Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Benang kusut.


__ADS_3

''Aku sehat, bahkan waras. Aku tahu pasti kau ingin mengatakan aku sedang bermimpi? Tidak, aku tidak bisa nahannya lagi sungguh aku mencintai dirimu, Bruno.'' Sandra meyakinkan Bruno.


Bruno tertawa hambar dia melempar pandangnya kesamping, ''Aku harap kau tidak kecewa dengan pilihanmu.'' Bruno memang tidak pernah percaya tentang cinta. Karena itu dia tidak pernah pacaran dari dia menginjak masa remaja bahkan dibangku kuliah pun tidak pernah pacaran. Trauma dia menjadi anak home broken membuat dia takut menjalin hubungan. Bruno takut dia gagal seperti ibunya. Bruno juga tahu menjadi seorang detektif sangat berbahaya memiliki kekasih.


''Aku pikir kau juga tahu bahayanya pekerjaan kita.'' Bruno menghela napas kasar. Dia berharap Sandra bisa menerima keputusannya.


''Kau pikir dengan kau beri alasan itu, aku menyerah? Tidak! Aku tetap mencintaimu, Bruno.'' Sandra tertawa. Dia heran diluar sana banyak pria berlomba untuk mendapatkan cintanya tapi mengapa Bruno justru menolak cintanya?


''Apa aku kurang cantik, seksi, katakan aku bisa memperbaiki itu semua. Atau jangan kata'kan kau tidak menyukai wanita.'' Sandra berdiri dari duduknya, dia berjalan ke tepi laut. Sandra berjongkok tangannya menyentuh buih sisa hempasan ombak yang tersisa dipasir. Sandra pun menjatuhkan tubuhnya diatas hamparan pasir. Dia duduk diatas pasir dua kakinya diluruskan, wanita itu membiarkan setiap kali ombak datang menghantam dirinya.


Bruno berdiri dari kursi dia menyusul Sandra. Bruno pun ikut duduk diatas hamparan pasir samping Sandra.


''Baiklah. Kita akan menjalani hubungan ini tapi aku mohon jangan sampai ada orang lain yang mengetahui hubungan ini. Aku pikir kau sudah tahu apa akibatnya jika ada yang mengetahui hubungan kita. Aku akan berusaha mencintai kau.'' Bruno memeluk Sandra. Dia membawa wanita itu bersender di dadanya, ''Berjanjilah padaku untuk tidak meninggalkanku dalam keadaan apapun, terbukalah kepadaku setiap ada masalah. Aku akan melindungi mu. Kau juga harus tau, aku tidak mau mengulang masalalu ibuku.'' Bruno menopang tangan satu diatas pasir. Kedua insan itu menatap lautan, tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Saat keadaan hening, Sandra tiba-tiba menarik tengkuk Bruno dia mendekatkan bibirnya dengan bibir Bruno. Ia memejamkan matanya meminta Bruno untuk melakukan lebih dulu tapi pria itu tidak melakukan. Gemas, Sandra akhirnya menyesap lembut bibir Bruno, ''Menembakmu hanya untuk meninggalkan kau untuk apa aku harus melakukan?'' Sandra bergumam. Bibir mereka masih menyatu, keduanya mulai saling beradu lidah didalam sana, "Bagaimana bisa kau menolak ciu*man dari seorang Sandra?" Keduanya tertawa kaku, Sandra melepas lagi bibirnya. Bruno membantu menyingkirkan anak rambut yang menutup wajah Sandra.


"Aku tidak ingin menodaimu.Jika, aku ingin aku akan melakukan dengan mereka yang menjual diri di club itu jauh lebih baik untuk aku." sahutnya dingin.


🌹🌹🌹🌹


Bruno mengatur napasnya, ''Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkanku. Tapi kau mengingkarnya.'' Bruno tersenyum butiran bening itu masih berlomba menetes membasahi pipi yang mulai ditumbuhi rambut halus itu. George tidak tega melihat Bruno. Dia mengusap punggung Bruno untuk menenangkan sahabatnya itu.


''Sudah jangan kau ratapi lagi, ini bukan kemauan Sandra aku tau dia sudah berusaha membebaskan diri dari para pengkhianat itu tapi kau tahu sendiri dia hanya seorang wanita. Aku akan membantumu, kita sama-sama menuntaskan masalah ini. Ternyata ini tujuan atasan memberimu tugas ini karena ada hubungannya dengan Sandra.'' George tidak bisa lagi melihat sahabatnya ini tenggelam dalam kesedihan. Dia akan membantu Bruno membalaskan rasa sakit hatinya. Sudah cukup selama ini dia menutup kasus ini rapat-rapat dalam hatinya sendiri. Saatnya dia dan Bruno membuka tabiat para atasan dan Robert kepada negara.


Lea, datang mendekati kedua pria yang tiba-tba terlihat menyeramkan. Langkahnya sedikit ragu tapi bukan Lea namanya jika dia tidak berpura-pura berani.


''Sudah selesai?'' tanyanya.


''Belum. Kapan Robert pulang?'' Wajahnya dingin menakutkan.

__ADS_1


''Kau sudah tau, 'kan dia pulang jam tiga atau jam dua siang. Kenapa, kau bertanya lagi.'' Belum juga Bruno dan Lea berdebat lebih panjang lagi terdengar suara tawa dari depan pintu.


"Hahaha, gadis sia*lan."


''Albert, Albert! Gadis sial*an itu benar menghilang. Aku bersumpah kalau aku menemukan dia. Akan ku cincang tubuhnya seperti daging.'' Pria itu menutup pintu dengan kasar lagi.


Lea menggigit bibir bawahnya menahan amarah dalam jiwanya. Dia tidak percaya pamannya tega berkata begitu kepadanya. Sementara Bruno meremas jemarinya bisa dilihat dadanya naik turun karena pernapasannya yang tidak teratur.


''Pintunya bagaimana?'' Lea baru ingat kunci masih gantung dari luar.


''Ambil kuncinya.'' titah Bruno.


''Ha? Ambil kuncinya kau tidak pikir aku akan ditangkap? Dia akan mencincang tubuhku. Apa kau tidak dengar apa yang dia katakan tadi?'' Lea menatap tidak percaya kepada Bruno.


Bruno tersenyum sinis. Dia mengabaikan tatapan Lea.


''Aku yang mengambilnya. Kau tetap disini.'' George akhirnya mengalah. Dia pikir kembali membiarkan Lea dan Bruno berdebat maka semuanya akan menjadi panjang. Dan, Robert pasti akan mengunci mereka dari luar.


George mengangguk. Dia perlahan membuka pintu, tangannya mencabut kunci lalu kembali menutup pintu itu lagi. Lea, bersembunyi dibawa meja bersama Bruno sementara George bersembunyi dibalik pintu.


Benar apa yang dikatakan Lea, Pria tua itu pasti akan datang ke kantornya. Robert menggerakkan gagang pintu.


''Oh, sh**ift aku lupa mengambil kunci dikamar.''Robert tertawa. Kakinya membawanya ke kamarnya.


Plakk...


''Albert, Albert. Dimana kunci kantor?'' Robert berteriak sembarang selain emosi karena tidak menemukan kunci. Pria itu sedang dibawa pengaruh alkohol.


''Si**alan! Kemana Albert?" Robert melempar semua barang yang ada diatas nakas. Tidak peduli itu berkas penting atau koin semua berserakan dibawah lantai. Kamarnya sudah seperti kapal pecah.

__ADS_1


Lea yang berada dibawah meja bersama Bruno tidak tahan lagi. Dia menyikut perut Bruno. Lea melewati Bruno begitu saja. Lea langsung keluar tanpa menunggu Bruno dan George mengikuti dia atau tidak. Bruno melirik ke arah George keduanya pun menyusul Lea.


Sesampainya didepan pintu kamar Robert, Bruno bergegas menarik tangan Lea. Dia meminta Lea bersembunyi dibalik belakangnya.


"Jangan bergerak!" Bruno menodongkan pistol kearah Robert.


"Hahaha, kau orang suruhan William?" tanya Robert meledek.


Bruno mengabaikan pertanyaan Robert. Detektif itu tahu itu hanya siasat Robert untuk berusaha kabur lagi. George dan Lea mengikuti Bruno dari belakang. Lea tidak sabar lagi tangan dan kakinya ingin segera menendang Robert sayangnya George menahan Lea.


"Kau kaget aku bisa mengenal Wiliam? Karena sebelum kau datang dia sudah memberitahu aku." sahut Robert santai.


Brugh...


Bruno melayangkan satu tendangan didada Robert. Pria itu langsung jatuh.


"Katakan apa hubunganmu dengan William." Bruno menginjakkan kakinya diatas dada Robert yang tergeletak diatas lantai.


"Kau akan menyesal. Karena telah melukai aku." Robert menatap sinis Bruno. Dia menahan sakit di dadanya.


"Aku tidak pernah menyesal. Katakan apa hubunganmu dengan William?" Bruno menunduk, dia menatap tajam Robert.


Robert melempar pandang dari tatapan Bruno, "Cari tahu sendiri!" sahut Robert tak kalah sinis.


"Brengs*ek!" Bruno menghentakkan kakinya lebih keras diatas dada Robert.


"Argh, Huek..." Rintih Robert diiringi cairan kuning keluar dari mulut Robert.


George segera mengeluarkan borgol, " Jangan melawan. Kau harus membayar semua perbuatanmu." George memasang borgol ditangan Robert.

__ADS_1


Robert pasrah tapi tatapan matanya menatap sinis George dan Bruno. Lea yang tidak tahan lagi dia datang berdiri didepan Robert. Lea tersenyum sembari melambaikan tangannya, " Hai, Robert." Lea bertepuk tangan.


"Kau? Bersama mereka?" Robert kaget. Dia berontak berusaha melepas diri.


__ADS_2