
Dengan gemetaran Wiliam mengikuti semua perintah Bruno, pasrah karena dia sendiri tidak memiliki pistol untuk melawan Bruno.
"Kau benaran gila Bruno!" teriaknya saat tangannya menarik kendali heli untuk mendarat.
"Sejak kematian Sandra aku jadi gila." sahut Bruno semakin mengeratkan tangan dileher Wiliam.
"Kejadian sepuluh tahun lalu masih saja kau ingat. Apa kau tidak berpikir Sandra hidup pun dia tidak mungkin akan menikahi kau!" ledek Wiliam
"Aku suruh kau mendaratkan heli bukan berbicara yang hal yang tidak penting!" sela Bruno.
Bagaimana Bruno tidak marah jika berbicara Sandra. Restu? Ya penghalang itu datang dari ayah Sandra. Oh bisa saja kematian Sandra ada kaitannya dengan ayah Sandra tuan Oliver? Kepala Bruno serasa mau meledak.
"Cepat!" bentak Bruno.
Walaupun takut, Wiliam tetap berusaha mendaratkan helikopter benar saja dalam hitungan lima menit burung besi itu mendarat sempurna diatas hamparan tanah lapang tengah-tengah hutan.
"Perfect!" seru Bruno menang.
Dengan kasar Bruno menarik Wiliam keluar dari kursi heli. Dia mendorong tubuh Wiliam hingga tersungkur dibawah kaki kursi belakang.
Brugh...
"Argh," rintih Wiliam. Bibirnya pecah karena terbentur kaki kursi, Wiliam menyeka darah segar yang menetes dari sudut bibirnya. Kemudian, dia menopang tangannya di pahanya untuk berdiri namun dengan cepat Bruno menginjak belakang Wiliam dengan kakinya.
"Tetap disitu, jangan coba-coba untuk bangun. Kau, masih beruntung aku tidak membunuh kau hari ini," Bruno berjongkok tangannya meraih kerah mantel Wiliam .
"Apa-apaan kau, Bruno!" bentak Wiliam. Yang tidak terima diperlakukan begitu tidak hormat dari Bruno, bawahannya kepada dirinya, " Apa kau lupa aku masih pimpinanmu," sambung Wiliam penuh amarah.
Brugh...
Bruno langsung melayangkan satu pukulan di pipi Wiliam.
"Kenapa kau berbuat licik? Orang seperti dirimu masih berbicara atasan? Apa kau layak menjadi atasan? Kenapa, kenapa!" Bruno menggoyangkan tubuh Wiliam dengan kasar.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti." sahut Wiliam berbohong.
__ADS_1
"Kau, masih bertanya apa maksudku? Kenapa kau gunakan cara licik meracuni Robert, pecundang!" Bruno mengambil hasil penelitian itu dari bagian dadanya. Ya map itu sengaja Bruno tadi bawa dan menyelipkan dibagian dadanya. Dia melemparnya dengan kasar ke wajah Wiliam.
"Kau, masih bantah? Ini hasilnya, dan apaa kau butuh file cctv juga? Tapi, ahh aku pikir kau tidak membutuhkan file cctv mengingat disini tidak ada listrik, hahahah." Bruno mendekatkan wajahnya dengan Wiliam. Sorot matanya tajam menatap Wiliam.
Wiliam meremas kertas-kertas hasil penelitian itu. Dia, menggertakkan giginya, seandainya dia ada pistol dia bisa menembak Bruno saat ini juga mengirim Bruno menyusul kekasihnay yang sudah berada dialam kematian tapi dia tidak cukup berani karena tidak memiliki pistol.
Ahh.. sialan Kenapa dia begitu ceroboh. Tidak biasanya dia melupakan pistolnya terselip dipinggangnya. Atau kah ini sudah waktunya dia menerima karma yang selama ini dia tabur? Membunuh orang hanya untuk menghilangkan jejak kejahatannya?
"Apa kau tidak bisa membaca? kenapa kau gunaka racun itu sementara kau tau racun itu hanya dalam hitungan detik nyawa orang yang minum tidak bisa tertolong, alasan apa kau menghilangkan jejak Robert?" Bruno melayangkan satu pukulan diwajah Wiliam, " Ini dari Sandra," Wiliam tersenyum menyeringai. Semakin memancing amarah Bruno.
Burgh...
"Ini untuk kecuranganmu selama ini!" Satu pukulan lagi melayang dipipi kiri Wiliam.
"Aku tidak ingin kau menggantikan posisiku. Aku tidak ingin jabatan ku digantikan kau.Mengenai kematian Sandra tanyakan pada Oliver, ayah Sandra, aku hanya melakukan perintahnya." Wiliam balas menatap tajam Bruno. Dia kemudian berdecih, jijik melihat perjuangan Bruno yang seakan yakin Oliver seakan merestui hubungan dia dan Sandra.
Bruno mengepal tanganya meremas ujung mantelnya lalu kemudian dia berdiri dan benar saja.
Burgh...
Karena pintu heli yang sejak awal penerbangan tidak tutup memudahkan Bruno untuk mengirimkan Wiliam tinggal di hutan selamanya. Benar saja satu kali tendangan dari kaki Bruno, tubuh bongsor Wiliam sudah berada ditanah keluar dari helikopter.
"Aku akan membalasmu, Bruno ingat itu baik-baik." Wiliam menunjuk-nunjuk kearah heli.
Bruno yang masih berdiri didepan pintu tertawa, " Hahah..aku tunggu pembalasanmu, Wiliam! Baik, selamat tinggal. Selamat menikmati hidup barumu bersama para monyet disini." Bruno melambaikan tangan kearah Wiliam.
Wiliam yang kesal ditinggal dihutan begitu saja oleh Bruno kesal dia menarik rumput-rumput yang berada di dekatnya lalu melempar rumput-rumput itu kesembarangan.
"Argh, Bruno berengs**ek. Tunggu pembalasan dari aku!" Wiliam tertawa mengolok dirinya yang tidak mampu melawan kekuatan Bruno, pria yang selama ini ini dia anggap ramah.
Bruno tidak peduli dengan ocehan Wiliam yang tidak penting menurut Bruno. Detektif dingin itu kembali menutup pintu heli lalu mengambil alih menerbangkan heli itu kembali ke rumah miliknya.
♥️♥️♥️
Bruno menghentikan heli tepat dihamparan pasir tepi pantai tepat matahari sebelum terbenam. Bruno melompat turun dari heli dengan pakaiannya elegan seperti biasa, rambut cokelat gelapnya sedikit lebih panjang dari seharusnya karena tidak diurusi sejak seminggu berkutat didalam laboratorium.Pria yang punya reputasi yang bisa membuat setan sekalipun tersipu, tapi saat ini dia tidak akan ragu mengorbankan hidupnya untuk Lea ya Lea. Wanita yang sekarang sudah mencuri hatinya.
__ADS_1
"Kau tampak mengerikan," ucap George.Ketika meyambut Bruno.
Bruno hanya menggelengkan kepalanya, "Setelah beberapa hari menghabiskan waktu dengan gadis bodoh itu aku pikir aku bisa masuk rumah sakit jiwa," ucapnya seraya mengyugarkan rambutnya.
"Separah itu, ha?"
"Aku bersumpah George, aku pernah menci..." Bruno menghentikan ucapannya. Pria itu bertingkat seperti anak ABG yang baru jatuh cinta.
"Oh, Bruno aku harap itu tidak pernah terjadi," sahut George yang sempat menangkap ucapan Bruno dan dia pikir Bruno sudah melakukan itu dengan Lea.
"Perempuan itu bisa membuatku gila," sahutnya masa bodo.
"Oh ya?" tanya George melirik, "bagaimana caranya?"
Bruno menatap George," Dia benar-benar membuat aku, ahh entahlah aku bingung dengan perasaanku,"
"Sejak kapan?"
"Sejak di taman itu dua minggu lalu, Ahh lupakan semua itu." Bruno sadar dia salah bicara lagi.
George tertawa," Aku tidak pernah bilang dia tidak membuatmu tergila," sahut George.
"Bagaimana aku ikut bersama mu menemui dia?" goda George.
Bruno menoleh dia menatap tajam George," tidak bisa dia sepenuhnya milik aku. Kau bisa mengambil alih semua misi ini aku tidak peduli asal kau tidak mengganggu gadis bodoh itu," ucapnya tegas.
"Tenang tenang tenang, Bruno" sahut George santai.
Karena perdebatan kedua pria dingin itu, tanpa mereka sadari keduanya telah tiba didepan pintu kamar Lea.
"Kau istirahat aja," suruh Bruno seraya memasukkan kunci ke lubang gagang pintu.
"Ya ya ya, aku mengalah," sahut George memutar mata malasnya.
Pria itu bergegas kembali ke lantai bawah meninggalkan Bruno didepan pintu kamar Lea. Yakin George sudah kembali ke lantai bawah. Bruno bergegas buka pintu kamar, dia melangkah masuk dengan perlahan. Ternyata, Lea tidak ada dikamar. Bruno snaagta kaget, dia menggigit bibirnya pria itu pikir Lea telah kerja sama dengan Maid untuk kabur dari rumahnya.
__ADS_1
"Lea, Lea," panggilnya kwatir.
Gadis itu tidak menjawab, Bruno semakin kwatir, dia ingin berjalan keluar untuk menemui maid menanyakan dimana Lea berada. Namun, ia menghentikan langkahnya ketika telinganya mendengar ada gemericik air berasal kamar mandi. Bruno menghela napas lega. Ia mengendap-endap mendekat kearah kamar maid. Bruno melirik jam ditangannya, " Jam segini dia mandi?"gumamnya.