
Bruno menarik kasar helm dari tangan Lea, '' Kau, itu bisanya cerewet saja. Tapi memakai helm dikepalamu sendiri saja, kau tidak bisa.'' Omel Bruno.
Lea, tersipu malu. Dia pasrah membiarkan Bruno memakaikan helm dikepalanya.
''Terima kasih.'' ucap Lea sembari menggigit bibir bawahnya.
Brune mengabaikan ucapan Lea. Dia langsung naik ke atas motor. Dia menstarter motor. Lea masih berdiri dibawah belum naik ke atas motor.
''Naik.'' Bruno berdehem. Tanpa melihat Lea sama sekali, pandangannya lurus ke depan.
Lea, mencebik. Dia naik, duduk dibelakang Bruno sedikit menjauh. Bruno mulai menginjak gas.
Brem..
Motor melaju begitu kencang.
"Pegangan kalau kau tidak ingin mencium aspal." Bruno memperingati Lea.
"Apa? Kau bilang apa? Aku tidak mendengarnya." Lea merapatkan tubuhnya dibelakang Bruno, dia mendekatkan wajahnya dekat tengkuk Bruno.
"Pegangan!" Bruno menoleh ke belakang. Pria itu sedikit berteriak.
"Oh..Begini?" Lea melingkarkan tangannya di pinggang Bruno. kepalanya dia tempelkan dipunggung lebar itu.
"Ya!" sahut Bruno kesal.
Bruno menambah kecepatan, sesekali dia sengaja melakukan rem mendadak membuat tubuh Lea harus berbenturan dengan belakangnya. Karena, kesal dadanya sakit karena benturan tadi, spontan Lea langsung mendaratkan satu pukulan di belakang Bruno.
PLAKK...
"Jangan modus kau! Kau pikir aku anak kecil? Tidak mengerti otak licikmu, ha?" Lea mencebik kesal.
Bruno merasa pukulan Lea seperti lalat hinggap. Dia semakin menambah kecepatan benar saja tidak sampai satu jam Bruno tiba ditempat tujuan.
Bruno menghentikan motornya di tengah hutan.Tapi, tunggu. Lea sepertinya mengerti arah ini kemana? Oh, Tuhan ini kerumah Robert?
"Apa kau ingin menunjukkan bagaimana Robert dihukum?" Karena selama ini Lea pikir Robert sudah ditangkap dan saat Ini sedang dihukum dipenjara atau sementara melakukan kerja paksa.
"Kau akan ku ajak pulang." Bruno mulai menyembunyikan motornya dibalik semak belukar itu. Dia menarik tangan Lea.
__ADS_1
"Jika kau tidak ingin di hukum lagi.Turuti semua permintaan aku!" Bruno tersenyum.
"Apa kau benar-benar ingin mengembalikan aku?" Lea menunjukkan puppy eyesnya.
"Ya.Jika kau tetap cerewet. Lagi pula bukannya selama ini kau sering datang ke sini?" sahut Bruno.
Lea diam. Dia tidak mau banyak bicara lagi sebelum ditanya Bruno. Lea tidak mau dipulangkan ke rumah neraka itu. Tapi, salah Lea juga selama ini dia yang selalu berbelit-belit tidak menjawab dengan benar.
Sesampainya di tempat biasa Bruno dan George bersembunyi untuk mengawasi rumah Robert. Bruno menatap tajam Lea, seakan dia ingin menerkam Lea hidup-hidup membuat Lea bergidik ngeri.
"Apa kau sudah siap?" tanya Bruno sekali lagi.
"Siap apa? Aku tidak mengerti tujuanmu." Jujur Lea. Dia pun ikut mengendap-endap berharap Robert tidak melihat dia lagi. Tidak, dia tidak sudi kembali lagi. Dia sudah berhasil kabur, Lea tidak ingin menjadi korban Robert lagi. Tidak, Tidak!
"Kerja sama." jawab Bruno dingin.
"Kerja sama apa?" Lea memang tidak sekolah tinggi tapi dia gadis yang cerdik.
"Aku ingin kau mengatakan siapa Robert yang selama ini kau kenal?" Bruno melirik George.
"Kau jangan berbohong karena aku melihat sendiri kau keluar dari jendela kamar itu. Kau juga sempat di kejar pria itu sampai di kebun anggur ini. Bohong jika kau tidak mengenal pria itu dengan baik, kau juga menjadi target kami. Apa benar, kau bekerja sama dengan pria yang bernama Robert itu?'' Bruno menatap dalam Lea.
Lea juga ingat pesan sang Mama Angelina, " Nak, dimana pun kau berada selalu junjung tinggi sikap jujur, takut dan malu. Jangan malu berkata jujur Karena sekali kita berbohong maka orang selamanya tidak akan percaya kita lagi." Lea mengingat pesan Angelina sang ibunda.
Bruno tidak sabar lagi menunggu jawaban Lea.
''Aku yakin kau akan mau bekerja sama,'' kata Bruno.
Lea mendengus, dia memutar bola matany, '' Nah.'' lanjut Bruno lagi, dia menatap tajam Lea, ''Apa kau mengenal Robert?''
Lea mengangguk.
''Berapa lama kau sudah mengenalnya,'' lanjut Bruno.
''Hei, paman es. Ap tidak ada tempat yang layak untuk kau introgasi aku? Kenapa kau suka sekali di semak-semak seperti ini?'' Lea mencebik, dia menatap kesal Bruno.
Lea mengingat dia tinggal bersama Robert untuk yang terakhir dia kabur baru enam bulan karena sebelumnya dia masih di tempat David. Lea mengangkat enam jarinya keatas.
''Enam tahun,'' Bruno menerka.
__ADS_1
Lea menggelengkan kepala.
''Enam bulan?''
Lea mengangguk.
''Oh Tuhan, gadis aneh tadi tinggal saja kau sebut enam bulan apa susahnya sih? Kenapa kau suka sekali bermain tebak-tebakan?'' gerutu Bruno.
Untung saja dia membutuhkan bantuan Lea, kalau tidak gadis ini sudah lama dia kirim ke alam lain.
Bruno mendekati Geoge, dia menarik lengan George sedikit menjauh dari Lea. Tapi, sebelum menjauh dari Lea, Bruno memperingati Lea untuk tidak coba-coba untuk kabur. Bruno juga menunjukkan pistol di tangannya jika dia tidak segan untuk menembak.
Lea, memutar bola mata malas. Dia melipat kedua tangannya sembari mengamati buah anggur yang bisa dimakan, jujur melihat banyak buah anggur bergelantung membuat perut Lea tiba-tiba meronta
''Berarti Robert sudah lama sekali melakukan bisnis ilegalnya.'' bisik Bruno ditelinga George.
''Ya pria itu sangat licik. Sudah berapa nyawa yang dia korban dan wanita itu...?'' George menggeleng. Dia tidak mau menyebutkan nama wanita itu, dia tidak mau Bruno mengetahui hal sebenarnya. Dia juga tidak ingin Bruno bersedih lagi. Sudah, cukup Bruno tahu wanita itu pergi ke California untuk melanjutkan studinya bukan telah...
Melihat gelagat aneh George, Bruno mengerti dia mengenal baik George jika George salah tingkah seperti itu berarti sahabatnya itu tengah menyembunyikan sesuatu dari Dia.
''George, aku harap tidak ada pengkhiatanan diantara kita.''
''Ah...kau suka sekali menuduh.'' bohong George.
''ck,'' Bruno tersenyum sinis.
Kemudian, dia kembali mendekati Lea.
''Katakan kepadaku bagaimana hubungan kau dan Robert.''
Lea, mengernyit.
''Ah, itu maksud saya hubungan kau dan Robert itu contoh saling mencintai, rekan kerja atau lainya?'' Bruno mengangkat kedua bahunya.
Lea, menarik napas dalm-dalam. Dia sedikit memikirkan hal buruk, dia takut Bruno bisa saja membunuh dia jika mengetahui Robert itu pamannya? Tapi, dia sudah bertindak sejauh ini, lebih baik dia jujur daripada terus berbohong semakin membuat dia susah untuk melepas diri dari Bruno.
''Aku keponakannya.'' tegas Lea.
''Ha? Keponakan?'' Dua pria itu kaget mereka tidak percaya tega-teganya Robert menjebak keponakan sendiri.
__ADS_1
''Biasa aja kagetnya, bukanya sejak dulu pun aku sudah bilang begitu?'' Lea menaikkan satu sudut bibir keatas.