Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
kesalah pahaman?


__ADS_3

Lea bangun dari ranjang dia duduk ditepi ranjang sedikit menjauh dari Bruno. Ia takut melihat wajah Bruno, saat ini wajah Bruno sangat dingin dan menakutkan. Lea perlahan menurunkan kakinya diatas lantai kamar, dia melangkah mundur satu langkah mendekat dinding.


Bruno tersenyum, dia akhirnya berhasil menakutkan Lea. Tapi, tujuan dia bukan untuk menakut-nakuti Lea, pria itu ingin mengintrogasi Lea.


Lea ketakutan ketika Bruno semakin mendekati dia. Dia gadis perawan tentu begitu frustasi jika terus didekati pria, apalagi hanya mereka berdua dikamar itu saja, belum lagi wajah Bruno sulit ditebak.


''Apa kau punya senjata?'' Bruno meletakkan kedua tangan disisi kiri-kanan Lea, dia mengunci tubuh kecil itu di dinding kamar itu.


Lea, menunduk takut, dia tidak ingin menatap Bruno, '' Apa kau punya telinga?'' Bruno menggertakkan giginya. Bruno berpikir lebih baik dia yang mengintrogasi Lea dari pada Lea dibawa ke rumah tuan Bos.


Lea hanya mengangguk takut.


''Lalu, mengapa kau diam? Jawab aku, apa kau punya senjata selain pistol buntutmu yang kemarin aku sita? Aku tidak akan bersikap lebih baik jika aku, tahu kau menyembunyikan senjata selain yang kemarin.'' Bruno, mengangkat paksa wajah Lea. Dia memaksa Lea menatap wajah dinginnya.


Lea, menggelengkan kepala dengan cepat, tangan kanan menarik tali yang mengikat pergelangan tangan kirinya. Dia ingin menjauhkan diri dari Bruno.


"Aku, tidak menyukai hal itu!" bentak Bruno, ya pria itu tidak suka melihat reaksi Lea, berusaha menghindari dia. Bruno memejamkan matanya, lalu tangan kokohnya menarik bahu Lea, dia memaksa Lea tetap berada dalam Kungkungannya. Bruno berusaha mengintrogasi Lea dengan sopan, dia tidak ingin kurang ajar. Bruno mengusap kasar wajahnya jujur dia tidak ingin, ya tidak ingin melihat gadis ini menutup mata penuh ketakutan, dan pasrah.


Bruno pikir Lea bisa bertindak jahat, jika benar wanita yang tadi dia lihat sedang berbincang dengan Robert tadi itu benar Lea. Ya sepuluh tahun bekerja sebagai detektif dia hapal benar cara licik seorang musuh dan mata-mata.


Bruno berharap Lea ingin bekerja sama dan mengatakan jujur kepada dia. Karena, jika dia dibawa ke rumah tuan bos, maka Lea akan diperlakukan dengan sangat tidak sopan. Sementara, Bruno pria yang di didik di di dalam keluarganya untuk memperlakukan wanita sebagai seorang Putri.Itu yang Bruno, pegang hingga saat ini. Karena itu, Bruno tidak ingin memeriksa tubuh lawan( wanita) tanpa persetujuan, termasuk itu Lea saat ini. Dia tidak ingin jika George, sahabatnya itu datang lalu memaksa menyelidiki Lea tanpa persetujuan Lea dengan tidak bermoral.


"Oh...Lea, dengarkan aku." Bruno mengusap kasar wajahnya.

__ADS_1


Karena, Lea yang masih keras kepala. Bruno beralih ke arah ranjang, dia melihat sebuah tas usang di atas ranjang tertutup dengan bantal. Bruno meraih tas itu, dia segera mengeluarkan seluruh isi tas itu membiarkan berjatuhan diatas ranjang. Bruno memeriksanya dengan seksama, ada beberapa lembar poundsterling dan beberapa koin, ya uang itu yang dikasih Albert untuk Lea kabur. Lea tidak banyak uang seperti orang kaya yang selama ini menjadi target mereka. Beberapa potong pakaian dalam, membuat Bruno berdesis, "Tidak bisakah aku menyimpan ini lebih baik lagi.Ya, setidaknya tidak terlihat seperti sekarang." Bruno memejamkan matanya dia tidak ingin melihat barang pribadi Lea itu.


Tangan Bruno meraih beberapa lembar surat penting bermaterai dan tanda tangan. Bruno membaca semua isi surat penting itu, Bruno mendoangakkan kepala menatap Lea.


Dia tersenyum, lalu memasukkan kembali semua harta terpenting menurut Lea ke dalam tas usang itu. Bruno, dengan sedih memasukkan tas itu ke dalam laci paling bawah nakas.


"Lihat aku letakkan disini. Jangan pernah kau memberikan semua ini kepada mereka yang datang mengincar kau disini." Bruno tiba-tiba berubah jadi lembut.


"Apa semua itu? Bisa kah kau menjelaskan kepadaku?" Bruno terlihat begitu menyesal. Tapi, tunggu dulu dia pikir itu hanya jebakan Lea saja?


"Apa kau tidak bisa membaca? Bukan kah tadi kau melihat semuanya bahkan barang pribadiku pun kau melihat tanpa merasa malu?" Lea berdecih.


Wajah Bruno berkeringat, "Aku bertanya maka kau wajib menjawab. Tidak peduli kau mengalihkan pembicaraan aku!" Bruno lebih baik memarahi Lea disini, ya dikamar sempit ini.


"Seorang apa? penyelundup Ga__ Oh Lea, come on jujur lah." Bruno melirik keluar kamar dia kwatir George mendengar interogasi dia dan Lea. Ternyata tuduhan dia salah, George sama sekali tidak menguping, bahkan pria itu kini sudah mendengkur halus dikamarnya.


Lea mengendikkan bahunya. Dia melirik kearah pergelangan tangannya yang sudah mulai mengeluarkan nanah karena semakin menghitam dan bisa-bisa membusuk karena kerasnya ikatan tali plastik yang sangat keras.


"Oh..ya? Aku berjanji akan melepaskan tali itu.Tapi, kau harus bekerja sama dengan aku." Bruno bergumam, suaranya hampir saja menghilang sembari menghela napas berat.


Lea, mengangguk, "Baiklah, lakukan jika kau masih tetap menganggap aku seperti yang saat ini ada di dalam pikiran kau." Lea pasrah.


"Apa kau tidak keberatan? Maafkan aku." Wajahnya menunduk malu. Sumpah demi apapun, Penyelidikan ini Bruno tidak suka.

__ADS_1


"Tidak!" Lea tersenyum. Sekujur tubuhnya kini tegang. Bruno mulai menyentuh seluruh tubuhnya memeriksa apakah ada senjata yang masih diselipkan di tubuh Lea. Tapi, ternyata semua dugaan Bruno salah.


"Maafkan kelancangan kami. Telah menuduh dan menangkap kau yang bukan target kami. Ternyata Robert begitu pintar memanipulasi nama wanita itu persis dengan namamu dan lucunya semua style berbusana pun semua mengikut style kau. Kau juga tidak memiliki pistol selain pistolmu kemarin. Kau tahu tadi aku hampir gila karena wanita yang menjadi target kami pun berada ditempat yang sama, ya tempat Robert." Bruno menunduk malu. Ini kegagalan yang sangat fatal. Gadis ini hanya ingin pergi dari rumah Robert karena dia tidak ingin menjadi budak uang Robert dan kedua saudaranya.


Lea tersenyum sinis, dia menatap tidak suka kepada Bruno.


"Lalu, apa sekarang aku sudah bisa pergi dari tempat ini? Bukannya urusan aku dan kau sudah selesai? Kau sudah mengintrogasi aku bahkan sudah menyelidiki aku hingga barang pribadi ku semua kau sentuh. Bukan hanya itu saja, lekuk tubuh ku pun kau sentuh tanpa malu. Ahh..aku harap kau tidak memiliki saudari perempuan." Lea seakaan meledek kegagalan Bruno. Tapi, terdengar seperti sebuah kutukan.


"Maafkan aku!" desis Bruno.


Lea ingin menangis ini pertama kali dia di sentuh seperti manusia paling terhina. Seluruh Barcelona bahkan Spanyol tahu, siapa Ayah dan ibunya? Ibunya seorang Chef terkenal yang sering wara-wiri di televisi. Ayahnya? Ahhh... Namun, malam ini derajatnya dijatuhkan seorang detektif tua.


"Sungguh memalukan," Lea menunduk dia menutup wajahnya dengan satu tangannya yang tidak terluka.


Bruno, menunduk sedih, "Tidak! Kau tidak boleh pergi kau tetap disini dan aku masih membutuhkan informasi dari kau. Nyawa kau kini terancam karena kecerobohan aku." Bruno menyesal dia mulai melepas ikatan tali ditangan Lea. Dia mengambil minyak zaitun dan mulai mengolesi bekas luka yang sudah menghitam dan membusuk di pergelangan tangan Lea dengan telaten.


"Argh..pelan.Ini sungguh menyiksa aku!" Lea merintih ketika tangan Bruno menyentuh lukanya sedikit kasar.


"Maaf, tahan sedikit lagi." Bruno mendongakkan kepala menatap Lea, sorot matanya sulit diartikan.


"Jangan berusaha untuk kabur atau meminta tolong." Dia masih meniup bekas luka itu sedikit ada rasa iba terbesit dihatinya.


"Sekuat, apapun aku berusaha dan sekeras apapun aku berteriak, percuma tidak ada yang akan mendengar dan datang menolong aku termasuk para maidmu." Lea menghela napas.

__ADS_1


"Kau benar. Bersabarlah!" Mata Bruno mulai memanas.


__ADS_2