Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Hampir saja.


__ADS_3

Wanita paruh baya itu keluar dari dapur dia pun mengikuti kemana Bruno membawa Lea. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dia tidak percaya apa yang barusan dia lihat. Wanita itu, melihat Bruno membawa Lea masuk bersama, ke kamar itu. Dia pikir Lea akan diperkosa tapi dia kembali menggelengkan kepalanya. Selama dia bekerja dirumah Bruno, wanita itu tidak pernah mendengar ada berita miring tentang Bruno, apalagi berita Bruno memperkosa wanita.


"Tidak. Tuan orang baik. Dia menahan Lea mungkin bisa saja gadis itu terlibat kasus." Dia menghentikan bicaranya sebentar.


''Jangan-jangan selama ini dia disini? Anak itu terlibat kasus apa sampai-sampai tuan mengurung dia disini?''Ia membatin lagi.Matanya terus mengawasi pintu dikamar gadis itu. Wanita paruh baya itu pikir mungkin sejak dia pergi orang-orang itu mengusir Lea. Dan gadis itu hidup dijalanan kemudian melakukan kesalahan fatal?


''Dia sudah besar apa dia masih ingat aku?'' Wanita itu menghela napas. Dia tidak dendam kepada Lea, karena waktu dia disekap lalu dibuang jauh dari rumah Lea. Gadis itu masih berusia lima tahun, Lea juga tidak tahu karena malam itu Lea tidur pulas.


Wanita itu tahu Lea tidak bisa mencari keberadaan dirinya. Karena, pasti ketiga pria tua yang tidak tahu malu itu sudah menghasut Lea yang tidak-tidak.


''Mungkinkah, bubur dan soup buatan aku tadi pagi itu Bruno bawakan untuk Lea?'' Akhirnya air mata yang sedari ia tahan jatuh membasahi pipinya. Wanita menyeka air mata dengan tangan nya. Kemudian, ia bergegas pergi dari kamar Lea. Ia kembali bekerja sebelum Bruno melihat keberadaan dia disekitar kamar Lea.


🖤🖤🖤🖤🖤


Bruno menarik Lea masuk ke kamar, ''Kau tetap disini. Jangan berusaha untuk kabur atau keluar dari kamar ini, aku mohon.'' Bruno menatap dalam wajah Lea.


Gadis itu tidak menjawab, dia hanya diam. Lea tadi berpikir setelah dia sudah membantu Bruno menangkap Robert, bisa melunakkan hati Bruno ternyata Lea salah.


''Kau, tidak menyiksa aku lagi kan? Kau akan memberi aku makan dan minum lagi,'kan?'' Pertanyaan bodoh itu keluar dari mulutnya. Keduanya duduk ditepi ranjang.


''Aku tidak akan menghukum kau.Jika kau jadi gadis yang baik.'' Tangan pria itu tiba-tiba sudah berada diatas kepala Lea. Dia mengusap rambut Lea lembut, ''Aku punya ide sebaiknya kau menyulam saja dikamar sini untuk mengusir kejenuhanmu.'' suaranya lembut.


Lea menyingkirkan tangan Bruno, Dia berjalan mendekati jendela matanya melihat kearah lautan. Bruno mengikuti Lea dari belakang.

__ADS_1


''Bagaimana, kau setuju?'' tawar Bruno lagi.


Lea membalikkan tubuhnya dia ingin menatap Bruno tapi semua diluar dugaan Lea dan Bruno. Mereka bertabrakan, dengan cepat Bruno menangkap lengan atas Lea untuk mencegah Lea tidak jatuh. Namun, bola mata coklat milik Bruno menatap dalam manik mata kehijauan milik Lea.


Bruno menunduk semakin dekat, manik kehijauan itu begitu lembut, cerah dan tidak menolak. Bruno mendekatkan bibirnya semakin dekat dengan bibir Lea, sialnya Lea tidak menolak gadis itu menyambutnya, bibirnya terbuka dan tidak ada penolakan. Bruno semakin mendekat dia sangat menginginkan gadis itu, ya Bruno menginginkan Lea Andrea.


Oh Bruno jangan lupa, Lea keponakan dari Robert musuhmu yang dengan tega membunuh kekasih mu Sandra secara sadis. Jangan melupakan itu Bruno!


Pamannya itu sama sekali tidak bermoral, pengkhianat dan pembunuh berdarah dingin. Sadar, dia hampir melakukan kesalahan. Bruno dengan cepat mendorong tubuh Lea menjauhi dia. Bruno melangkah menuju pintu, meninggalkan Lea yang masih terpaku didekat jendela, "Maaf aku janji tidak akan mengulangnya lagi," gumamnya pelan tapi masih didengar Lea.


Bruno mengumpat, tangannya menutup pintu dengan kasar, dia menarik napas panjang, sebelum memutar kunci pintu lagi. Bruno menggelengkan kepalanya dia hampir saja melakukan kesalahan fatal. Dulu bersama Sandra, dia tidak menginginkan seperti tadi hingga hampir saja Bruno melupakan tujuan utamanya saat ini. Bruno menuruni anak tanggga dia harus bertemu George dan mengintrograsi Robert.


''Fokus Bruno, jangan tergoda dengan seorang Lea, ingat kekasihmu Sandra.'' Bruno mengusap wajahnya dengan kasar.


Lea masih syok dia tadi hampir saja dicium Bruno. Dia menyentuh bibirnya, lengan dan lehernya. Semua yang tadi disentuh Bruno, yang terkena hembusan napas kasar dari Bruno. Lea tersenyum.


Kriuk...


Lea menekan perutnya. Dia melihat kearah nakas ternyata teko dan cangkir masih ada berarti teh panas tadi pagi belum dikembalikan ke dapur. Lea bangun, dia berjalan ke arah nakas. Dia menarik kursi, lalu mendudukkan tubuhnya dikursi itu. Lea menuangkan teh yang sudah dingin itu ke cangkir.


Lea menyesap teh itu, ''Enak bangat meskipun tehnya sudah dingin.'' Lea tersenyum. Memang tidak senikmat teh baru seduh tapi setidaknya bisa untuk melegakan tenggorokan dan menahan lapar. Karena, dia tau Bruno pasti melupakan dia yang berada dikamar ini.


♥️♥️♥️♥️

__ADS_1


Bruno sudah berada di ruangannya. Disana Robert sudah dikurung diruangan kecil dengan pintu trali besi.


''Kau lama sekali,'' George menyambut Bruno.


''Jangan bilang kau habis ehem.'' George tidak melanjutkan pembicaraannya. Dia melirik Robert dengan ekor matanya.


''Kau ada-ada saja.'' Bruno menepuk bahu George.


Sahabatnya itu memang otak mesum. Padahal Bruno berani jamin George sama sekali belum memiliki kekasih.


Bruno mengambil ranselnya yang tadi George meletakkan diatas nakas. Bruno, gemetaran bukan karena takut dengan tatapan Robert. Tapi, dia tidak sanggup melihat foto sang kekasih.


Bruno meoangkah mendekati trali besi itu. Dia berdiri dari luar, "Kata,'kan dengan jujur kenapa, dan kapan kau melakukan pembunuhan kepada Nona Sandra?" Bruno tidak menatap Robert dia menatap ke samping. Sumpah matanya sangat panas ketika mulutnya menyebut 'pembunuhan pada Sandra.'


Robert tersenyum sembari menaikkan sudut bibir atasnya. Dia melirik Bruno, sengaja Robert mengulur waktu. Jarum jam terus berputar sudah sepuluh menit Bruno menunggu jawaban dari Robert.


"Katakan!" Suara Bruno naik satu oktaf. Dia meremas map itu hingga kusut. Foto Sandra yang tengkurap ditepi laut jatuh dilantai. George datang dia berjongkok mengambil foto Sandra lalu memberikan untuk Bruno


Hatinya sakit seperti dihujam beribu-ribu paku. Ia meremas map itu dengan menggigit bibir bawahnya menahan sakit yang tidak bisa ia tunjukkan kepada dunia sekalipun.


"Apa kau tidak dengar apa yang aku tanyakan?" Bruno menatap tajam Robert. Dia mengambil pistolnya dipinggangnya lalu menodongkan dikepala Robert.


"Katakan," perintah nya.

__ADS_1


"Kau mau aku jawab jujur atau berbohong?" Robert menaikkan sudut bibir atasnya.


"Aku tidak suka berbelit-belit, katakan siapa yang membunuh kekasihku SANDRA," bentak Bruno. Kali ini bukan hanya foto yang jatuh tapi map dan berkas-berkas itu pun sudah jatuh di lantai. Bruno sudah menarik pelatuk tinggal melepaskan saja.


__ADS_2