
Lea menggerutu, dia sangat kesal ketika Bruno pergi meninggalkan dia begitu saja. Gadis itu memandangi punggung lebar pria itu sembari memonyongkan bibirnya ke depan, hingga pria itu menghilang dari pandangnya.
Plakk...
Bruno menutup pintu kamar Lea dengan kasar, membuat Lea kaget dan mengelus dadanya.
''Dasar, pria aneh! Dia pergi tanpa meninggalkan pesan kepada maidnya? Apa dia pikir aku tidak akan lapar selama dia pergi? Dia tidak tau aku gadis yang kuat makan?" Ia bergumam, memandangi pergelangan tangannya yang sudah mulai perih karena ikatan tali yang sangat keras, "Harusnya tadi aku bilang kalau aku gadis yang kuat makan," sesal Lea, dia menunduk sedih.
"Tapi, setidaknya hanya satu tangan yang dia ikat.Tapi tunggu apa dia pikir aku seorang penjahat? Atau hewan? Dia kenapa begitu aneh, kadang terlihat lembut, kadang sangat dingin tapi matanya nggak bisa berbohong, dia pria yang penuh kharisma dan misteri," Lea tersenyum.
"Oh Lea..." Gadis itu menarik napas lalu menghembuskan dengan sangat kasar.
"Jangan katakan jika kau menyukai pria aneh itu?" Lea bergumam lagi.
🏞️🏞️🏞️🏞️🏞️🏞️🏞️
Setelah menutup pintu, Bruno mengunci pintu lalu kunci itu ia masukkan ke dalam kantong mantelnya.
''Ya, kita gunakan motor saja.'' Bruno berlari melewati koridor rumahnya, kakinya menuruni anak tangga sembari berbicara melalui earphone yang terpasang ditelinganya.
Bruno sudah terlatih jadi tidak heran jika dia berlari sembari memasang sarung tangan hitam ditangannya, dan memeriksa peluru di pistolnya.
''Sudah?'' Bruno yang sudah tiba di area parkir bawah tanah mengajak George berbicara.
''Sudah, ini kunci motormu.'' George melempar kunci motor ke arah Bruno, dengan sigap Bruno menerima kunci motor itu tidak meleset.
George mengenakan helmnya begitupun dengan Bruno. Setelah semua untuk keamanan diri sudah dikenakan semua, Bruno dan George mulai menstarter motor besar berwarna hitam. Bisa dibayangkan kedua detekif itu sudah seperti film batm**an yang sedang mengendarai sepeda motor. Dua motor besar berwarna hitam itu saling beriringan.
Karena mengendarai dengan kecepatan tinggi. Tidak perlu menunggu waktu lama motor keduanya sudah membawa mereka memasuki sebuah mansion mewah berdesain serba berwarna hitam dengan wallpaper dinding bat**man.
Bruno bergegas turun dari motornya dia meletakkan helmnya diatas motor, dia melonggarkan kancing atas jaketnya, lalu ia berjalan masuk ke dalam ruangan itu, sahabatnya George mengikuti dia dari belakang.
Didalam ruangan bernuansa serba hitam itu telah ditunggui seorang pria berbadan tegak, wajahnya tidak pernah senyum entah sudah berapa tahun lamanya pria itu tidak pernah tersenyum. Pria itu sedang menikmati rokoknya disambung pipa hisap rokok yang terbuat dari gading gajah. Pria itu melirik, dia menoleh kearah Bruno dan George yang sudah berdiri di belakangnya, ia menjentikkan jari. Bruno dan George yang sudah paham kode dari Tuan besar itu mereka pun bergegas duduk di sofa berwarna hitam.
"Aku dengar gadis itu sudah kau tangkap?" Suara barito itu membuka obrolan mereka. Dia memutar kursi kebesarannya menghadap Bruno dan George. Ia menumpukkan kedua tangan kokohnya diatas meja.
"Benar, tuan!" Bruno menunduk.
__ADS_1
"Lalu?" Pria itu menghembuskan asap rokok rasa mintnya dengan kasar. Dia tidak sabar menunggu informasi selanjutnya.
" Gadis itu, saya kurung diruangan atas seperti tawanan lainnya." Wajah Bruno sulit ditebak. Sementara George hanya diam dan menundukkan kepalanya.
"Hmmm..."
"Barusan saya dengar kabar, Robert sedang marah besar mengetahui wanita itu menghilang." Pria itu pun menaikkan sudut bibir atasnya. Lalu berdecih, ''Hmmm,''
''Maaf, 'kan kami, tuan. Mengenai kemarahan Robert kami belum mendengar. Tapi, setelah dari tempat ini kami akan kesana lagi,'' ujar Bruno.
''Hmmm...segera tangkap dia. Jika, dia melawan tembak saja dan selidiki kedua saudaranya yang berada dipedesaan.'' pesan pria misterius itu.
''Baik.'' Bruno dan George segera berdiri dari sofa. Lalu, membungkuk memberi hormat, Pria misterius itu hanya menjentikkan jarinya.
Melihat Bruno dan George keluar dari ruangan pertemuan pribadinya. Melihat kedua detekif itu pergi, Pria itu meraih gagang telepon diatas mejanya dia memijit angka yang berada di telepon itu. Setelah, dengar nada sambung teleponya telah diterima pria itu mulai menempelkan gagang telepon itu ditelinganya.
''Awasi kedua detektif tidak berguna itu,''
[Baik]
''Mereka sudah keluar dari rumahku,''
"Aku bilang sekarang berarti sekarang!!!''
[Baik, tuan]
Tak...
Pria itu langsung meletakkan gagang telepon dengan asal. Sombong, angkuh, arogan itu yang patut disematkan di pria itu, karena itu yang membuat Bruno sedikit tidak menyukai pimpinannya itu.
Dia menaikkan kaki kiri diatas kaki kanannya, tangannya kirinya diletakkan diatas paha kirinya ia menepuk-nepuk pahanya dengan pelan. Tangan kanannya terus mengapit rokok yang tertenteng dipipa hisapan rokoknya sesekali dia menghisap dan menyebulkan asap rokoknya dengan kasar. Pria itu benaran tidak sabar menunggu hasil dari kedua detektifnya. Ya, walaupun dia selalu merendahkan kinerja Bruno dan George didepan orang kepercayaannya. Namun, dia patut mengacungi jempol selama ini dia tidak bisa melakukan apapun jika tanpa kedua detektif itu.
🖤🖤🖤🖤🖤🖤
Bruno dan George kembali meninggalkan mansion besar pria itu. Mereka memacukan motor besarnya dengan kecepatan tinggi. Di pertengahan jalan, Bruno tiba-tiba menghentikan motornya. Dia memukul tangki motor depannya sangat keras, lalu menghembuskan napasnya dengan kasar. Bruno menatap kedepan dengan tatapan kosong, ia mengacak pinggang dengan posisi tetap diatas motor.
''Kau jangan mengajari aku cara menyelediki wanita. Karena, sampai kapanpun aku selalu memperlakukan wanita sebagai seorang Putri. Aku tidak akan menggeledah mereka dengan tidak bermoral seperti yang kau lakukan,'' sungut Bruno. Dia sadar telah melakukan kesalahan untuk kasus Robert ini. Harusnya, dia tidak___.
__ADS_1
Bruno mengusap kasar wajahnya. Dia sungguh tidak rela jika Lea diperlakukan seperti gadis-gadis tawanan sebelumnya. Karena, gadis itu bukan___.
''Hufft...'' Pikirannya kacau rasanya dia ingin kembali ke Vilanya mengecek gadis ceroboh itu atau menghubungi gadis? Sayangnya, dia tidak tahu gadis itu memiliki ponsel atau tidak. Dia ingin menghubungi maid tapi itu tidak mungkin karena Bruno sengaja tidak memasang telepon rumah. Berperang dengan perasaan dan tugas bukanlah hal yang mudah bagi Bruno. Dia pikir sampai kapan dia terus menjadi seorang detektif yang----
''Argh...'' Bruno menatap keatas langit. Ternyata sudah malam, gulungan awan putih menghiasi langit biru, bintang-bintang memancarkan cahaya yang begitu indah. Seulas senyum misterius terukir dibibirnya.
Namun, saat sedang berada dalam kemelut hati yang rumit. Suara George dari sambungan earphone kecil ditelinganya membuyarkan lamunan nya.
''Kau dimana, Bruno? Kenapa aku tidak melihat kau?'' George yang sudah hampir dekat tempat Robert baru menyadari ternyata Bruno tidak ada dibelakangnya.
[Perutku tiba-tiba mules aku masih mampir di toilet umum]
Bruno berbohong.
''Baiklah. Segera menyusul sepertinya tiga orang pria itu mengikuti kita lagi.''
[''Baiklah.'']
Sebelum melanjutkan perjalanan menyusul George. Bruno menoleh kekiri-kanan untuk memastikan ucapan George, bukan tidak percaya sahabatnya itu tapi__.
Namun, ia tidak menemukan orang yang mengikuti mereka. Bruno menghembuskan napas kasar, sungguh saat ini dia sangat frustasi.
''Ya, aku akan ke sana.'' Bruno memejamkan matanya. Lalu, ia mulai melanjutkan perjalanannya menyusul George sahabatnya.
George menghentikan motornya ditengah hutan menunggu Bruno, benar tidak membutuhkan waktu lama Bruno pun menghentikan motornya disamping George yang ada semak belukar. Mereka menyembunyikan dua motor itu disana, mengambil dahan-dahan hijau menutupi motor besar itu agar tidak dilihat orang .
"Kau makan apa?" George langsung menyambar Bruno dengan pertanyaan konyol.
"Diam!" bentak Bruno. Ya, Bruno harus membentak karena dia tidak ada jawaban untuk menjawab pertanyaan tidak penting dari George.
Bruno berjalan didepan, dia mengayunkan tangan meminta Goerge mengikuti dia dari belakangnya. Karena, Bruno sudah menemukan jalan pintas menuju rumah Robert.
Kedua detektif itu mengendap-endap menunduk dibawah pinggir dinding vila Robert. Benar apa yang dikatakan Bos. Robert tengah marah besar. Bruno dan George menempelkan telinganya dari salah satu celah ventilasi, menguping pembicaraan Albert dan Robert.
Plakk...
''Kenapa kau bodoh! Mengatasi satu wanita lemah saja kau tidak bisa? Anak tidak tau diuntung! kau tahu dia itu pohon uangnya kita.'' Robert meneriaki Albert.
__ADS_1
Albert yang masih menahan sakit luka tusukan di bahunya hanya diam dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut besar. Albert benar-benar menuruti saran dari Lea. Dia berpura-pura demam, dan penyakit turunannya kambuh, alasan yang tadi dia berikan kepada Ayahnya, Robert. Ya, Albert memang memiliki sakit prostat.