Terjebak Cinta Pria Dingin

Terjebak Cinta Pria Dingin
Terpesona.


__ADS_3

Lea, mengangkat bahunya, dia heran kenapa Bruno tiba-tiba muncul lalu mengatakan ingin mengajak dia pergi? Bruno, pikir pergi bersama dia hanya dengan mantel dan celana yang sudah dua hari tidak pernah diganti?


''Lea, kenapa tadi kau tidak protes? Kenapa diam?'' Lea menggerutu. Dia kembali duduk manis diatas kursi lalu menopang dagunya menikmati lautan indah dibawah sana. Dia mengabaikan perintah Bruno tadi karena kesal dia tidak memiliki pakaian selain yang menempel ditubuhnya.


Ceklek...


''Kau belum siap? Apa kau tidak tahu? Aku sudah menunggu kau lebih dari sepuluh menit diluar sana.'' Bruno meletak'kan satu paperbag diatas tempat tidur. Dia melirik Lea, lalu kmbali meninggalkan Lea.


Sebelum mengunci pintunya Bruno menatap Lea, ''Jika sudah selesai ketuk pintu dua kali biar aku tahu.'' Lalu dengan santainya dia mengunci pintu lagi, meninggalkan Lea sendirian dikamar.


Lea, melirik ke arah paperbag. Dia berdiri tangannya meraih paperbag itu lalu mengeluarkan isi dari paperbag itu. Ada celana panjang jins berwarna abu-abu, mantel berwarna hitam, ada juga topi berwarna hitam.


''Ha? Dia memberikan baju ini? Sebenarnya mau kemana? Dinner, tapi kalo dinnner aku nggak mungkin mengenakkan pakaian seperti ini. Huff.'' Lea melemparkan pakaian itu ke sembarang tempat. Dia ingat tadi kata Bruno setelah mengenakan pakaian ketuk pintu dua kali maka dia akan datang.


Lea, bergegas ke pintu dia mengetuk pintu dua kali. Kemudian Lea kembali ke ranjang dia duduk diatas ranjang dengan wajah cemberut.


Ceklek...

__ADS_1


''Kau sudah---'' Bruno membulatkan matanya ternyata Lea belum mengenakan bajunya." Kau belum siap? Kenapa, mengetuk pintu jika belum mengganti pakaian." Bruno melanjutkan ucapannya, rahangnya mengeras.


"Apa kau tidak lihat? Sebentar, kau mau mengajak aku kemana? Kenapa kau memberiku pakaian aneh seperti ini?'' protes Lea. Dia mengangkat tangannya keatas. Dia mengambil celana dan topi itu lalu menunjukkan didepan Bruno. Bruno mundur satu langkah, dia mengernyit. Bruno sadar dia tidak salah karena dia ingin mengajak Lea pergi, bukan ke party tentunya. Tapi, ke tempat yang dimana kasus ini bisa selesai secepatnya.


''Ya, pakaian seperti itu. Lalu, mengapa kau protes?" Bruno balik bertanya.


"Aku tidak mau, aku maunya gaun yang cantik.Masa gadis secantik diriku mengenakan pakaian seperti ini, aku nggak mau!" Lea masih bersikukuh menolak.


"Gaun? Untuk apa? Aku mau mengajak kau pergi bukan ke pesta. Bukannya tadi kau bilang ingin menikmati dunia bebas, sekarang aku mengajak kau pergi lalu mengapa kau menolak?" Bruno pikir gadis ini cukup licik, dia tidak boleh berkata jujur, lebih baik dia sedikit berbohong kepada Lea.


"Kau terlalu percaya diri." Bruno membanting pintu kamar. kemudian, meninggalkan Lea dengan kesal.


"Aku harus percaya diri, lihat saja kau!" sungut Lea, dia mulai mengenakan pakaian yang dibelikan Bruno. Celana panjang berwarna abu-abu, mantel berwarna hitam, dan topi hitam. Lea membiarkan rambut terurai, bibirnya tidak dipoles apapun karena bibirnya sudah merah alami. Wajahnya yang sudah cantik dari lahir dibiarkan begitu tanpa polesan. Lea, gadis yang tidak tahu berdandan, dia dari usia lima tahun tidak pernah diajarkan menjadi wanita feminim jadi Lea sama sekali tidak paham apa itu make-up.


Lea, berdiri di depan pintu, dia mulai mengetuk pintu, baru saja satu kali ketukan Bruno sudah membuka pintu. Bruno tercengang gadis ini berbeda dari gadis-gadis yang dia temui. Mereka berdandan tapi tidak secantik Lea.


"Paman, hallo?" Lea, melambaikan tangannya didepan Bruno, di menelengkan kepalanya menatap wajah bingung Bruno.

__ADS_1


"Hello...Apa kau baru melihat gadis secantik diriku?" Lea menaikkan satu sudut bibirnya keatas. Tangannya melambai didepan Bruno.


Bruno kaget, dia menggerakkan kepalanya lalu menatap sinis Lea, " Sudah selesai bicaramu?" Bruno menggelengkan kepalanya.


"Ayo, kita berangkat." Bruno mengutuk dirinya kenapa dia kagum dengan gadis yang menjadi target dia. Gadis yang sudah mempermainkan dia. Tangannya menarikmkasar tangan Lea.


"Dari tadi juga aku nungguin," gumam Lea, dia mengikuti langkah Bruno.


"Kau sangat cerewet," sungut Bruno.Ia mengencangkan remasan tangannya dipergelangan tangan Lea.


Keduanya berjalan melewati koridor menuju ruang parkir bawah tanah. Sesampainya diruang parkir bawah tanah, Bruno menatap Lea, "Kau jangan berniat untuk kabur, karena aku jamin jika kau kabur maka jaminan kau untuk hidup tidak ada lagi." ancam Bruno. Ia memberikan helm kepada Lea.


"Ya." Lea memutar bola mata malasnya. Dia menerima helm dari Bruno.


"Pakai helm dengan benar." suruh Bruno. Dia mengenakan helm ke kepalanya.


__ADS_1


__ADS_2