," suara Bruno naik satu oktaf.
"Dari mana kau tahu itu? Kau gila apa aku bodoh membunuh putriku sendiri." sanggah Oliver.
"Ciuh, pak Tua sudah cukup sandiwara mu semua orang tau bahkan Sandra pun tertawa melihat kebohongan dirimu."Bruno hendak berajak pergi.
"Tunggu!" teriak Oliver.
__ADS_1
Namun. tidak dihiraukan Bruno dan George. Bagi Bruno urusan dia dan Oliver sudah selesai tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Dia kecewa sangat kecewa dengan Oliver, dia tidak bisa menatap Oliver berlama-lama Bruno takut jiwa membunuhnya mendesak dia untuk melakukan kepada Oliver.